Se connecterCahaya mentari pagi yang hangat perlahan-lahan menyusup masuk melalui celah-celah gorden jendela kamar pengantin,
membawa serta kicauan burung gereja yang saling bersahutan di dahan pohon mangga luar rumah.Sisa-sisa embun pagi di kampung halaman Nayra perlahan menguap, digantikan oleh hawa sejuk yang menyegarkan.Di dalam kamar bernuansa kayu itu, Nayra menjadi orang pertama yang membuka mata.‘’Euughhh ….’’Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun rasa hangat yang m"Anna! Arga! Sudah! Jangan berantem di depan makanan!" lerai Mama Fitri dengan suara yang ditinggikan, memotong perdebatan sengit di antara kedua anaknya sebelum keadaan semakin runyam. Raut wajah wanita tua itu tampak dipenuhi rasa bersalah dan tidak enak yang teramat sangat kepada Nayra yang kini hanya bisa menundukkan kepala sedalam-dalamnya. "Ada anak kecil juga di sini, gak baik ribut-ribut."Anna mendengus kasar, memutar bola matanya malas. Dengan gerakan menyentak, ia beralih mengambilkan potongan ayam goreng ke dalam piring anaknya yang duduk di sebelahnya. Di atas meja makan panjang itu, kini terdiam lima orang dalam keheningan yang mencekam, Mama Fitri yang tampak mengembuskan napas berat, Arga yang wajahnya masih mengeras penuh emosi, Nayra yang berjuang menahan air matanya agar tidak jatuh, Anna yang masih memasang wajah cemberut, serta anak laki-laki Anna yang masih berusia lima tahun yang tampak bingung menatap ketegangan orang-or
Uap hangat sisa air mandi masih terasa di kulit leher Nayra saat ia melangkah menuruni anak tangga marmer satu per satu. Ia telah berganti pakaian menggunakan dress rumahan yang kasual namun tetap sopan, dengan rambut panjang yang ia gelung rapi ke atas. Begitu kakinya memijak lantai dasar, aroma harum bumbu ungkep ayam goreng, sambal terasi, dan tumis kangkung yang pekat langsung menyergap indra penciumannya, menandakan hidangan makan sore telah siap disajikan."Sayang, sini makan dulu," suara bariton Arga terdengar dari arah ruang makan yang terletak bersebelahan dengan dapur bersih.Pria itu langsung bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Nayra yang sempat ragu-ragu di ambang pembatas ruangan. Tanpa canggung di hadapan anggota keluarganya, Arga meraih telapak tangan mungil Nayra, lalu menggandengnya dengan erat menuju sebuah meja makan kayu jati berukuran panjang.Nayra meremas pelan jemari tangan Arga, mencoba menyalurkan rasa gugup dan sungkan ya
Tiga hari masa cuti pernikahan di kampung halaman Nayra terasa berlalu begitu cepat laksana kedipan mata. sebelum benar-benar kembali ke rutinitas Jakarta dan kamar kosan tua mereka, Arga memutuskan untuk membawa istri kecilnya singgah terlebih dahulu di kediaman keluarga besarnya. Perjalanan menempuh waktu beberapa jam hingga akhirnya motor matic besar milik Arga berbelok memasuki sebuah daerah pinggiran, cikarang. "Ini... rumah kamu, Mas?" tanya Nayra, suaranya mencicit pelan karena terkejut."Iya, ini rumah keluarga aku. Ayo masuk," jawab Arga santai sembari menurunkan tas ransel dan koper mereka dari móbil travel.Nayra mendadak ragu untuk melangkahkan kakinya. Pikirannya seketika berputar liar, didera rasa bingung yang teramat sangat. Bukankah selama ini di kosan, Arga hanya bercerita bahwa dia adalah seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta? Penampilannya sehari-hari pun sangat sederhana, tidak menunjukkan tanda-tanda kemewahan yang m
Cahaya mentari pagi yang hangat perlahan-lahan menyusup masuk melalui celah-celah gorden jendela kamar pengantin, membawa serta kicauan burung gereja yang saling bersahutan di dahan pohon mangga luar rumah. Sisa-sisa embun pagi di kampung halaman Nayra perlahan menguap, digantikan oleh hawa sejuk yang menyegarkan.Di dalam kamar bernuansa kayu itu, Nayra menjadi orang pertama yang membuka mata. ‘’Euughhh ….’’Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya seketika mengingatkan dirinya pada status barunya sekarang. Begitu menolehkan kepala ke samping kanan, pemandangan pertama yang menyapa indra penglihatannya adalah sosok Arga yang masih tertidur dengan teramat lelap.Nayra terpaku diam, menumpu kepalanya dengan satu tangan sembari memandangi wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat. Dalam posisi sedekat ini, ia bisa mengagumi ciptaan Tuhan yang kini telah resmi menjadi milik aslinya. Arga tampak
Tangan Arga bergerak perlahan ke bagian belakang kebaya beludru Nayra, membuka satu per satu kancing pengait dengan gerakan yang teramat telaten namun menuntut, sementara bibirnya masih terus menjelajahi kemanisan bibir sang istri.“Mmmpphhh,”Tautan bibir Arga di bibir Nayra kini terasa jauh lebih berani, dalam, dan penuh dengan tuntutan yang membakar. Rasa cinta yang selama ini terbentung oleh batasan-batasan norma, malam ini tumpah ruah tanpa ada lagi dinding yang menghalangi. Arga melumat belahan bibir istrinya dengan ritme yang lambat namun pasti, menyedot habis seluruh pasokan udara hingga kepala Nayra terasa pening oleh sensasi memabukkan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.‘’Euughhh!’’Kedua tangan mungil Nayra mencengkeram erat bahu kokoh Arga, meremas kemeja putih suaminya seiring dengan kedua lututnya yang kian melemas. Merasakan kepasrahan dan ketulusan dari sang istri, tangan kekar Arga yang melingkar di pinggang Nayra bergerak s
Malam akhirnya luruh sepenuhnya di kampung halaman Nayra. Riuh rendah suara para tamu undangan, sanak saudara yang saling bercengkerama, hingga denting piring katering yang beradu sejak pagi kini telah mereda. Di dalam kamar pengantin, suasana terasa begitu sunyi dan kontras. Kamar masa kecil Nayra itu telah disulap menjadi sangat cantik dengan seprai katun putih bersih yang baru, kelambu tipis yang menjuntai di sudut-sudut ranjang, serta hiasan kelopak bunga mawar merah yang ditaburkan membentuk pola hati di atas tempat tidur. Aroma harum dari ronce melati yang sempat dipakai Nayra saat resepsi tadi kini memenuhi seluruh penjuru ruangan, menciptakan atmosfer yang teramat intim sekaligus mendebarkan.Nayra duduk di tepi ranjang, masih mengenakan kebaya modern beludru hitam yang ia pakai untuk acara resepsi malam tadi. Tangannya yang gemetar perlahan mulai melepas satu per satu pin jepit rambut dan hiasan paes yang terasa berat di kepalanya sejak sore. Rambut panjangnya yang hit







