"Anu, Den... itu, tadi sebenarnya..." Mbok Ratih terbata-bata, wajahnya pias dan jemarinya saling meremas cemas, bingung harus mulai menjelaskan dari mana tanpa menyulut pertengkaran antar-saudara."Aku yang masak, Mas," sahut Nayra cepat, memotong kalimat Mbok Ratih agar wanita tua itu tidak menjadi sasaran kemarahan suaminya.Suara Nayra terdengar sangat pelan, nyaris menyerupai bisikan yang tenggelam di dalam kesunyian ruangan. Wajahnya yang semula cerah kini tampak teramat sendu, dengan sepasang mata bulat yang menatap sayu ke arah lantai marmer.Arga seketika menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan letak sendok. "Kamu... kamu yang masak semua ini, Nay?" tanya Arga memastikan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya."Iya, Mas. Aku bangun jam empat subuh tadi langsung ke dapur. Aku... aku gak tahu kalau Mama ada acara keluar kota hari ini, makanya aku masak porsi banyak untuk orang seisi rumah.""Mbok kenapa gak kasih tahu Nayra dari awal kalau M
Baca selengkapnya