로그인"Lama sekali kamu naik, Rio," bisik Adirah begitu jarak mereka hanya tersisa satu lengan. Ia menerima map dokumen dari tangan Satrio, namun jemari lentiknya sengaja bergesekan lama hingga meraba perlahan permukaan kulit tangan pemuda itu.Aroma parfum floral bercampur kehangatan mistis dari dada Satrio seketika menyerang indra penciuman Adirah, memicu debaran jantung yang kian berpacu liar. Gairah yang tertahan di ulu hati sang sekretaris utama mendadak mencair, meruntuhkan seluruh dinding profesionalisme yang selama bertahun-tahun ia bangun di lantai delapan itu.Adirah melangkah maju tanpa memedulikan batasan, merapatkan tubuh indahnya hingga dada bidang Satrio bergesekan langsung dengan tubuhnya. Tangan kanannya yang sedikit gemetar karena desiran aneh mulai bergerak berani, meraba dada kemeja abu-abu arang Satrio, tepat di mana giok pemikat hasrat itu berada di balik pakaian."Aku hampir gila menunggumu sejak pagi, Rio... Sentuh aku, aku tidak peduli lagi dengan urusan kantor ini,
Belum sempat Satrio melanjutkan pekerjaannya setelah mengantar dokumen di delapan, sesosok pria paruh baya yang merupakan kepala supervisor divisi IT berjalan mendekati kubikelnya dengan langkah yang terburu-buru. Wajah sang supervisor tampak agak tegang, membawa sebuah papan kerja berisi manifes tugas lapangan."Satrio," panggil sang supervisor sambil mengetuk pinggiran pembatas kubikel. "Ini ada instruksi mendesak dari divisi Customer Service di lantai dasar. Bu Selina meminta satu orang dari tim IT untuk turun. Katanya ada pembaruan sistem input data keluhan pelanggan yang harus dipantau secara berkala. Saya lihat jadwalmu hari ini masih longgar, jadi kamu yang turun ke bawah, ya?"Satrio melirik papan kerja yang disodorkan kepadanya. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia. Ia tahu persis ini bukan sekadar urusan pembaruan sistem yang rusak. Ini adalah trik murahan dari Selina. Kepala CS yang posesif itu pasti sudah menyadari bahwa dirinya gagal mencegat Satr
Pagi hari Satrio terbangun dengan kondisi tubuh yang luar biasa bugar. Pancaran energi dari giok di dadanya bekerja dengan sempurna sepanjang malam, memulihkan seluruh stamina yang sempat terkuras setelah pergumulan panasnya bersama Maya di basemen kantor Shine Group kemarin sore.Satrio bersiap-siap pergi ke kantor mengenakan kemeja slim-fit berwarna abu-abu arang yang membungkus sempurna lekuk tubuh atletisnya. Tanpa kacamata tebal yang dulu selalu membingkai wajahnya, ketampanan aslinya kini terpancar seutuhnya, memancarkan wibawa maskulin yang sangat kuat. Ia mengendarai sedan hitam mewah pinjaman dari Pak Aizar, membelah jalanan kota yang mulai padat menuju gedung perkantoran Shine Group.Sesampainya di kantor ia masuk melalui tangga darurat parkiran, menghindari pertemuan dengan Selina. Ia langsung menuju kubikel kerjanya di divisi IT lantai lima, suasana kantor masih relatif sepi. Beberapa karyawan baru saja datang dan mulai menyalakan komputer mereka. Satrio meletakkan tasnya
Perhatian Satrio seketika tertuju ke arah teras rumah utama yang dihuni oleh sang pemilik kos. Di sana, di bawah temaramnya cahaya lampu neon yang berwarna kuning hangat, Tante Inet berdiri bersandar pada tiang teras sambil melipat kedua tangan di bawah dada. Pose tubuhnya yang santai namun menantang itu seketika menonjolkan lekuk tubuh matangnya yang berbalut daster satin hitam tipis.Tante Inet memberikan tatapan mata yang sarat akan makna kepada Satrio. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan godaan tersungging di bibirnya yang kemerahan, menyambut kedatangan Satrio yang baru saja tiba di rumah kosan itu. "Baru pulang, Rio? Agak malam hari ini pulangnya?" sapa Tante Inet dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mengalun manja di kesunyian malam. Ia melangkah turun dari teras, mendekati pembatas halaman yang memisahkan area rumah utama dengan koridor kamar-kamar kos.Satrio menghentikan langkahnya, "Iya, Tante. Tadi ada beberapa urusan pekerjaan di kantor Shine Group yang tidak bi
Ketika pintu darurat basemen dibuka, hawa pengap dan sunyi langsung menyambut kedatangan Selina. Matanya yang tajam segera menyapu ke seluruh sudut area parkir yang remang-remang, menyusuri deretan kendaraan yang tersisa.Langkah kaki Selina melambat, namun ketukannya tetap terdengar tegas di atas lantai semen yang dingin. Setelah berjalan beberapa meter menuju blok khusus direksi, langkah Selina mendadak terhenti.Matanya melebar penuh kemenangan bercampur kejengkelan saat melihat mobil sedan hitam mewah milik Satrio ternyata masih ada di sana, terparkir rapi di bawah keremangan cahaya lampu.Ia mulai melangkah perlahan mendekati area sekitar mobil itu, sambil memicingkan mata, “Kemana dia pergi?” pikir Selina penuh tanya.Sementara itu, di dalam mobil sedan hitam yang gelap dan kedap suara, keintiman antara Satrio dan Maya telah bergolak hebat dan semakin mendekati puncak kenikmatan yang mereka reguk.Maya sudah sepenuhnya menyerahkan seluruh tubuhnya, mulai melenguh pasrah dalam ku
Suasana di dalam sedan hitam itu semakin memanas, bertolak belakang dengan embusan AC yang berdesis dingin. Ciuman liar Maya yang menuntut kepastian fisik membuat gairah muda Satrio menyala hebat. Cengkeraman tangan Satrio pada pinggang ramping Maya semakin mengerat, mengangkat tubuh eksotis staf keuangan itu dengan mudah agar berpindah posisi sepenuhnya ke atas pangkuannya."Ahhh... Rio..." lenguh Maya parau di sela-sela pagutan mereka yang basah dan dalam.Tubuh sawo matangnya yang berbalut blus kerja tipis kini bergesekan langsung dengan kemeja biru dongker Satrio. Aroma parfum rempah manis dari tubuh Maya bercampur dengan wangi mawar gaib dari kulit Satrio, menciptakan kombinasi sensual yang mengaburkan kesadaran.Satrio tidak memberikan celah bagi Maya untuk menarik napas. Sebagai pria yang kini memegang kendali atas gairah wanita, ia memimpin ritme pergumulan itu dengan sangat agresif. Tangan kokoh Satrio mulai bergerak liar, menyusuri lekuk pinggul Maya yang kencang, lalu naik







