Beranda / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 210- Geza dan Mesumnya

Share

210- Geza dan Mesumnya

Penulis: Sora Carita
last update Tanggal publikasi: 2026-10-01 09:17:18
Geza mendekat, ia duduk di stool meja dapur minimalis itu.

“Aku bikin sarapan, seadanya yang ada di kulkas kamu,” ujar Tala.

“Hmmm, ya.”

Jujur saja, Geza tak benar-benar bisa fokus pada ucapan Tala. Perhatiannya sudah terlanjur tersita oleh perempuan di hadapannya—dari ujung kepala hingga kaki.

Kemeja yang dikenakan Tala tampak berbahaya saat melekat di tubuh rampingnya. Kebesaran namun juga sekaligus terlihat menantang.

Kemeja itu ikut bergerak setiap kali Tala dengan cekatan berpindah antara m
Sora Carita

Om Eja kendalikan otak mesumnya hei. Dulu pas masih ngontrak dia sering banget lembur dan mengasingkan diri ke apartemen tuh karena buat nahan diri wkwkwk

| 10
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
wd_shinoda
lanjut ngadon...
goodnovel comment avatar
wati
zega lu diem diem udah naksir tala dari dulu ya...
goodnovel comment avatar
Ayra Arsyifa M
Tuh kan,Geza tuh diem diem dr dulu udah naksir Tala,,,,
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sebelum Tiga Tahun   213- Kekhawatiran Geza

    Semua omongan Bastian kemarin masih bercokol di kepala Geza. Haruskah ia berhenti dari permainan ini?Tidak.Sejak kecil, Geza diajarkan satu prinsip sederhana : kalau sudah memilih untuk bermain, permainan itu harus diselesaikan sampai akhir. Menang atau kalah. Sebab berhenti di tengah permainan bukan berarti masalahnya selesai. Ia tidak akan pernah benar-benar bebas sebelum menang di papan catur yang ia susun itu.Kalau begitu, untuk apa mundur?Tapi dengan Tala yang ditempatkan jadi kelemahannya jelas ia banyak berpikir ulang.Dalam catur ada pilihan lain sebetulnya. Remis.Permainan berakhir, tak ada yang menang ataupun kalah. Namun masalahnya bisakah lawannya menerima akhir yang seperti itu?“Mas Ejaaa...”Tala mengibaskan tangan di depan wajah Geza. Keningnya berkerut, jelas bingung melihat suaminya yang sejak tadi tampak melamun.“Kenapa sih kamu? Ada masalah?” tanyanya.“Nggak, kok. Saya cuma lagi mikir kalau misal bingkisannya ditambah gimana,” kilah Geza asal.“Ditambah isin

  • Sebelum Tiga Tahun   212- Bermain Sampai Akhir

    Geza masuk ke ruangannya dengan pintu yang berdebum, membuat Bastian yang sedang duduk di sofa langsung terlonjak.“Sabar, woi. Kenapa lo?” tanya Bastian, keningnya berkerut heran.Geza tidak langsung menjawab. Ia menarik simpul dasinya dengan kasar hingga longgar, lalu mengusap wajahnya sekali sebelum menjatuhkan tubuh ke sofa di seberang Bastian.“Gue ditunjuk buat handle konsorsium area barat...” Rahangnya mengeras. Ia menunduk sebentar, kedua tangannya bertumpu di lutut. “Bangsat!”Bastian langsung menyeringai. “Apa gue bilang. Lo tuh gak bakalan dibiarin hidup tenang.”Geza hanya mengembuskan napas panjang, wajahnya tetap kusut.“So, lo nggak bisa hadepin itu? Satu proyek sama bini sendiri, sekalian sama mantan. Buset, Geza. What a lucky man.” Seringai Bastian makin lebar. “Berisik lo, Bas,”Sebenarnya Geza sudah pernah memperhitungkan kemungkinan dirinya dilempar ke konsorsium area barat. Seharusnya ia tidak terlalu kaget. Yang membuatnya kesal adalah ia semakin sulit membaca i

  • Sebelum Tiga Tahun   211- Warisan Milik Geza

    Acara soft launch yang sudah dipersiapkan selama beberapa waktu akhirnya berjalan lancar hari ini. Lahan kurang lebih empat hektare itu kini sudah tertata dengan progres pembangunan mencapai sekitar tujuh puluh lima persen. Hanya sekitar delapan puluh unit rumah yang ditempatkan di dalam kawasan tersebut, masing-masing membawa konsep modern tropical dengan sentuhan warm minimalism. Selebihnya, ruang hijau. Pepohonan yang dipertahankan, taman-taman kecil di antara cluster, jalur pedestrian, serta ruang terbuka yang membuat kawasan itu terasa jauh lebih lapang dibandingkan jumlah unitnya. Konsep itulah yang dulu paling sering dipersoalkan. Beberapa orang lama di Janitra menganggap Tala terlalu banyak membuang lahan untuk sesuatu yang tidak menghasilkan uang. Namun, melihat quick numbers yang masuk, hasilnya cukup menjanjikan. Tala cukup optimis proyek ini akan laris. Ia juga yakin proyek tersebut bukan sekadar hunian, melainkan bisa menjadi tempat pulang yang sesungguhnya bagi oran

  • Sebelum Tiga Tahun   210- Geza dan Mesumnya

    Geza mendekat, ia duduk di stool meja dapur minimalis itu.“Aku bikin sarapan, seadanya yang ada di kulkas kamu,” ujar Tala.“Hmmm, ya.”Jujur saja, Geza tak benar-benar bisa fokus pada ucapan Tala. Perhatiannya sudah terlanjur tersita oleh perempuan di hadapannya—dari ujung kepala hingga kaki.Kemeja yang dikenakan Tala tampak berbahaya saat melekat di tubuh rampingnya. Kebesaran namun juga sekaligus terlihat menantang.Kemeja itu ikut bergerak setiap kali Tala dengan cekatan berpindah antara meja dapur dan kabinet di atasnya untuk mengambil sesuatu. Sesekali ujungnya terangkat sedikit, memperlihatkan short pants hitam yang dikenakannya. Mencetak bokong Tala yang sintal dan padat—hasil dari olahraga rutin yang belakangan rajin dilakukannya.Jujur saja, Geza dan otak lelakinya menyukai perubahan itu.Sebelumnya pun tubuh Tala sudah bagus. Tapi sekarang jauh lebih bagus. Lebih terbentuk, lebih padat, dan jelas lebih menggoda di mata Geza.Ia menghela napas panjang.Pemandangan pagi ini

  • Sebelum Tiga Tahun   209- Pemandangan Pagi

    “Damn. I’ve missed this.” Umpatan dan racauan apa pun yang keluar dari mulut Geza, dalam keadaan mereka yang sama-sama telanjang, terdengar begitu seksi dan maskulin di telinga Tala. Jika Geza ingin memangsanya, Tala sudah ada di titik menyerahkan diri dengan suka hati. Ada gila-gilanya memang. Berawal dari kaki Tala yang direnggangkan perlahan dan hati-hati, Geza mengusap baretan di bawah lutut Tala yang kini sudah mengering. Jemarinya berhenti sesaat sebelum ia menunduk dan mengecupnya. Gerakannya berlanjut ke lutut, tepat di bagian luka yang lebih dalam. Ia meniupnya pelan sebelum kembali mengecup kulit di sekitarnya. “Sorry for this.” Tala terdiam. “I couldn’t protect you, Tala.” Geza mengusap luka itu sekali lagi dengan ibu jarinya, sangat hati-hati. “I’m okay. And it wasn’t your fault.” Geza menggeleng, Ia cium Tala lagi lembut dan dalam sekali sembari mengusap siku yang di perban itu. Setelahnya kepala Geza turun menuju bilah di antara paha Tala, ia labuhkan kecupan l

  • Sebelum Tiga Tahun   208- CEO yang Menyamar

    “Istirahat duluan, nanti saya nyusul,” ujar Geza dengan tatap yang masih terpekur pada layar laptopnya. “Nanti dulu, masih tanggung,” jawab Tala sambil—lagi-lagi—melirik suaminya itu. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas, namun belum ada tanda pekerjaan Geza akan segera usai. Tekun sekali lemburnya. Mana pria yang katanya sudah tidak suka kerja itu? Rasa kantuk yang Tala tahan sejak tadi makin merayap perlahan. Kelopak matanya semakin berat, sampai akhirnya ia tak lagi sadar kapan tepatnya tertidur. Yang jelas, begitu membuka mata, Tala sudah berada di kamar. Jam di nakas menunjukkan pukul satu pagi. Sementara itu, belum ada tanda-tanda kehadiran Geza di kamar. Mungkin pekerjaannya memang belum selesai. Sekilas tadi Tala sempat melihat apa yang sedang dikerjakan Geza. Pekerjaan dari perusahaan baru yang kini dimilikinya—perusahaan yang dulu milik Nadira. Jendela besar apartemen Geza terbuka, tirainya tersibak, menampilkan kerlip lampu kota di kejauhan. Tala memiringkan tubuh, lalu

  • Sebelum Tiga Tahun    7- Serangan Taktik Pertama

    Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status