LOGINKembali ke era Om Eja marah-marah wkwkwk Jadiii, menurut kalian seru mana? yang adu mulut begini atau yang adu mulut beneran? hahaha Tinggalin jejek pwiss, i need a mood boost Seru kalau udah bacain comment section tuh, Thank uuuuu and enjoy guys
Begitu Geza pergi, kamar kembali terasa lebih tenang. Beberapa menit kemudian, Bi Yuni masuk membawa semangkuk sup ayam hangat untuk Tala.“Mbak Tala, udah mendingan? Bibi kaget banget pas denger kabarnya. Daerah situ emang kadang rawan, Mbak. Rame sih rame, cuma kanan-kirinya pan banyak lahan kosong. Sering dijadiin kesempatan buat yang mau jambret begitu.”“Iya, Bi. Ini udah nggak apa-apa, kok. Makasih, ya.”Tala menerima mangkuk yang disodorkan Bi Yuni, lalu meniup pelan uap yang mengepul dari permukaan sup.“Mau mandi gak Mbak? Nanti bibi bantu. Tadi Pak Geza bilang Mbak jangan dibiarin mandi sendiri dulu. Begitu katanye.”“Oh, nggak usah, Bi. Saya bisa sendiri.”Bi Yuni malah terkekeh.“Lho, mau sama Pak Geza aja ya mandinya?” godanya. “Mau kangen-kangenan, ya, Mbak?”Wajah Tala langsung memerah.“Bi Yuni, apaan, sih?”Kangen-kangenan apanya, Bi? Debat yang ada.Bi Yuni semakin terkekeh melihat wajah Tala.“Becanda, Mbak Tala cepet baek lagi, ya. Bibi tinggal, kalau butuh apa-apa
Begitu kembali ke rumah, Tala mendapati Sansa sudah tidur. Hanya Sus Lia yang masih terjaga dan langsung menyambut mereka dengan raut khawatir begitu melihat kondisi Tala. “Gimana, Mbak kondisinya? Mau saya bantu siapin apa?” “Cuma lecet Sus, udah gapapa. Sansa Aman kan?” Tala bersandar di sofa. Merasakan sekujur tubuhnya mulai pegal dan nyeri. ”Aman Mbak, cuma nanyain aja kayak biasa kapan Tata pulang.” ”Sus bantu aku ke kamar.” pinta Tala. Saat tiba tadi, Geza menurunkan Tala di sofa lalu ia sendiri ke halaman depan untuk menerima telepon dan sepuluh menit sudah berlalu masih belum terlihat tanda percakapan itu akan usai. ”Mari Mbak.” Sus Lia sudah melingkarkan lengan Tala di bahunya, namun pria itu masuk dan segera mengambil alih. “Udah saya bilang, tunggu dulu di sini.” intonasi suaranya tegas. Lantas Geza menoleh kepada Sus Lia. “Sama saya aja, Sus.” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyelipkan satu tangan di bawah lutut Tala dan tangan lainnya menyangga punggung pere
Geza langsung beringsut mendekat, lalu menarik Tala ke dalam pelukannya. Erat sekali.Jauh lebih erat dari biasanya.Tala sempat membeku beberapa detik. Baru setelah menyadari tubuh pria itu benar-benar menempel padanya, ia perlahan mengangkat tangan dan membalas peluknya. Bisa Tala rasakan detak jantung pria itu berpacu dengan hebat.“Mas... aku beneran nggak apa-apa.”Pelukan itu tidak mengendur.Justru semakin erat, seakan Geza masih perlu memastikan sendiri bahwa perempuan yang ada di dalam pelukannya benar-benar baik-baik saja.”Serius aku gapapa.””Mas...”Saat itulah Geza melepas peluk. Matanya menyapu tubuh Tala dari kepala sampai kaki. “Kamu nggak apa-apa?”“Aku gapapa.” ulang Tala sekali lagi.“Mana yang sakit?”Tala menggeleng. “Cuma lecet sama luka kecil. Dokter juga udah periksa.”“Pusing?”“Sedikit.”“Mual?”“Nggak.”Geza masih menatapnya, belum puas dengan jawaban itu. Tangannya terangkat, menyentuh pelipis Tala yang tertutup plester bening. Jemarinya berhenti di sana, b
“Ada keluarga yang bisa dihubungi, Mbak?” tanya suster yang baru saja selesai memasang perban di siku Tala.“Ada nomor telepon yang bisa dihubungi, Mbak?” ulangnya ketika Tala hanya diam.Tala tergagap. Fokusnya masih belum sepenuhnya terkumpul. Plester bening menempel di pelipisnya, sementara kepalanya masih terasa berat dan berdenyut.Ia mengerjap beberapa kali. Pikirannya bergerak lambat, berusaha menangkap sesuatu yang seharusnya begitu sederhana.Tangannya refleks bergerak ke sisi tubuh, hendak meraih ponsel seperti yang biasa ia lakukan setiap kali membutuhkan nomor seseorang. Namun yang disentuhnya hanya ruang kosong.Baru saat itulah ingatannya seperti tersentak. Tas yang berisi ponsel dan semua barangnya hilang.“HP saya...” gumamnya pelan.“Kenapa, Mbak?”“Kayaknya... ikut hilang.”Suster itu terdiam sejenak, lalu kembali bertanya dengan suara lebih lembut.“Ada nomor yang Mbak hafal?”Tala memejamkan mata.Ia mencoba mengingat satu per satu nomor yang mungkin masih tersimpan
Tala masih berkutat dengan beberapa dokumen untuk final review proyek Serpong sore ini ketika sebuah pesan dari nomor asing masuk.Sekilas ia melirik notifikasinya, lalu memilih untuk mengabaikannya karena yakin tak akan jauh dari pesan spam. Ia malas meladeni di tengah kondisi sesibuk ini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Bahkan makan siangnya saja sudah tertunda karena ingin memastikan semua dokumen untuk final review nanti selesai cepat.Proyek revitalisasi yang dulu sempat membuat Janitra heboh itu akhirnya mendekati garis akhir.Tala mengerjakannya dengan jauh lebih hati-hati daripada proyek biasa. Bukan hanya karena proyek tersebut sempat menimbulkan perdebatan di kalangan petinggi Janitra, tapi juga karena Raga pernah mencoba menyusupkan berbagai sabotasenya selama proses pengerjaan. Beruntung sejauh ini, semuanya masih bisa diatasi dan tetap terkendali.Sore nanti, ia akan turun langsung ke lokasi untuk melakukan final review sebelum proyek memasuki tahap soft launch bebe
Geza baru saja menutup panggilan video dengan Tala ketika Kinan menghampirinya di balkon restoran hotel tempat tim mereka menginap selama perjalanan dinas kali ini.“Geza,” panggilnya lembut.Kinan mengeluarkan sebatang rokok dari tas kecilnya, lalu menyalakan pemantik. Bara merah menyala sesaat sebelum ia mengembuskan asap perlahan.“Wanna?”“No. I’m going back to my room.”Geza hendak berbalik, tetapi suara Kinan kembali menahannya.“Tala marah kalau kita ngobrol berdua begini?” tanyanya. “Biarpun yang kita obrolkan bukan masa lalu?”Langkah Geza terhenti.Ia menoleh. “Apa yang mau kamu bilang?” tembaknya langsung ke inti.Kinan hanya tersenyum tipis, lalu kembali mengisap rokoknya.Tarikannya kali ini lebih dalam. Ia menahannya beberapa detik sebelum mengembuskan asap perlahan, membiarkan kepulan putih itu mengaburkan wajahnya sesaat.Kinan yang seperti ini adalah Kinan yang sedang terpuruk.Angin malam Surabaya berembus pelan. Namun hawa yang hangat dan lembap membuatnya nyaris tak
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b







