Saat aku hendak membuka pagar dengan tangan gemetaran, jantungku rasanya mau copot sewaktu merasakan ada sebuah tangan dingin mendadak menyentuh pundakku dari belakang.“Ampun, Mbah! Ampun, Mbah!” teriakku spontan sambil merem, mengira genderuwo Ratu sudah berhasil mengejarku.“Gus! Ini saya, Gus! Syukur!”Aku membuka mata, lalu refleks melayangkan pukulan mentah ke lengannya. “Astaga, bikin kaget aja lu, Mas! Jantung saya hampir pindah ke dengkul!” protesku sambil ngos-ngosan.“Kamu kenapa lari terbirit-birit gini, kayak habis liat setan? Mana baju kamu miring-miring begitu,” tanya Mas Syukur kebingungan, matanya memandangi penampilanku yang berantakan.Aku menoleh ke belakang, mengintip ngeri ke arah pintu rumah Ratu yang masih terbuka. “Ceritanya panjang, Mas! Pokoknya sekarang kita kabur dulu dari sini!”Kami berdua pun langsung melesat keluar dari pekarangan rumah Ratu.Sepanjang jalan menuju rumah Pak Kai, Mas Syukur setia menemaniku. Di tengah jalan, dia akhirnya mengaku kalau s
Read more