แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Kak Gojo
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-08 11:33:53

Wajah Karina yang tadinya merah karena malu, mendadak berubah jadi senyum menyeringai yang licik. Dia melipat tangan di dada, membuat tank top ketat yang dipakainya semakin menjiplak bentuk tubuhnya yang sintal.

Mataku yang nakal refleks melirik ke dadanya sebentar, lalu kembali menatap matanya dengan panik.

"N-nggak, Kar! Sumpah, Mas nggak ngintip!" elakku dengan suara bergetar, mencoba memasang wajah tak bersalah terbaikku. "Tadi Mas cuma mau panggil kamu makan. Terus... terus Mas nggak sengaja injak si Jeno, jadi refleks teriak."

Karina melangkah maju satu tapak, membuatku refleks mundur. Aroma tubuhnya yang khas— campuran bedak beraroma mawar dan keringat tipis karena aktifitasnya tadi– menusuk hidungku, membuat si Lukman di bawah sana semakin memberontak.

"Masa sih?" godanya dengan senyum nakal. "Tapi kok Mas Argus kelihatan panik dan kenapa napasnya jadi buru-buru begini, hm?"

Dia mengulurkan tangannya, jari-jarinya yang lentik menyentuh dada bidangku, mengelusnya perlahan. Jantungku rasanya mau copot, bukan karena takut, tapi karena sensasi setruman yang menjalar ke seluruh tubuh.

"Duh, Kar... jangan begini, nanti Papa Mamamu lihat,” bisikku panik, tapi anehnya tubuhku tidak bergeming sedikit pun.

“Papa Mama bukannya lagi di bawah? Hmm, kalau Mas Argus nggak ngaku, aku bakal teriak kalau Mas Argus coba... macam-macam sama aku," ancamnya sambil mengerlingkan mata nakal.

Aku bingung mau menjawab apa. Masa iya aku mengaku mengintip sih?

"Jadi... Mas Argus pilih mana? Ngaku kalau tadi ngintipin aku atau aku teriak sekarang juga?” tanyanya lagi, tangannya kini mulai turun ke perutku, membuatku merinding disko.

Aku benar-benar terpojok.

Di satu sisi, kalau Karina sampai melapor dan memfitnahku macam-macam, Paman Karyo pasti bakal naik pitam dan langsung menendangku keluar dari rumah ini. Tapi di sisi lain, kalau aku mengaku, hancur sudah harga diriku sebagai abang sepupu yang harusnya jadi panutan.

Setelah bergulat dengan pikiran sendiri, akhirnya aku menyerah. "O-oke, oke, Kar! Mas ngaku..." pasrahku dengan suara parau. "Tadi... Mas nggak sengaja lihat kamu lagi... begituan."

Setelah mendengar pengakuanku, Karina mendekatkan wajahnya ke telingaku, hembusan napasnya bikin merinding. "Kalau gitu... Mas Argus harus bayar pajak ngintip nanti malam, ya? Di kamarku... jam dua pagi. Jangan telat!"

Aku langsung menoleh dengan raut wajah melongo, antara syok dan gagal paham.

"Jam dua pagi ya, Mas. Jangan lupa!" bisiknya lagi.

Karina pun menjauhkan tubuhnya, lalu masuk kembali ke kamar untuk merapikan penampilannya yang berantakan dengan gerakan santai.

Aku hanya bisa berdiri mematung di depan pintu, memandangi punggungnya dengan otak yang mendadak korslet.

"Ayo turun, kasihan yang lain nunggu lama," ajaknya dengan nada suara yang tiba-tiba berubah normal, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Emm, anu... Mas mau panggil Novaria juga," ujarku sembari melirik ke kamar Novaria, tepat di sebelah kamar Karina.

"Aiss, biarin aja. Nanti juga anak itu turun sendiri kalau kelaparan. Sudah, ayo turun!"

Aku pun mengekor di belakangnya dengan langkah gontai.

Si Lukman? Jangan tanya. Dia seperti habis naik roller coaster tanpa sabuk pengaman; tegang bukan main tapi bingung harus mendarat di mana.

Begitu sampai di meja makan, suasana makin canggung saja. Dinginnya melebihi kulkas dua pintu.

"Lama sekali panggil Karina saja, Gus?" tanya Paman Karyo dengan suara berat. "Mana Nova?"

"I-itu, Paman..." Baru saja aku mau bicara, Karina sudah menyambar duluan.

"Nova belum mau turun, Pa," sela Karina santai. “Katanya belum laper.”

Aku langsung meliriknya.

Gila, Karina lihai sekali berbohong!

Padahal kami sama sekali belum mengetuk pintu kamar Novaria.

Karina dengan tenangnya duduk di samping Mbak Masha dan mulai mengambil lauk. Paman Karyo hanya mengangguk pelan.

“Ya sudahlah, kita langsung makan saja,” ajaknya, meninggalkan Novaria yang malang sendirian di atas.

"Makan yang banyak, Gus. Biar badan kamu makin berisi," celetuk Tante Miya tiba-tiba. Tangannya di bawah meja— yang kebetulan duduk di sampingku— mengusap lututku dengan sengaja.

Gila. Benar-benar gila!

Di samping, disenggol Tante Miya, di seberang meja ada Mbak Masha yang menatapku tajam penuh arti, membuatku gugup dan canggung.

Aku akhirnya memilih menunduk, fokus pada nasi dan ayam goreng di piring. Rasanya hambar seperti mengunyah karet. Pikiranku sudah melayang ke jam dua pagi. Apa yang akan dilakukan Karina padaku nanti?

Tiba-tiba, KLANG!

Paman Karyo meletakkan sendoknya. Suara denting logam itu terdengar mengerikan di telingaku.

"Argus, hari Senin nanti kamu nggak usah ke kantor ya. Berhenti saja,” ucapnya. Nadanya tegas. Tidak memberi ruang bantahan.

JEDERRRR!

Rasanya ada petir menyambar tepat di atas kepalaku.

Waduh, apa-apaan ini?! Kenapa Paman Karyo tiba-tiba bilang begitu? Kenapa dia menyuruhku berhenti? Logikaku mendadak macet. Padahal dia yang memasukkanku lewat jalur orang dalam, masa sekarang dia pula yang menyuruhku berhenti bekerja?

Atau jangan-jangan... dia sudah tahu sesuatu? Apa dia tahu kalau aku sudah meremas bukit istrinya dan memamerkan si Lukman di depan anak pertamanya?

Matilah aku! Kalau sampai benar begitu, aku bukan cuma didepak dari rumah mewah ini, tapi bisa-bisa langsung diseret ke kantor polisi dengan tuduhan pelecehan.

Habislah riwayatku!

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (3)
goodnovel comment avatar
Eko Eko
ceritanya bagus
goodnovel comment avatar
bob
...... deg deg an
goodnovel comment avatar
Hyde Nokia
aaccchhhhhhh jd pengen juga, tegang nich.... buat cewek-cewek. Add Tele aku ya sayang ini id aku @OrgB16
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 478

    Melihat Ipul yang panik sampai tergagap-gagap, sosok roh itu tersenyum lembut. Dia melayang mendekati Ipul.Setiap kali sosok itu mendekat, hawa dingin yang menyejukkan mengalir ke tubuh Ipul. Perlahan hawa itu meredakan rasa sakit di tulang-tulangnya serta menenangkan jantungnya yang berdegup kencang."Tenanglah, Ipul. Jangan takut," ucap roh sungai itu dengan nada yang sangat lembut, bagaikan usapan seorang ibu. "Aku bukan hantu yang akan menyakitimu. Aku adalah penjaga aliran sungai ini. Rasa sakit di tubuhmu... biarlah hawa sejuk ini meredakannya sejenak."Ipul yang tadinya memejamkan mata sambil pasrah, perlahan memberanikan diri mengintip. Hawa hangat dan tenang benar-benar menjalar di dadanya, membuat rasa takutnya berangsur melamun."Kamu... tahu namaku?" Ipul masih agak gemetar.Roh itu mengangguk. "Aku menyaksikan semuanya. Penderitaanmu, kemalanganmu, hingga kesucian hatimu saat kau tidak menanam dendam busuk meski dihancurkan. Karena itulah, air sungai membawamu ke si

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 477

    "Peduli setan! Biar saja mati sekalian, ngurang-ngurangin beban kampung!" kata Rano.Dia berdiri menepuk-nepuk tangannya yang kotor lalu meludahi aliran air tempat darah Ipul membekas. "Tapi kalau jasadnya ditemuin warga gimana? Kita bisa disalahin, Mas..." Wiwit memegang lengan Rano erat-erat. "Halah, kamu ini penakut amat sih, Wit!" bentak Rano sambil mendelik. "Memangnya siapa yang mau nyalahin kita? Nggak ada orang lain di sini selain kita berdua. Kalau ada yang nanya, bilang aja si Ipul itu terpeleset sendiri pas mandi, terus tenggelam. Beres, kan?""Tapi, Mas—""Udah, nurut saja!" Rano memotong cepat, lalu mencengkeram bahu Wiwit dengan agak kasar. "Sekarang kamu cepat rapihin baju kamu! Kita jalan lewat jalan setapak di atas. Jangan sampai ada warga yang lihat kita keluar dari area air terjun barengan. Paham?!"Wiwit menelan ludah. Hatinya sangat cemas dan bersalah menatap air sungai yang tenang, membayangkan nasib Ipul yang terbawa arus entah ke mana.Namun, melihat sorot

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 476

    "Ahh, geli! Jangan terlalu dalam, Mas!""Nggak bisa.. Goa kamu bikin aku kecanduan, Dek. Tak masukin lebih dalam, ya.."Suara desahan itu didengar samar oleh Ipul di antara gemuruh air terjun.Siang itu, dia pulang lebih cepat dari lokasi proyek bangunan tempatnya nguli.Karena cuaca desa Sukaturu sedang terik-teriknya, dia pun memutuskan untuk berendam di sungai.Kebetulan sungai ini memang menjadi tempat favorit warga dan biasanya akan ramai kalau pagi atau menjelang petang. Saking gerahnya, Ipul sengaja menyelam agak lama ke bagian air yang lebih dalam.Namun, siapa sangka, begitu kepalanya muncul membelah permukaan air, matanya langsung disuguhi pemandangan luar biasa.Di atas batu besar dekat tepian, dia melihat Wiwit— janda kembang desa yang sudah setahun ditinggal mati suaminya— sedang menjengking membelakangi Rano, pria beristri yang terkenal galak di kampung.Saat itu Wiwit yang memakai kemben dan kain jarik tampak begitu menggoda. Ekspresinya berubah-ubah seirama dengan ger

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 475

    Masha masuk sambil melirik kami bergantian. Dia kemudian menatap bayi yang masih berada dalam pelukanku.“Kalian lagi debat nama bayi, ya?”“Iya,” jawab Miya. “Argus ngusulin nama Sugeng.”Masha langsung berhenti melangkah. “Sugeng?”Aku mengangkat dagu. “Kenapa? Bagus, kan?”“Bagus kalau buat nama bapaknya,” jawab Masha santai. “Bukan buat bayi kalian!”Giliran Miya yang ketawa, sedangkan aku hanya bisa mendengus.“Ya udah, daripada kalian ribut terus, gimana kalau Lucas?” usul Masha. “Lucas dari bahasa Latin, artinya pembawa cahaya.”Aku melirik Miya, meminta pendapatnya.Miya langsung mengangguk. “Lucas... aku suka. Kedengarannya bagus, modern, dan cocok buat anak laki-laki. Kesannya macho gitu.”Aku mengulang nama itu dalam hati sambil melihat bayi dalam pelukanku.“Lucas,” gumamku. “Gimana, Nak? Kamu suka nama itu?”Tentu saja dia tidak menjawab. Dia hanya bergerak sedikit sebelum kembali tenang.Miya tersenyum, lalu menatapku. “Jadi, kita sepakat pakai nama Lucas?”Aku menganggu

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 474

    Aku tidak langsung menjawab Miya. Pandanganku tertuju pada bayi mungil yang terbaring di sampingnya.“Itu... anak kita?”Miya mengangguk pelan. “Iya, Gus. Ini anak kita.”Aku terdiam sesaat. Rasanya masih sulit percaya bahwa bayi kami sudah lahir. Kepalaku masih terasa berat setelah pingsan tadi, sampai-sampai aku sempat berpikir kalau semua ini cuma mimpi.“Dia... sudah lahir rupanya.”Miya tersenyum tipis. “Iya, Gus. Anak kita udah lahir.”Aku pun menunduk hendak melihat wajahnya lebih jelas. Bayi itu menggeliat kecil. Bibirnya bergerak-gerak sebelum akhirnya mengeluarkan suara tangisan.“Ya ampun, lucunya,” gumamku.Aku mengulurkan telunjukku dengan hati-hati, menyentuh pipinya yang lembut. Bayi itu menggerakkan kepalanya sedikit. Aku spontan tersenyum.Aku lalu mengalihkan pandanganku ke Miya. “Oh ya, kata dokter gimana? Kamu sama bayi kita sehat, kan?”“Sehat, Gus. Aku sama anak kita baik-baik aja.”Miya menghela napas pelan sebelum melanjutkan, “Pas kamu pingsan tadi, ambulans-n

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 473

    Aku mengangguk pelan, setuju dengannya. “Ya udah. Kita lakukan yang bisa kita lakukan.”“Gus…” panggil Miya lemah. Matanya benar-benar sayu, hampir terpejam.Aku langsung mendekat dan menggenggam tangannya. “Iya, Sayang?”“Jangan jauh-jauh,” pintanya lirih.“Aku di sini. Aku nggak bakal jauh dari kamu.”Miya kembali merintih saat rasa sakit itu menyerang.Masha menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali memusatkan perhatian kepada Miya.“Ma, aku bakal bantu sebisaku. Mama juga harus kerja sama, ya! Kalau aku bilang tarik napas, ikutin. Kalau aku minta berhenti dulu, Mama ikutin juga!”Miya menggeleng lemah. “Mama nggak mau lahiran di sini. Mama maunya di rumah sakit!”“Mustahil, Ma! Ambulansnya masih lama, sementara kondisi Mama udah begini.”Miya hanya bisa pasrah.“Argus, bantu aku. Posisikan kepala Mama supaya lebih nyaman.”Aku pun membantu Miya mengatur posisi tubuhnya.Sementara itu, Masha mengeluarkan beberapa handuk kecil, kain bedong, selimut

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 5

    Saat ini, aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisku. Suasananya membuatku merinding, persis seperti suasana mencekam di ruang BK setelah aku tertangkap basah merokok di belakang sekolah."P-paman... maaf kalau saya ada salah selama tinggal disi

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 3

    Padahal di dalam hati, aku sudah berteriak histeris karena tangan Tante Miya mulai meraba-raba area sensitifku.Tante Miya tersenyum nakal, tatapannya benar-benar menggoda. “Jangan pura-pura nggak tau, Gus. Tante tau kok, kamu juga mau. Buktinya, adikmu ini udah keras banget,” bisiknya sambil terus

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 2

    Sial, mampus aku! Mana kutau kalau ternyata ada Mbak Masha di dalam!Mbak Masha adalah anak sulung Paman Karyo yang cantiknya minta ampun, tapi kalau sudah marah, galaknya melebihi induk singa yang kehilangan anaknya.Mbak Masha mematung. Matanya masih membelalak sempurna, menatap si Lukman yang se

  • Terjepit Tante dan Tiga Sepupu Cantik   Bab 1

    “Ahh, enak, Gus. Lebih keras lagi, Gus. Hnghh.…”“Tante yakin? Mau lebih keras lagi?”“Iya, Gus. Ahhh… makin keras makin enak… uhhh…”Walaupun ragu, aku tetap menuruti permintaan Tante Miya. Aku tekan punggungnya lebih kuat dengan tangan kasarku yang biasa kerja kasar di desa.Sebenarnya aku takut

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status