“Rose! Kamu baik-baik saja?” Alan langsung menghampiri Rose, menatapnya penuh kekhawatiran. “Maafkan aku, aku tidak waspada sampai kamu harus membantu—”“Sudahlah, Alan. Tidak apa-apa,” ucap Rose yang baru saja beranjak duduk. Dia menepuk-nepuk pundak Alan pelan, menambahkan, “Aku tadi refleks melakukannya. Karena aku tak mau kehilangan teman baruku.”Alan tertegun mendengarnya. Dia menundukkan kepala, merasa bersalah karena Rose harus berhadapan dengan orang yang terinfeksi demi dirinya. “Kamu benar-benar tidak apa-apa?” tanya Alan, mulai memperhatikan kondisi tubuh Rose, “katakan padaku, apa orang tadi menggigitmu? Atau mulutnya menyentuh kulitmu?”Rose menggeleng. “Tidak. Dia belum sempat melukaiku karena kamu sudah membunuhnya lebih dulu. Terima kasih.”“Ah, aku yang harusnya terima kasih,” ujar Alan, tersipu malu, “untunglah dia tidak menggigitmu. Karena penularan virus Dextron yang paling utama adalah lewat air liur.”“Oh, jadi itulah mengapa saat wabah pertama kali muncu
Baca selengkapnya