“Sayang! Kamu ngapain sih di situ? Kok malah ngelamun di balik pagar?” teguran Masha sekali lagi terdengar, kali ini lebih nyaring.Aku buru-buru menoleh, memasang senyum senatural mungkin agar dia tidak curiga. “Eh, iya, ini... pagarnya agak seret tadi, Yang. Bentar, ya!”Setelah memastikan Pak Kai sudah benar-benar menghilang, aku pun langsung mendorong pagar besi ini hingga terbuka lebar. Begitu menoleh ke seberang sekali lagi, pintu rumah Ratu sudah tertutup rapat.“Lama banget sih,” gerutu Masha begitu aku kembali ke depan teras, dia mengerucutkan bibirnya yang dipoles lipstik tipis.“Iya, maaf, Bu Bos. Yuk, naik,” kataku sambil membukakan pintu penumpang depan untuknya, sebelum aku sendiri memutar dan duduk di balik setir.Sepanjang jalan keluar dari komplek, isi kepalaku sama sekali tidak bisa fokus. Bayangan kancing baju Pak Kai yang terbuka dan lilitan handuk putih Ratu terus berputar-putar d
Read more