Randy melirik sekilas ke spion atas, memastikan Wilona masih duduk tenang di kursi belakang, lalu kembali memusatkan pandangannya ke depan. Pagi ini, dia yang ditugaskan menyetir sekaligus mengantar Wilona ke sekolah. Dalam hati, Randy cukup puas melihat wajah kesal Pak Saman. Kepadatan kendaraan yang merayap perlahan sudah menjadi pemandangan biasa bagi gadis cilik itu. Selama mobil bergerak lambat menyusuri jalan raya menuju pusat kota, Wilona hanya duduk tegap dengan kedua tangannya terlipat rapi di atas pangkuan, tak sekali pun mengeluh atau bertanya kapan akan sampai. Sungguh berbanding terbalik dengan ibunya, Felicia, yang biasanya mulai gelisah dan mendesak, lebih ke memaksa, begitu terasa jalanan tidak lancar.Setelah sekitar tiga puluh menit melaju pelan di jalanan macet, akhirnya mobil itu melambat dan berhenti tepat di depan gerbang tinggi sekolah swasta yang terlihat rapi dan terawat. Begitu merasakan roda berhenti berputar, Wilona sudah tergerak. Dia meraih tali tas r
Read more