Sementara itu, saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, motor Om Budi berhenti di depan kos miliknya. Ia turun dari motornya lalu memarkirkannya seperti biasa di bawah pohon mangga depan kos. Mesin dimatikan, helm dilepas, kemudian pria itu berjalan santai menuju teras. Ia duduk di kursi panjang sambil memainkan ponselnya sekilas. Matanya sesekali melirik ke arah deretan kamar kos. Vella yang memintanya datang belum keluar. Entah ada urusan apa, gadis itu menghubunginya. Tak lama kemudian, suara terdengar dari arah lorong kos. “Eh, Om… ada yang bocor lagi ya?” Seorang gadis muncul sambil membawa tas kecil di bahunya. Rambutnya diikat ekor kuda, wajahnya tampak segar dengan riasan tipis. Dialah Livi, salah satu penghuni kos yang sudah cukup akrab dengan Om Budi. Om Budi menoleh lalu tersenyum ramah, senyum yang selalu membuat dirinya terlihat seperti pria matang yang baik hati dan membuat siapapun percaya. “Oh, nggak, mbak,” jawabnya santai. “Cuma mau ketemu Vella.”
続きを読む