Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 29- Mau Marah Atau Makin Cinta?

Share

29- Mau Marah Atau Makin Cinta?

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-06-02 11:03:54

“Kamu nggak seharusnya sekeras itu sama istri kamu, Geza,” ucap Suwandi tenang, sambil melipat tangannya di atas meja. “Dia itu pasangan hidupmu, partner. Bukan bawahan yang harus diintimidasi setiap kali dia melakukan—apa yang menurutmu—kecerobohan.”

Geza menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke jendela besar yang menghadap kota. “Saya cuma nggak habis pikir sama sifat keras kepalanya, Pak.”

Suwandi tersenyum tipis. “Dia cuma mau menjaga integritasnya Za. Saya bantu dia karena dia meng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   218- Anniversary

    Tala kembali mematut dirinya di depan cermin. Gaun hitam panjang dengan potongan mengikuti lekuk tubuhnya jatuh hingga mata kaki, dengan slit yang membelah salah satu sisinya. Ia memasangkannya dengan heels hitam sederhana dan anting kecil yang berkilau samar.Rambutnya dibiarkan tergerai di satu sisi bahu ditambah polesan lipstik merah gelap di bibirnya. Tala sedikit lebih berani dari biasanya. Pas untuk malam anniversary mereka.Geza mengajaknya dinner di Étoile—tempat yang dulu pernah ia rancang untuk makan malam sekaligus menyatakan perasaannya kepada Tala. Sayangnya, rencana itu gagal total karena fakta pemecatan itu terlanjur terbongkar.Sedikit miris kalau mengingatnya sekarang.Geza masih dalam perjalanan dan seharusnya sebentar lagi sampai. Namun, lima belas menit berlalu dari waktu yang dijanjikan, pria itu belum juga muncul dan pesan Tala pun belum dibalas.Tentu saja Tala mulai resah.Sejak memergoki Geza dan Kinan di gelato beberapa hari lalu, sedikit banyak ia memang sang

  • Sebelum Tiga Tahun   217- Partner Legend

    Jika dihitung-hitung kejadian penjambretan itu sudah terlewat beberapa waktu lamanya, namun Geza masih cukup posesif dan ditambah lagi beberapa hari ini ia selalu terlihat gusar. Kegusaran yang sama lagi-lagi kembali Tala dapati pagi ini, dari wajah pria yang kini tengah mengantarnya ke Janitra setelah sebelumnya mengantar Sansa. “Mas Geza, are you okay?” tanya Tala. “Yeah, of course.” “Kamu bisa cerita kalau lagi pusing,” ujar Tala lembut. “All good. Biasalah, urusan perusahaan Nadira,” Geza melirik sekilas lalu kembali fokus pada hiruk pikuk kemacetan karena lampu merah. “Dan Meridian?” tebak Tala. Geza menoleh. Ada jeda singkat sebelum ia bertanya, “You know?” “Aku tahu dari Pak Suwandi.” Geza hanya mengangguk. Kali ini ia tak mengatakan apa-apa. Tangannya justru terulur meraih jemari Tala, menggenggamnya erat, sementara tangan satunya tetap mengetuk-ngetuk setir sambil menunggu lampu merah berganti. “Mas, nanti malam kamu pulang larut?” “Belum tahu. Harusnya sih nggak.

  • Sebelum Tiga Tahun   216- Pretty Storyteller

    Dalam konsorsium ini, Geza memang harus sering bekerja sama dengan Kinan. Tala paham itu. Ia juga tahu bagaimana Geza biasanya begitu menjaga batasan—setidaknya, itulah yang selama ini sering Tala lihat. Namun belakangan, Geza seperti mulai pasrah saja ketika Kinan mengikutinya ke mana-mana atau mengajaknya pergi. Sejak kapan tepatnya? Mungkin sejak ulang tahun Sansa. Sehari setelah perayaan itu, Kinan datang ke rumah membawa kado besar untuk Sansa, berupa replika rumah barbie. Geza yang biasanya cukup menjaga jarak justru terlihat biasa saja dan seolah menerima kehadiran Kinan di sana. Memang, basa-basi mereka tetap dilakukan di depan Tala. Namun, tetap saja Tala merasa tidak nyaman. Apalagi, selalu ada saja obrolan yang menyerempet masa lalu—tentang bagaimana dulu mereka begitu solid dan saling memahami. Sungguh, Tala sudah membuang jauh-jauh pikiran negatif dan rasa cemburunya untuk menghadapi meeting pagi tadi. Tapi melihat Geza dan Kinan makan siang bersama, ditambah satu ti

  • Sebelum Tiga Tahun   215- Meeting Bersama

    Enam tahun lalu, Tala bertemu Geza di sebuah proyek township. Sebuah kebetulan yang jelas bukan pertemuan dengan kesan baik.Kala itu, Geza termasuk yang paling getol mengkritisi pekerjaan Tala—bahkan sesekali merembet ke hal-hal remeh yang bersifat personal. Tala sendiri sudah bukan junior, meski belum bisa disebut senior, ketika bergabung dalam proyek tersebut setelah memenangkan kompetisi yang diadakan konsultannya.Yang paling membuat Tala kesal, Geza selalu berhasil membuatnya merasa kemampuannya diremehkan dan dirinya terintimidasi. Kebencian itu makin kuat karena sejak awal bertemu sebagai sesama ipar, ia memang sudah kehilangan respek padanya. Selain karena Alleya, tentu juga karena mulut tajam dan arogannya.Dan pagi ini, ia kembali bertemu Geza dalam sebuah proyek—dengan status yang bukan lagi sekadar adik ipar kakaknya yang menyebalkan, melainkan suami. Ditambah sepaket dengan orang dari masa lalunya juga. Kinan.Mereka punya agenda meeting bersama.Tala meneguk air minumnya

  • Sebelum Tiga Tahun   214- Sebuah Kemewahan

    Rumah singgah itu berlokasi tak jauh dari rumah mereka. Tepatnya di sebuah rumah tua milik kenalan Tala, dengan halaman yang luas dan satu pohon beringin yang tumbuh rimbun di tengahnya. Anak-anak jalanan datang ke sana tiga kali seminggu, kadang sampai empat kali jika ada yang mengisi kegiatan. Dulu, ketika Tala masih menganggur, ia cukup sering menghabiskan waktunya di tempat itu. Semua goodie bag yang Tala siapkan bersama “antek-antek Geza” sudah diangkut lebih awal oleh driver. Dibungkus dengan plastic wrap hijau sage dan ditata begitu cantik, semuanya khas Tala yang selalu menyukai estetika. Acara berjalan lancar. Dibuka dengan sesi mendongeng, menyanyi dan tiup lilin lalu ditutup dengan penampilan badut. Jauh lebih sederhana dibandingkan tahun lalu. Di tengah acara, Bude Sinta juga sempat melakukan panggilan video. Ia tidak bisa pulang ke Indonesia karena anaknya kembali masuk rumah sakit. Selebihnya, semua berjalan lancar dan aman. Sampai kedatangan Dharma dan Ratna mengac

  • Sebelum Tiga Tahun   213- Kekhawatiran Geza

    Semua omongan Bastian kemarin masih bercokol di kepala Geza. Haruskah ia berhenti dari permainan ini? Tidak. Sejak kecil, Geza diajarkan satu prinsip sederhana : kalau sudah memilih untuk bermain, permainan itu harus diselesaikan sampai akhir. Menang atau kalah. Sebab berhenti di tengah permainan bukan berarti masalahnya selesai. Ia tidak akan pernah benar-benar bebas sebelum menang di papan catur yang ia susun itu. Kalau begitu, untuk apa mundur? Tapi dengan Tala yang ditempatkan jadi kelemahannya jelas ia banyak berpikir ulang. Dalam catur ada pilihan lain sebetulnya. Remis. Permainan berakhir, tak ada yang menang ataupun kalah. Namun masalahnya bisakah lawannya menerima akhir yang seperti itu? “Mas Ejaaa...” Tala mengibaskan tangan di depan wajah Geza. Keningnya berkerut, jelas bingung melihat suaminya yang sejak tadi tampak melamun. “Kenapa sih kamu? Ada masalah?” tanyanya. “Nggak, kok. Saya cuma lagi mikir kalau misal bingkisannya ditambah gimana,” kilah Geza asal. “Dit

  • Sebelum Tiga Tahun   11- Celah di Sofa Abu

    Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang

  • Sebelum Tiga Tahun   3- Rumah Bagi Sansaya

    Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda

  • Sebelum Tiga Tahun   2- Warisan Rumit

    Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k

  • Sebelum Tiga Tahun   1- Kehilangan yang Tak Terduga

    Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status