Mag-log inCahaya mentari pagi yang hangat perlahan-lahan menyusup masuk melalui celah-celah gorden jendela kamar pengantin,
membawa serta kicauan burung gereja yang saling bersahutan di dahan pohon mangga luar rumah.Sisa-sisa embun pagi di kampung halaman Nayra perlahan menguap, digantikan oleh hawa sejuk yang menyegarkan.Di dalam kamar bernuansa kayu itu, Nayra menjadi orang pertama yang membuka mata.‘’Euughhh ….’’Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun rasa hangat yang mSetibanya di dalam kamar kontrakan sempitnya, Arshy langsung merapatkan tubuhnya ke daun pintu kayu yang terkunci rapat. Tubuhnya meluncur pelan hingga terduduk kaku di lantai, sementara kedua tangannya mencengkeram erat bagian dada kemejanya."Tadi aku mau ngapain?" bisik Arshy pada keheningan kamar.Sensasi hangat jemari Naka yang menyentuh rahangnya dan kehangatan hembusan napas pria itu di permukaan bibirnya masih terasa begitu nyata. Pipinya seketika membara panas.Arshy mengangkat kedua tangannya, memukul-mukul pelan pelipisnya sendiri dengan wajah merona padam."Astaga, Arshy! Otak kamu tolong dikondisikan!" serunya frustrasi pada diri sendiri.Ia bangkit berdiri dengan napas terengah-engah, melangkah gelisah menyusuri ruangan berukuran tiga kali empat meter itu. Langkahnya terhenti di depan cermin tua yang tergantung di dinding dekat lemari plastik. Ia menatap bayangan dirinya sendiri seorang gadis desa sederhana dengan pakaian murah, sangat bertolak belakang dengan sososok
Arshy menatap profil samping wajah Naka yang tampak begitu tenang. Ada seulas keraguan dan rasa canggung yang bergelayut di benak gadis itu, membuatnya ragu untuk mengutarakan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan sejak tadi.Ia meremas jemarinya di atas pangkuan, mencoba mengumpulkan keberanian."Mas," panggil Arshy pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru halus mesin mobil."Hem," sahut Naka tanpa menoleh, jemarinya sibuk mengusap layar ponsel pintarnya, memeriksa beberapa draf pesan yang masuk dari Vano."Aku boleh izin gak?" tanya Arshy ragu.Naka menghentikan pergerakan ibu jarinya di atas layar. Pria itu menoleh perlahan, menyapukan pandangan penuh selidik ke arah gadis di sampingnya. "Izin apa?" tanya Naka seraya mengerutkan dahinya tipis, menunjukkan rasa heran atas formalitas yang mendadak diajukan Arshy."Aku mau pulang ke Surabaya," kata Arshy polos, matanya menatap Naka penuh harap. "Hanya sebentar, aku mau jenguk adik-adik, sama Bund
"Sudah... gak usah nangis lagi. Malu dilihat wartawan," bisik Naka pelan tepat di samping telinga Arshy. Suaranya terdengar begitu lembut, berbanding terbalik dengan ketegasannya saat membantai pihak lawan beberapa menit yang lalu.Arshy tersadar. Pipi mulusnya seketika merona merah padam saat menyadari bahwa ia telah memeluk Naka secara spontan di depan puluhan pasang mata dan kamera media. Ia buru-buru melepaskan pelukannya, menundukkan kepala seraya menyapu air matanya dengan ujung lengan kemeja putihnya."M-maaf, Mas... Aku terlalu senang," cicit Arshy canggung, tidak berani menatap mata Naka.Naka tersenyum tipis sebuah senyuman tulus tanpa keangkuhan yang berhasil ditangkap oleh beberapa lensa kamera wartawan yang sigap. Ia meraih sapu tangan kain putih dari saku jas mewahnya, lalu menyodorkannya ke tangan Arshy."Pakai ini. Setelah ini kita harus melewati kerumunan di luar," ujar Naka tenang.Vano melangkah mendekati mereka seraya membawa briefcase kulit milik bosnya. Wajah
Pagi itu, suasana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan jauh lebih padat dan riuh dibandingkan pekan lalu. Puluhan wartawan dari berbagai media berita nasional dan media hukum telah memadati area koridor utama. Kamera, mikrofon, dan lampu kilat saling bersahutan saat Nakara Argantara melangkah masuk ke area gedung peradilan.Di sampingnya, Arshy berjalan dengan setelan kemeja putih rapi dan rok kain hitam. Meski wajahnya memancarkan ketegangan yang amat sangat, genggaman erat dan tatapan tenang dari Naka memberinya fondasi keberanian yang kokoh. Hari ini adalah sidang kedua sekaligus sidang pembuktian akhir dan pembacaan putusan atas sengketa lahan Panti Asuhan Kasih Bunda."Mas Naka... kira-kira gimana?" bisik Arshy pelan saat mereka melangkah menyusuri lorong menuju Ruang Sidang Utama Cakra. "Aku denger kemarin pihak PT Maya Buana bawa saksi-saksi baru dari kelurahan setempat."Naka menghentikan langkahnya sejenak. Pria berjas hitam custom-
Sebagai pria dewasa yang normal, dalam keadaan hujan deras, mendengar suara desahan dari balik dinding ditambah sentuhan cengkeraman ketat di pahanya dari seorang gadis polos di depannya, apakah Naka masih bisa berpikir jernih? Tentu tidak!Akal sehat seorang Nakara Argantara seorang pengacara dingin yang biasanya berotak dingin dan selalu penuh perhitungan seakan luluh pantak dalam sekejap. Rasionalitas yang selama ini menjadi tameng utamanya mendadak meluap, digantikan oleh gumpalan gairah dan desiran hangat yang membakar seluruh persendiannya.Naka menundukkan pandangannya, menatap jemari mungil Arshy yang masih meremas kain celananya di paha. Setiap kali dinding sebelah bergetar diiringi gema erangan yang makin menjadi-jadi, cengkeraman jari Arshy makin mengencang.Irama napas Arshy yang memburu menyapu kulit leher Naka. Wangi samar sampo murah bercampur kehangatan tubuh gadis itu seolah menyengat indra penciumannya, memprovokasi setiap sel saraf dalam tubuh Naka."Ar," panggi
Langkah demi langkah mereka lalui menembus rapatnya guyuran hujan. Naka sengaja memiringkan posisi payung hitam itu ke arah Arshy, memastikan tubuh gadis di sampingnya terlindungi dari hempasan air dan angin kencang meski itu membuat bahu kiri jas mewahnya basah kuyup terkena rintik hujan.Setibanya di depan pintu kontrakan dua lantai bernuansa hijau muda itu, Arshy buru-buru merogoh saku pakaiannya dengan tangan yang gemetar dingin, mengeluarkan kunci lalu memutarnya cepat.Cklek.Pintu kayu berdecit terbuka. Arshy melangkah masuk lebih dulu, disusul Naka yang melipat payungnya dan meletakkannya di sudut luar teras."Mas... masuk dulu, di luar anginnya kencang banget," ajak Arshy dengan napas masih sedikit terengah.Naka mengangguk pelan, melangkah melewati ambang pintu kamar berukuran tiga kali empat meter tersebut. Kamar kontrakan sederhana itu terasa sangat sepi dan tenang jika dibandingkan dengan amukan badai di luar.Arshy langsung berbal
Pikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima
Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-
"Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber
Krieeet... krieeet..."Eughhh!""Sshhhh..."Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, buk







