Aku kembali ke rumah Pak Kai dengan perasaan yang sudah telanjur hancur. Sebenarnya aku sudah sama sekali tidak berminat untuk menonton bola, tapi rasanya tidak enak juga kalau tiba-tiba menghilang tanpa kabar."Loh, Husen mana, Gus?" tanya Pak Mardi begitu aku turun dari motor."Oh, itu, Pak... Pak Husen tiba-tiba nggak enak badan," jawabku berbohong.Biarlah untuk sekarang masalah ini kusimpan sendirian. Aku tidak mau memicu keributan di malam ini dan merusak suasana nobar bapak-bapak komplek yang sudah telanjur seru."Oalah, ya sudah. Sini duduk, tak bikinin kopi dulu," sahut Pak Kai ramah.Namun, tak lama kemudian, Pak Husen datang dengan motor mio-nya. Dia datang sendirian, wajahnya tampak santai seolah-olah kejadian di kamar tadi tidak pernah terjadi.Pak Mardi langsung mengernyitkan kening heran. "Loh, katane Argus kamu lagi ndak enak badan, Sen?"Pak Husen sempat melirikku sejenak, tatapannya terlihat tajam dan dingin, sebelum akhirnya tersenyum lebar ke bapak-bapak yang lain.
Read more