“Variasiin gayanya, deh, Ta. Jangan gitu-gitu melulu,” ujar Jia enteng. “Ganjel pake bantal.” imbuhnya. Tala melirik tajam. “Jangan lupa kakinya naik ke pundak...Uh, mantap.” lanjut Jia tanpa dosa. Matanya mengerling pada Tala. Astaga. Tala sungguh malu mendengarnya, meskipun sebenarnya kalimat-kalimat seperti itu sudah begitu akrab di telinganya. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah ia praktikkan. Masalahnya, mereka sedang berada di ruang ganti studio Pilates—kelas yang sudah Tala ikuti selama sebulan terakhir. Semua demi satu tujuan yang belakangan ini disebut sebagai promil natural. Gaya hidup sehat. Padahal dulu, olahraga semacam ini hampir selalu menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Tala. Paling banter ia hanya mau lari. Untuk urusan begini, Jia memang juaranya. Selain lebih berpengalaman, perempuan itu juga terkenal paling ceplas-ceplos. Dan, sayangnya, paling provokatif. Untung Amika tidak hadir di kelas sore ini. Kalau perempuan itu ikut, satu sesi ruang ga
อ่านเพิ่มเติม