Mag-log inMendengar sindiran yang begitu menusuk telinga, dada Nayra sempat berdesir perih. Ada rasa hangat yang menjalar di matanya, memicu amarah yang ingin meledak. Namun, begitu mengingat nasihat Arga tentang pentingnya menjaga martabat dan ketenangan diri, Nayra menarik napas dalam-dalam. Ia meremas jemari tangan kirinya di bawah meja kasir, mencoba menyalurkan seluruh sisa kesabarannya."Ada yang bisa saya bantu, Mbak Shila?" tanya Nayra dengan nada suara yang diusahakan tetap datar, tenang, dan profesional, mengabaikan seluruh hinaan yang baru saja dilontarkan.Shila melangkah mendekati meja kasir, lalu menggebrak tas bermerek miliknya di atas meja dengan kasar, membuat beberapa brosur di sana agak berantakan."Tentu saja ada. Aku ke sini kan sebagai *customer*, dan kamu tugasnya melayani aku dengan baik, bukan malah pasang muka masam begitu," ketus Shila, memajukan wajahnya. "Aku mau lihat koleksi barang terbaru yang ada di rak atas sana. Ambilkan sekar
Sinar matahari sore menerobos masuk melalui pintu kaca gerai, memantulkan bayangan deretan produk yang tertata rapi di rak display. Ini adalah hari pertama ia kembali menginjakkan kaki di tempat kerja setelah mengambil cuti nikah selama hampir sepuluh hari. Langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan, walau di balik kemeja kerjanya, plester medis masih melekat rapi melindungi luka di telapak tangan kanannya yang mulai mengering."Cieee... pengantin baru!" goda Tari, dengan suara melengking yang sengaja ditahan agar tidak menggema sampai ke area depan. Mata Tari berbinar-binar penuh kejahilan begitu melihat siluet Nayra yang baru saja muncul."Astaga, Tari! Suaramu kecilin sedikit, nanti kalau terdengar sampai luar gimana?"Tari tidak memedulikan protes itu. Ia malah berlari kecil, membuntuti langkah kaki Nayra dengan jarak yang sangat rapat, lalu menyandarkan tubuhnya di pintu loker besi yang terbuka. Senyum di wajah Tari semakin lebar, meng
"Ahhh..."Napas Nayra mulai memburu, tersengal kecil di sela-sela tautan bibir mereka yang kian menuntut. Arga mengurai pagutan mereka sejenak, memberikan ruang bagi sang istri untuk meraup oksigen, namun dahi mereka tetap saling menempel. Napas hangat mereka beradu, menciptakan melodi intim di keheningan kamar."Mas... Arga..." bisik Nayra terbata-bata, menatap sayu ke dalam manik mata suaminya."Ya, Sayang? Aku di sini," sahut Arga dengan suara baritonnya yang kini terdengar lebih berat dan parau.Kedua tangan Arga yang kokoh kini beralih, turun mencengkeram pinggang ramping istrinya dengan kelembutan yang dominan, menuntun tubuh mungil itu bergerak mundur secara perlahan tanpa memutuskan sedikit pun keintiman yang tercipta. Langkah kaki Nayra terasa goyah, seolah seluruh persendiannya telah melumer akibat pesona suaminya yang begitu memabukkan.Hingga pada akhirnya, bagian belakang lutut Nayra membentur pinggiran ranjang *king size* yang empuk.
Ia mempererat pelukannya, mengecup pelipis Nayra dengan penuh kelembutan. "Tapi aku berharap besar, ke depannya tempat ini akan menjadi istana kecil kita. Tempat kita membangun mimpi, membesarkan anak-anak kita nanti, dan menghabiskan sisa waktu kita bersama sampai akhir hayat."Mendengar ketulusan dan harapan yang tersirat dalam setiap untaian kata suaminya, sudut mata Nayra kembali menghangat. "Aminnn... Amin ya Rabbal Alamin," bisik Nayra khusyuk."Mulai hari ini, kamu bebas mau ngapain aja di sini, Sayang. Kamu gak perlu sungkan, gak perlu takut, dan gak perlu merasa ragu pada siapa pun lagi. Ini rumah kita, istana kita sendiri. Di sini, hanya ada kita berdua," bisik Arga, menekankan kata 'hanya ada kita' seolah ingin menegaskan bahwa tidak akan ada lagi gangguan dari ego Kak Anna atau tuntutan yang mengintimidasi seperti di Cikarang.Perasaan haru dan lega yang teramat sangat seketika membuncah di dalam dada Nayra. Ia segera membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Arga, mengaba
"Rumah ini bukan hasil sewa mendadak karena ucapan kamu semalam. Rumah ini sudah aku beli dengan sistem cicilan sejak dua tahun yang lalu, jauh sebelum aku mengenal kamu.’’‘’Selama ini, rumah ini sengaja aku kosongkan dan aku rahasiakan dari Mama maupun Mbak Anna."Arga mengembuskan napas pendek, ada kilatan kelegaan di matanya saat rahasia terbesarnya akhirnya terungkap. "Aku sengaja merahasiakan rumah ini karena aku tahu betul bagaimana tabiat Mbak Anna. Kalau sampai dia tahu aku punya aset rumah di Jakarta, dia pasti akan memaksa untuk ikut tinggal di sini, atau bahkan meminta rumah ini dijual untuk menutupi kebutuhan gaya hidupnya.’’‘’Makanya, selama ini aku rela tetap tinggal di kosan petak yang murah di Jakarta, demi menghemat uang untuk membayar cicilan rumah ini secara diam-diam."Mendengar penuturan jujur dari suaminya, air mata Nayra seketika kembali merebak di pelupuk matanya. Kali ini, bukan karena rasa sedih atau sakit akibat pecahan beling, melainkan karena rasa haru
Beberapa jam berlalu tanpa terasa, roda-roda mobil SUV hitam itu terus berputar membelah kemacetan jalanan tol Jakarta, hingga akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan yang tampak begitu asri. Mobil itu bergerak perlahan menyusuri jalanan kompleks perumahan yang tertata rapi, dikelilingi oleh pepohonan hijau di sisi kanan dan kirinya."Sayang... bangun, yuk. Kita sudah sampai," bisik Arga lembut sembari menepuk pelan bahu Nayra.‘’Euughhh!’’Nayra melenguh pelan, lalu mengerjapkan kedua matanya berulang kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang menembus kaca mobil. Ia meregangkan tubuhnya sesaat, namun sedetik kemudian, dahinya kembali berkerut dalam saat memandang ke arah luar jendela.Kawasan di sekitarnya sama sekali tidak menyerupai lingkungan gang sempit tempat kosan murah Arga yang biasa ia kunjungi di Jakarta Pusat. Di luar sana, berjejer rapi rumah-rumah dengan desain modern dan arsitektur yang sangat elegan."Mas... kita ini di mana?" tanya Nayra denga
"Anna! Arga! Sudah! Jangan berantem di depan makanan!" lerai Mama Fitri dengan suara yang ditinggikan, memotong perdebatan sengit di antara kedua anaknya sebelum keadaan semakin runyam. Raut wajah wanita tua itu tampak dipenuhi rasa bersalah dan tidak enak yang teramat sangat kepada Nay
Uap hangat sisa air mandi masih terasa di kulit leher Nayra saat ia melangkah menuruni anak tangga marmer satu per satu. Ia telah berganti pakaian menggunakan dress rumahan yang kasual namun tetap sopan, dengan rambut panjang yang ia gelung rapi ke atas. Begitu kakinya memijak lantai da
Tiga hari masa cuti pernikahan di kampung halaman Nayra terasa berlalu begitu cepat laksana kedipan mata. sebelum benar-benar kembali ke rutinitas Jakarta dan kamar kosan tua mereka, Arga memutuskan untuk membawa istri kecilnya singgah terlebih dahulu di kediaman keluarga besarnya. Perj
Cahaya mentari pagi yang hangat perlahan-lahan menyusup masuk melalui celah-celah gorden jendela kamar pengantin, membawa serta kicauan burung gereja yang saling bersahutan di dahan pohon mangga luar rumah. Sisa-sisa embun pagi di kampung halaman Nayra perlahan menguap, digantikan oleh







