“Mbak... jangan, Mbak... jangan ragu...” racauku, antara pasrah dan tegang. Tanpa banyak bacot, Ratu langsung melepas lilitan kemben batiknya. Mataku langsung melotot semelotot-melototnya melihat pemandangan polos di depanku. “Mu.. mulus banget!!” Belum sempat aku mengedipkan mata, dia sudah merangkak naik ke atasku, mengarahkan kijing darat miliknya tepat ke arah burungku. “Ayo Mas Argus, tunjukkan pesona Broto-mu,” bisik Ratu menggoda. “Lukman, Mbak! Nama burung saya Lukman, bukan Broto!” protesku spontan. Enak saja dia main ganti nama sembarangan, padahal aku sudah sekreatif itu menamainya LUKMAN. Singkatan dari LUcu, Kuat, dan MANja! “Oh, baik. Tunjukkan pesona Lukman-mu!” ulangnya sambil membenarkan. Namun, Ratu kembali menarik dirinya sedikit. Dia mendesah kecewa saat melihat burungku masih lemas dan tidak bisa tegak, padahal posisinya sudah berhadapan langsung dengan kijing darat-nya yang aduhai itu. “Hemm, manja juga burung kamu. Harus dibangunin dulu, ya?” “Biasanya
Read more