Ia mempererat pelukannya, mengecup pelipis Nayra dengan penuh kelembutan. "Tapi aku berharap besar, ke depannya tempat ini akan menjadi istana kecil kita. Tempat kita membangun mimpi, membesarkan anak-anak kita nanti, dan menghabiskan sisa waktu kita bersama sampai akhir hayat."Mendengar ketulusan dan harapan yang tersirat dalam setiap untaian kata suaminya, sudut mata Nayra kembali menghangat. "Aminnn... Amin ya Rabbal Alamin," bisik Nayra khusyuk."Mulai hari ini, kamu bebas mau ngapain aja di sini, Sayang. Kamu gak perlu sungkan, gak perlu takut, dan gak perlu merasa ragu pada siapa pun lagi. Ini rumah kita, istana kita sendiri. Di sini, hanya ada kita berdua," bisik Arga, menekankan kata 'hanya ada kita' seolah ingin menegaskan bahwa tidak akan ada lagi gangguan dari ego Kak Anna atau tuntutan yang mengintimidasi seperti di Cikarang.Perasaan haru dan lega yang teramat sangat seketika membuncah di dalam dada Nayra. Ia segera membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Arga, mengaba
Mehr lesen