Begitu Geza pergi, kamar kembali terasa lebih tenang. Beberapa menit kemudian, Bi Yuni masuk membawa semangkuk sup ayam hangat untuk Tala. “Mbak Tala, udah mendingan? Bibi kaget banget pas denger kabarnya. Daerah situ emang kadang rawan, Mbak. Rame sih rame, cuma kanan-kirinya pan banyak lahan kosong. Sering dijadiin kesempatan buat yang mau jambret begitu.” “Iya, Bi. Ini udah nggak apa-apa, kok. Makasih, ya.” Tala menerima mangkuk yang disodorkan Bi Yuni, lalu meniup pelan uap yang mengepul dari permukaan sup. “Mau mandi gak Mbak? Nanti bibi bantu. Tadi Pak Geza bilang Mbak jangan dibiarin mandi sendiri dulu. Begitu katanye.” “Oh, nggak usah, Bi. Saya bisa sendiri.” Bi Yuni malah terkekeh. “Lho, mau sama Pak Geza aja ya mandinya?” godanya. “Mau kangen-kangenan, ya, Mbak?” Wajah Tala langsung memerah. “Bi Yuni, apaan, sih?” Kangen-kangenan apanya, Bi? Debat yang ada. Bi Yuni semakin terkekeh melihat wajah Tala. “Becanda, Mbak Tala cepet baek lagi, ya. Bibi tinggal, kalau bu
Read more