Pintu ruang rapat terbuka. Tala melangkah masuk dengan blazer krem yang tegas, diikuti Suwandi dengan jarak yang memberi kesan bahwa Tala adalah pusat kendali. Raga menyambut dengan seringai remeh. "Selamat pagi, Adik Ipar. Gimana kabar keponakan saya?""Cukup baik, terimakasih." jawab Tala dingin sebelum duduk dengan tenang.Tala tidak menoleh ke samping, namun di setiap langkahnya, ia bisa merasakan tatapan tajam Raga dari ujung meja rapat. Begitu Tala duduk, pria itu menyeringai remeh, menyandarkan punggung ke kursi dengan arogan—khas seseorang yang merasa posisinya tak akan tergoyahkan.Sansa, di ruang privat yang terhubung melalui dinding kaca, sedang sibuk dengan dunianya bersama sang nanny, namun keberadaan anak itu—yang bisa Tala lihat melalui pantulan kaca—menjadi pengingat akan alasan utama ia berada di sana.Rapat masih menyisakan lima menit sebelum dimulai, namun Raga tidak berniat membiarkan waktu itu berlalu dengan tenang.“Gimana rasanya, Ta?” Raga membuka suara, cukup
Read more