LOGINHari-hari berlalu setelah kejadian malam itu.
Aya mulai kembali aktif menjalani kehidupan kampus setelah masa ospek yang melelahkan selesai. Namun sejak malam itu, sikapnya terhadap Yongki berubah drastis. Gadis itu mulai menjaga jarak dan berusaha menghindari pria tersebut sebisa mungkin. Bahkan mengabaikannya pesan dan panggilannya. Siang itu. Aya duduk santai di taman kampus bersama Dea dan LSementara di tempat lain, di rumah Om Budi sendiri. Aya sedang belajar di kamarnya. Gadis itu duduk di meja belajar yang menghadap ke dinding. Buku pelajaran terbuka di hadapannya. Ia membaca paragraf demi paragraf, lalu mencatat poin-poin penting ke dalam buku catatannya. Mbak Mirna sudah pulang setengah jam yang lalu. Sebelum pulang, ia membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam. Sekarang rumah hanya berisi Aya di kamarnya, serta Diana dan Andri yang entah sedang apa. Aya terlihat serius menulis. Pulpen di tangannya bergerak di atas kertas. Tiba-tiba suara Diana terdengar dari kejauhan. "Mas, jangan di sini..." Suaranya terdengar mendesah. Bukan desahan biasa. Ada nada cemas bercampur sesuatu yang tidak Aya kenali. Aya berhenti menulis. Ia menoleh ke arah pintu kamarnya yang memang tidak tertutup
Om Budi mengangguk. Ia memegang batangnya dengan telapak tangan, lalu mengarahkannya tepat ke liang Ririn yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang terawat. Tangan kirinya menggenggam pinggul wanita itu agar tidak bergerak mundur. Saat ia menekan sedikit, kepala batangnya mulai masuk. Ririn langsung mengerutkan dahi. Bibir bawahnya menggigit bibir atas. Matanya terpejam rapat. "Ahh..." desahnya pendek. Baru bagian kepalanya saja yang masuk, Ririn sudah merasakan regangan di sekitar mulut jalannya. Perutnya naik turun cepat seperti menahan letupan yang ingin keluar. Kedua tangannya mencengkeram sprei di kiri dan kanan tubuhnya. Om Budi berhenti sejenak. Ia memperhatikan wajah Ririn. "Rileks ya." Ririn mengangguk pelan. Matanya masih belum berani membuka. Om Budi mendorong sedikit lagi.
Bidan Ririn hanya mengangguk. Napasnya mulai memburu. Tubuhnya terasa semakin lemas, bahkan kedua kakinya nyaris kehilangan tenaga untuk berdiri tegak. Tangan Om Budi mulai membuka kancing bajunya satu per satu. Setelah kancing terakhir terbuka, ia menarik kain itu dari bahu Ririn. Tak lama kemudian, baju tersebut terlepas dan jatuh ke lantai. Kini hanya bra putih yang tersisa di tubuh Bidan Ririn. Payudaranya tampak menekan kain bra, tetapi Ririn tidak berusaha menutupinya. Om Budi menatapnya selama beberapa detik. Sementara itu, Bidan Ririn hanya berdiri di tempat dengan napas yang masih belum teratur. Wajahnya terasa panas, tetapi ia tetap diam tanpa berusaha menutupi dirinya. Bibir Om Budi kembali mengecup lehernya, lalu bergerak turun ke tulang selangka. Tangannya menyusuri punggung Ririn, mencari kaitan bra yang dikenakannya. Sekali jentikan, kaitan itu terlepas. Om Budi menarik tali bra dari b
Om Budi menatap wanita itu sekali lagi untuk memastikan kesungguhannya. Namun Bidan Ririn malah membalas tatapan itu lebih berani. Ia tidak menghindar, tidak menjauh. Bibirnya yang merekah terbuka seperti menunggu untuk di lumat. Om Budi tidak bisa diam diri lagi, sedari tadi hasratnya sudah teruski. Tanpa bicara, ia langsung melumat bibir Bidan Ririn. Awalnya lembut, namun tak lama ciumannya berubah liar. Bibir bawah wanita itu ia kecup ia gigit, lalu bibir atasnya. Bidan Ririn tidak langsung membalas. Matanya terpejam sesaat. Jantungnya berdegup kencang. Sudah sangat lama ia tidak merasakan ciuman laki-laki sejak suaminya meninggal. Perasaan gugup, kaget, dan rindu bercampur jadi
Sementara itu, Om Budi sudah duduk di ruang tamu rumah bidan Ririn. Di depannya, Bidan muda itu duduk dengan wajah yang masih terlihat sedikit gelisah. "Jadi begitu, Om. Saya nggak mau punya utang apa pun. Kalau Om nggak keberatan, saya mau kasih sertifikat rumah ini." Om Budi tersenyum kecil. "Saya sih sebenarnya nggak mempermasalahkan soal jaminan, Bu Bidan. Saya bisa bantu saja sudah senang." "Tapi saya tetap kepikiran, Om." Om Budi meraih gelas kopinya lalu meneguknya pelan. Sesaat matanya melirik ke arah Bidan Ririn. Entah kenapa, wanita itu terlihat semakin menarik di matanya. Mungkin karena selama ini ia terlalu sibuk dengan gadis-gadis muda atau mungkin karena kini ia mulai sering berinteraksi dengan wanita itu. Padahal sebenarnya, kalau mau, ia bisa saja mengambil rumah tersebut lalu menjualnya kepada Andri. Namun ia tidak tega melihat Bidan Ririn kehilangan satu-satunya rumah yang masih dimilikinya. Ia meletakkan kembali gelas kopinya di atas meja. "Saya in
Pagi harinya, Om Budi dan Andri berhenti di depan sebuah rumah yang berada tidak jauh dari kediaman om Budi. Rumah itu cukup besar, halaman depannya luas, dan bangunannya masih terlihat kokoh meski sudah beberapa tahun ditempati pemilik sebelumnya. Om Budi turun dari motornya lebih dulu. "Nah, ini salah satu rumah yang semalem Om ceritain." Andri ikut turun lalu memperhatikan rumah itu sekilas. Lumayan. Bahkan kalau dipikir-pikir, rumah itu jauh lebih baik daripada yang ia bayangkan. Namun entah kenapa, justru itu yang membuatnya tidak nyaman. Kalau rumahnya cocok, berarti ia dan Diana bisa segera pindah. Artinya, ia juga harus menjauh dari Aya. Om Budi berjalan masuk ke halaman sambil menunjuk beberapa bagian rumah. "Halamannya luas. Bangunannya juga m