Selesai berziarah, aku tidak ingin berlama-lama di makam, takut air mataku makin banjir dan di-cap cowok cengeng oleh Tante Miya.Aku pun mengajak Tante Miya berjalan keluar area pemakaman.Karena di desa ini tidak ada kafe apalagi bar seperti di kota, aku pun membawa Tante Miya ke sebuah pos ronda kosong di ujung jalan desa. Tempatnya teduh karena dinaungi pohon mangga besar, cukup sepi, dan jauh dari rumah warga, jadi cocok untuk dipakai ngewe, eh ralat, cocok dipakai ngobrol serius.Kami lalu duduk di amben bambu.Tante Miya mengembuskan napas panjang dan mulai membuka suara.“Dulu, sebelum sama Paman kamu, Tante itu nggak percaya sama cinta, Gus. Pernikahan pertama Tante gagal total karena diselingkuhin pas Tante lagi hamil anak pertama. Waktu itu Tante masih muda, masih 22 tahun. Karena stress diselingkuhin, Tante akhirnya keguguran. Tante pun minta cerai sama dia. Dan setelah cerai, Tante benar-benar mati rasa. Tiap ada cowok mendekat,
Baca selengkapnya