Sesampainya di rumah dan menginjakkan kaki di ruang tamu, tampak Tante Miya sedang duduk di sofa sambil fokus pada ponselnya. Begitu melihatku, tatapannya langsung berubah berang. "Argus! Dari mana saja kamu?!" Namun, saat langkahku mendekat, amarahnya mendadak menguap, berganti raut tegang ketika matanya menangkap bercak merah pekat di bajuku. "T-tunggu... itu kenapa baju kamu berdarah begitu?! Kamu dibegal?!" Belum sempat aku menjawab, Tante Miya mengikis jarak kami. Tangannya yang dingin meraba lengan, bahu, bahkan menyingkap paksa bajuku untuk mencari letak luka. Tapi dia tak menemukan setetes pun darah berasal dari kulitku. "Saya nggak apa-apa kok, Tan," jawabku, seraya menahan tangannya. "Terus ini darah siapa, Argus?!" suaranya meninggi, histeris. "Jawab Tante!" "Loh, Mas Argus?" Suara Karina memotong dari balik pilar koridor. Dia melangkah mendekati kami sambil mengerutkan dahi. "Kok datang sendirian? Mana Kak Masha? Bukannya tadi Mas bilang mau jemput dia di kantor?"
続きを読む