“Dia pengen jadiin lo FWB, deh, kayaknya.”Tala terhenyak mendengarnya. Obrolan yang dimulai di kafe itu ternyata berlanjut hingga mereka sampai di rumah. Saat ini, mereka berada di kamar tamu—wilayah yang sudah Tala klaim sebagai tempat perlindungannya—sementara kamar utama ditempati oleh Geza. Sansa sedang tidur sore, dan dengan Sus Lia yang berada di lantai bawah, suasana dirasa cukup aman untuk mengobrol jauh lebih leluasa.“Dari semua asumsi lo, ini yang paling liar dan nggak masuk akal, Mik,” balas Tala ketus.“Masuk akal, kok. Gini,” Amika menjeda, menatap Tala dengan pandangan analitis. “Geza itu laki-laki dewasa, mapan, dan lo sendiri bilang dia jomblo.”“Eh, nggak, ya!” sanggah Tala cepat.“Lo bilang waktu itu lo pake kebaya mantannya, mantan ya berarti jomblo dong sekarang!” sahut Amika tanpa ampun.“Gak tau gue gak minat ngurusin.” Sambar Tala.Amika tak goyah. Ia justru mencondongkan tubuh, menopang dagu dengan satu tangan sambil duduk di ujung ranjang.“Tipe kayak Geza y
Read more