Compartilhar

201- Nostalgic?

Autor: Sora Carita
last update Data de publicação: 2026-09-23 09:32:04

Tala masih berkutat dengan beberapa dokumen untuk final review proyek Serpong sore ini ketika sebuah pesan dari nomor asing masuk.

Sekilas ia melirik notifikasinya, lalu memilih untuk mengabaikannya karena yakin tak akan jauh dari pesan spam. Ia malas meladeni di tengah kondisi sesibuk ini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Bahkan makan siangnya saja sudah tertunda karena ingin memastikan semua dokumen untuk final review nanti selesai cepat.

Proyek revitalisasi yang dulu sempat membuat Jani
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (3)
goodnovel comment avatar
Ayra Arsyifa M
Keejaan Dharma ini pasti,,,,duh duh Geza buruan pulang
goodnovel comment avatar
evi erfika
Ada apalgi ini thor ?
goodnovel comment avatar
naraaa
kak pliiiss 1 bab lagii... pliiis penasaran banget lanjutannya!!!
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Sebelum Tiga Tahun   202- Nomor yang Diingat

    “Ada keluarga yang bisa dihubungi, Mbak?” tanya suster yang baru saja selesai memasang perban di siku Tala.“Ada nomor telepon yang bisa dihubungi, Mbak?” ulangnya ketika Tala hanya diam.Tala tergagap. Fokusnya masih belum sepenuhnya terkumpul. Plester bening menempel di pelipisnya, sementara kepalanya masih terasa berat dan berdenyut.Ia mengerjap beberapa kali. Pikirannya bergerak lambat, berusaha menangkap sesuatu yang seharusnya begitu sederhana.Tangannya refleks bergerak ke sisi tubuh, hendak meraih ponsel seperti yang biasa ia lakukan setiap kali membutuhkan nomor seseorang. Namun yang disentuhnya hanya ruang kosong.Baru saat itulah ingatannya seperti tersentak. Tas yang berisi ponsel dan semua barangnya hilang.“HP saya...” gumamnya pelan.“Kenapa, Mbak?”“Kayaknya... ikut hilang.”Suster itu terdiam sejenak, lalu kembali bertanya dengan suara lebih lembut.“Ada nomor yang Mbak hafal?”Tala memejamkan mata.Ia mencoba mengingat satu per satu nomor yang mungkin masih tersimpan

  • Sebelum Tiga Tahun   201- Nostalgic?

    Tala masih berkutat dengan beberapa dokumen untuk final review proyek Serpong sore ini ketika sebuah pesan dari nomor asing masuk.Sekilas ia melirik notifikasinya, lalu memilih untuk mengabaikannya karena yakin tak akan jauh dari pesan spam. Ia malas meladeni di tengah kondisi sesibuk ini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Bahkan makan siangnya saja sudah tertunda karena ingin memastikan semua dokumen untuk final review nanti selesai cepat.Proyek revitalisasi yang dulu sempat membuat Janitra heboh itu akhirnya mendekati garis akhir.Tala mengerjakannya dengan jauh lebih hati-hati daripada proyek biasa. Bukan hanya karena proyek tersebut sempat menimbulkan perdebatan di kalangan petinggi Janitra, tapi juga karena Raga pernah mencoba menyusupkan berbagai sabotasenya selama proses pengerjaan. Beruntung sejauh ini, semuanya masih bisa diatasi dan tetap terkendali.Sore nanti, ia akan turun langsung ke lokasi untuk melakukan final review sebelum proyek memasuki tahap soft launch bebe

  • Sebelum Tiga Tahun   200- Langkah Si Pria Tua

    Geza baru saja menutup panggilan video dengan Tala ketika Kinan menghampirinya di balkon restoran hotel tempat tim mereka menginap selama perjalanan dinas kali ini.“Geza,” panggilnya lembut.Kinan mengeluarkan sebatang rokok dari tas kecilnya, lalu menyalakan pemantik. Bara merah menyala sesaat sebelum ia mengembuskan asap perlahan.“Wanna?”“No. I’m going back to my room.”Geza hendak berbalik, tetapi suara Kinan kembali menahannya.“Tala marah kalau kita ngobrol berdua begini?” tanyanya. “Biarpun yang kita obrolkan bukan masa lalu?”Langkah Geza terhenti.Ia menoleh. “Apa yang mau kamu bilang?” tembaknya langsung ke inti.Kinan hanya tersenyum tipis, lalu kembali mengisap rokoknya.Tarikannya kali ini lebih dalam. Ia menahannya beberapa detik sebelum mengembuskan asap perlahan, membiarkan kepulan putih itu mengaburkan wajahnya sesaat.Kinan yang seperti ini adalah Kinan yang sedang terpuruk.Angin malam Surabaya berembus pelan. Namun hawa yang hangat dan lembap membuatnya nyaris tak

  • Sebelum Tiga Tahun   199- Sirat Khawatir

    “Hei, mulutnya tolong dijaga,” protes Tala. Ia mengambil kedua benda yang diangsurkan Geza.Sang suami duduk di kloset, sementara Tala berdiri di antara kedua pahanya yang terbuka.Krim cukur dioleskan merata di pipi dan rahang Geza. Mesin menyala dengan dengung halus.Tala menahan dagunya, memiringkan wajah Geza sedikit, lalu menggerakkan mesin dengan sapuan pendek di sepanjang rahang. Saat berpindah ke pipi, ibu jarinya menahan kulit agar tetap tegang.Tatapan mereka sempat bertaut dan dari jarak sedekat itu, Tala baru menyadarinya. Ada kusut di balik tatapan Geza. Bukan sekadar sisa kantuk.“Mas...”“Hm?”Tala mematikan mesin cukur di tangannya.“Kamu lagi banyak pikiran?”Geza mengerjap. “Nggak banyak juga.”“Mikirin apa? Mau cerita?”Geza diam sesaat. Tatapannya turun pada mesin cukur di tangan Tala, lalu mengambil benda itu perlahan, meletakkannya di sisi wastafel, kemudian menarik Tala untuk duduk di pangkuannya.“Papa saya dan Raga belakangan ini terlalu tenang,” ia membuka.Ta

  • Sebelum Tiga Tahun   198- Dinas Tujuh Hari

    Tala sendiri tak tahu kenapa naluri biologisnya terasa bereaksi kuat malam ini. Mungkin efek Pilates sore tadi. Atau mungkin karena tahu pria di hadapannya ini akan pergi jauh besok hari. “Bantuan yang bikin kacau,” gumam Geza. Baru kemudian Tala menyadari tangan Geza sudah singgah pada buah dadanya. Kimono tidur yang dikenakannya ternyata telah tersibak sejak tadi, menyisakan lingerie hitam yang nyaris tak lagi tersembunyi. Pantas saja reaksi pria itu begitu cepat. Mari bermain gila saja sekalian. Tala membuka kimono itu lalu melemparkannya ke sembarang arah. Kini yang tersisa hanya lingerie berbahan brokat hitam yang lembut sekaligus menerawang. “Shit,” Geza mengumpat pelan. Dengan kedua kaki Tala yang masih melingkari dan tampilan sensual yang seperti itu, jelas saja konsentrasi pria itu langsung buyar total. Geza mengembuskan napas panjang. Tatapannya berpindah dari Tala ke laptop yang masih terbuka, lalu kembali lagi kepada perempuan di pangkuannya. Dilema yang jelas terli

  • Sebelum Tiga Tahun   197- Variasi Gaya

    “Variasiin gayanya, deh, Ta. Jangan gitu-gitu melulu,” ujar Jia enteng. “Ganjel pake bantal.” imbuhnya. Tala melirik tajam. “Jangan lupa kakinya naik ke pundak...Uh, mantap.” lanjut Jia tanpa dosa. Matanya mengerling pada Tala. Astaga. Tala sungguh malu mendengarnya, meskipun sebenarnya kalimat-kalimat seperti itu sudah begitu akrab di telinganya. Bahkan beberapa di antaranya sudah pernah ia praktikkan. Masalahnya, mereka sedang berada di ruang ganti studio Pilates—kelas yang sudah Tala ikuti selama sebulan terakhir. Semua demi satu tujuan yang belakangan ini disebut sebagai promil natural. Gaya hidup sehat. Padahal dulu, olahraga semacam ini hampir selalu menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Tala. Paling banter ia hanya mau lari. Untuk urusan begini, Jia memang juaranya. Selain lebih berpengalaman, perempuan itu juga terkenal paling ceplas-ceplos. Dan, sayangnya, paling provokatif. Untung Amika tidak hadir di kelas sore ini. Kalau perempuan itu ikut, satu sesi ruang ga

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   10- Rahasia Besar Lain

    Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak

  • Sebelum Tiga Tahun   9- Perjanjian Tiga Tahun

    Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi

  • Sebelum Tiga Tahun   8- Rencana Paling Rapi

    Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status