“Aam!” seru Wilona ceria, lalu membuka mulut lebar-lebar untuk menggigit burgernya. Dia mengunyah dengan semangat hingga pipinya terlihat gembung seperti kelinci, membuat Felicia tak bisa menahan senyum gemas melihat tingkah putrinya.Mobil hitam elegan yang tadi terparkir di depan pagar sekolah, kini berada di depan restoran cepat saji yang tidak terlalu ramai itu. Felicia kemudian menyesap jus jeruknya perlahan, namun pandangannya terus melirik ke arah lengan kanan Randy yang kini tertutup rapat oleh jas hitam baru dan kemeja ganti yang baru saja mereka beli tadi. “Terima kasih untuk jas dan kemeja barunya, Nyonya,” ucap Randy tiba-tiba, menyadari tatapan itu. Felicia tersentak, lalu mengangguk sedikit sambil memalingkan wajah, merasa ketahuan. Dia meletakkan gelas jusnya perlahan di atas meja. “Kenapa luka kamu nggak diobati ke rumah sakit aja? Menurutku, lebih baik diperiksa dengan alat yang lebih lengkap, daripada klinik kecil tadi,” tanyanya dengan nada khawatir yang tak bi
Read more