"Halo, Bude, ini Adrian.""Halo, Rian. Apa kabar, Nak?""Sehat, Bude dan bapak gimana?""Alhamdulillah kami sehat. Cuma ... " terdengar suara kresek-kresek di seberang panggilan."Halo, Adrian. Bisa Bapak video call dengan Kia. Bapak kangen sama anak dan cucu Bapak." Adrian menelan ludah. Ia bingung harus jujur pada ayah mertuanya atau tidak. Jika tidak, maka ia pun akan terus dihubungin untuk bertanya tentang Kia dan putra mereka."Adrian, bisa Bapak video call?""Pak, Adrian lagi di luar. Kia sedang hak di rumah. Udah tiga hari Kia pergi. Katanya ke rumah temannya. Entahlah, Pak. Adrian rasa, Kia punya selingkuhan."Hening sesaat."Hah, Kia punya selingkuhan? Gak mungkin, Rian. Bapak tahu sekali anak Bapak." Suara tua itu terdengar bergetar menahan tangis."Tapi sepertinya begitu, Pak. Kia pergi membawa Hakim sampai sekarang gak tahu di mana. Rian udah coba cari di rumah sakit arau dibeberapa teman lama kami, tapi gak ada yang lihat Kia. Aku juga udah lapor polisi, Pak. Tapi belum
Read more