LOGINbelajar apa belajar Om Eja? Sorry mbak Nanan Om Eja udah gak suka kerja keknya
“Variasiin gayanya, deh, Ta. Jangan gitu-gitu melulu,” ujar Jia enteng.“Ganjel pake bantal.” imbuhnya.Tala melirik tajam.“Jangan lupa kakinya naik ke pundak...Uh, mantap.” lanjut Jia tanpa dosa. Matanya mengerling pada Tala.Astaga.Tala sungguh malu mendengarnya, meskipun sebenarnya kalimat-kalimat seperti itu sudah begitu akrab di telinganya. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah ia praktikkan.Masalahnya, mereka sedang berada di ruang ganti studio Pilates—kelas yang sudah Tala ikuti selama sebulan terakhir. Semua demi satu tujuan yang belakangan ini disebut sebagai promil natural.Gaya hidup sehat.Padahal dulu, olahraga semacam ini hampir selalu menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Tala. Paling banter ia hanya mau lari.Untuk urusan begini, Jia memang juaranya. Selain lebih berpengalaman, perempuan itu juga terkenal paling ceplas-ceplos.Dan, sayangnya, paling provokatif.Untung Amika tidak hadir di kelas sore ini. Kalau perempuan itu ikut, satu sesi ruang ganti mungki
Lingkungan kantor Bhuwana yang dulu terasa asing sekaligus menyebalkan kini justru begitu familiar. Tala sudah cukup sering mampir ke sana, entah untuk mengantarkan makan siang bagi Geza atau mengurus urusan konsorsium. Namun kali ini ia datang bukan untuk keduanya. Ia hendak menjemput pria itu untuk pulang bersama. Pagi tadi Geza berangkat menggunakan mobil kantor, sementara pekerjaan Tala kebetulan selesai lebih awal.Dengan visitor access card yang sudah disiapkan Geza, Tala melangkah melewati lobi. Baru beberapa langkah, ia berpapasan dengan beberapa karyawan perempuan yang dulu pernah dilihatnya saat retreat malam itu.Pandangan mereka kembali jatuh padanya. Sedikit banyak, Tala terusik.Masihkah mereka memandangnya sebagai target?Ah, iya.Kinan sudah kembali.Jelas saja kehadirannya di sini mungkin kembali terasa mengganggu bagi sebagian orang.Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, Tala mendapati Arvin berjalan cepat ke arahnya dengan paper bag kopi di tangan.“Thank you, Mb
Momen yang selalu menjadi momok bagi Tala, kini datang.Kinan resmi menggantikan orang yang sebelumnya menangani kerja sama dengan Janitra. Maka, hari ini menjadi pertemuan pertama mereka dalam urusan proyek—Kinan sebagai perwakilan Bhuwana, sementara Tala hadir mewakili kepentingan Janitra dan Sansa khususnya.Pertemuan itu berlangsung di salah satu tower Bhuwana, ditemani Suwandi dan juga tim Janitra.Setelah sempat melalui tarik-ulur khas negosiasi korporasi, hari ini mereka akhirnya mencapai kata sepakat.Geza sebenarnya sudah beberapa kali menawarkan Tala untuk mundur dari proyek ini. Ia cukup memantau dari jauh dan tidak perlu terlalu proaktif terlibat dalam setiap prosesnya.Namun, setelah hubungan mereka resmi jadi pernikahan sungguhan Tala memilih bertahan. Ia tak mau bersikap kekanak-kanakan hanya karena mantan kekasih suaminya kini duduk di seberang meja.Dengan semua yang sudah mereka lalui, rasanya tak mungkin Geza berpaling begitu saja.Lagipula, Geza tahu bagaimana rasan
Geza masuk ke kamar pukul sebelas, setelah memastikan dapur sudah kembali bersih.Sebenarnya ia bisa saja membiarkannya. Toh besok Bi Yuni juga akan membereskannya. Namun, dapur kotor justru membuat kepalanya pening. Lagipula, ia butuh mengumpulkan energi untuk menghadapi Tala.Membujuk, tepatnya.Istrinya sedang mens, baru kecewa karena hasil tes negatif, ditambah kemunculan Kinan. Paket lengkap untuk membuatnya begitu sensitif.Dan Geza harus menghadapinya.Dua tahun ke belakang, Geza mungkin tak akan terlalu terpengaruh. Seingatnya, Tala juga tidak sesensitif ini. Atau mungkin dulu ia saja yang tidak cukup peka karena hari-hari mereka memang lebih sering diisi adu mulut dan sarkas. Jadi, kalau Tala sedang kesal, Geza akan membalas. Kalau Tala nyolot, ia akan menyolot balik.Selesai.Sekarang? Perempuan yang sama bisa membuatnya pusing hanya dengan membelakanginya.Geza mendekat ke ranjang. Bantal hangat yang tadi sudah ia siapkan suhunya seharusnya sudah pas.“Ta....” panggilnya pel
Selama tiga hari berturut-turut Geza lembur. Kemunculan Kinan tentunya masih mengganjal di pikiran Tala—didorong efek hormon menstruasi—semuanya terasa jauh lebih mengganggu.Mungkin benar kata Amika. Ia harus menghabiskan satu malam penuh dengan suaminya itu. Sekedar untuk bermanja, mungkin.Malam ini, Tala sudah menyiapkan makan malam untuknya. Bukan menu yang merepotkan, hanya menu-menu ringan dan gampang diolah karena Geza bilang akan pulang lebih cepat.Sebenarnya, Tala ingin sekali menyambut Geza dengan pakaian dinas yang baru dibelinya. Tapi untunglah ia masih sangat waras. Yang sedang tidak waras cuma gejolak hormonnya yang belakangan terlalu banyak tingkah.Begitu pintu dibuka ia dibuat terkejut dengan kehadiran tiga pria di hadapannya.Oh, salah.Ada satu lagi.Untung saja akal sehatnya masih lebih kuat daripada hormonnya. Kalau tidak, bisa-bisa malam ini ia sudah membuka pintu dengan pakaian dinas seksi itu di depan empat pria sekaligus.Tala bergidik sendiri membayangkannya
Dua hari setelah menemui obgyn, siklus bulanan Tala datang. Moodnya jelas belum membaik. Bahkan di hari pertama menstruasinya, Tala kembali menangis. Bukan sekadar meneteskan air mata, melainkan sampai terisak keras di kamar. Tangisnya baru berhenti setelah Geza memeluknya. Lama.Lebay memang. Salahkan hormonnya.Menurut dokter, ada kemungkinan Tala memang terlalu terbawa sugesti. Setelah melihat bayi Sandra, pikirannya tanpa sadar menghubungkan semuanya dengan masa lalu—ketika ia sering menemani Jani menjalani program kehamilan hingga masa kehamilan sang kakak. Ditambah beberapa perubahan tubuh yang ia rasakan belakangan ini, semuanya terasa seperti tanda yang saling menguatkan. Padahal belum tentu.Kini ia memasuki hari kedua menstruasi, masih di titik paling kacau. Masih begitu sensitif. Karena itu, ia janjian dengan Amika saat jam makan siang. Sedikit curhat, sedikit haha-hihi, lalu ngobrol ngalor-ngidul agar pikirannya kembali lebih ringan.Setidaknya, itu rencana Tala.“Emang lo
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me
“Kamu gila kalau kamu setuju sama ide konyol itu.”Geza menoleh. “Mungkin.”Sebelum membawa Sansaya ke dokter anak, mereka sempat bicara soal hak wali ke pengacara kenalan Geza. Pengacaranya menyarankan satu hal paling konyol untuk menang dan melindungi semuanya.Menikah. Nikah kontrak, lebih tepat
Mobil Geza melaju membelah kemacetan Jakarta yang terasa jauh lebih menyesakkan dari biasanya. Di kursi penumpang, Tala mencoba menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, mencari sedikit sisa tenaga yang dia punya.“Temen kamu udah pulang langsung kerja?” tanya Geza tanpa sedikit pun men
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda







