Home / Romansa / Sebelum Tiga Tahun / 27- Kebohongan Elegan

Share

27- Kebohongan Elegan

Author: Sora Carita
last update publish date: 2026-05-31 00:23:41

“Nggak lah, Bude.” Geza tersenyum kecil sambil mengusap punggung tangan Tala pelan. “Saya percaya sama Tala.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap Tala sekilas dengan sorot mata yang sulit dibaca.

“Kalau nggak percaya, saya nggak mungkin naruh banyak hal penting di tangan dia.”

Sebuah ancaman.

Sampai detik ini semuanya memang masih aman. Site Melawai belum menimbulkan masalah. Suwandi juga masih memainkan perannya dengan rapi. Tapi Geza terlalu pintar untuk terus dibohongi dalam waktu lama. Tala t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sebelum Tiga Tahun   55- Alasan Membenci

    “Geza.” Amika menjawab.Tala menggeleng pelan. "Itu cuma asumsi lo doang kali, Mik.""Nggak kok, orang gue punya bukti.""Mana?"Amika menyandarkan punggungnya ke kursi. "Inget gak proyek Cikarang yang bikin lo kelabakan beberapa bulan lalu? Yang hampir batal gara-gara pemilik lahannya tiba-tiba minta harga naik."Tala mengangguk. Ia masih ingat betul bagaimana proyek itu nyaris membuat kepalanya pecah."Lo pikir kenapa akhirnya pemilik lahan itu balik ke harga awal?""Lah, karena negosiasi tim legal Janitra."Amika menggeleng.“Gue baru tahu belakangan dari konsultan appraisal yang ikut duduk di pertemuan terakhir," lanjut Amika, memajukan tubuhnya sedikit demi memberikan penekanan. "Sebelum Janitra masuk lagi buat negosiasi, Geza ternyata pakai pihak lain buat lebih dulu ketemu pemilik lahannya.”Tatapan Tala membeku."Dia nggak nawar. Nggak maksa juga." tutur Amika."Terus?"“Pihak suruhan Geza cuma bilang kalau Bhuwana nggak akan ikut masuk atau ngerebut lahan itu. Dan menurut dia

  • Sebelum Tiga Tahun   54- Penjaga Punggung

    "Kamu lagi dapet, Ta?" tanya Geza dengan suara yang luar biasa serak dan tertahan, menuntut penjelasan dari wanita di bawahnya yang sudah berhasil membuatnya gila setengah mati.Di bawah kungkungan tubuh Geza yang menegang kaku, Tala justru menarik napas panjang, menikmati pasokan oksigen sebanyak mungkin. Alih-alih merasa bersalah atau panik karena tertangkap basah, seulas senyum kemenangan terbit di wajahnya yang merona merah.Dengan gerakan lambat, ia mengalungkan kembali kedua lengannya di leher pria itu, sengaja merapatkan tubuh atas mereka yang sama-sama polos tanpa sekat.“Not tonight…You lose Mas Geza.”Geza mendengkus kesal. Kepalanya mendongak ke langit-langit kamar sejenak, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu berantakan. Rasa panas dan berdenyut di bagian bawah tubuhnya benar-benar menyiksa. “Fine,” ujar Geza akhirnya, menatap Tala dengan senyum miring yang menantang balik. “Kamu menang Tala. Puas? Tapi jangan pikir kamu bisa lepas gitu aja.”Dengan gerakan yang s

  • Sebelum Tiga Tahun   53- Malam Kemenangan Tala

    Pertanyaan Geza menggantung di antara mereka, bergesekan dengan udara kamar yang mendadak terasa gerah. Tala menyunggingkan senyum tipis—sebuah lengkung samar yang penuh arti.Tangannya bergerak menutupi jemari Geza yang masih tertahan di resleting dressnya menuntun tangan pria itu untuk tetap di sana, merasakannya langsung lewat sekat kain gaun yang tipis.“Menyesal?” suara Tala mengalun rendah melebur dengan kesunyian malam. “Pion nggak pernah punya pilihan buat jalan mundur, bukan?”Geza menyentak, menepis tangan Tala yang menutupi jemarinya di atas resleting dress wanita itu. Dalam satu gerakan cepat, tangannya naik ke tengkuk Tala, meremasnya dengan tekanan yang menuntut.“Nggak ada pion yang punya kuasa buat mengacaukan isi kepala saya kayak gini.” balas Geza dengan suara menggeram.Bersamaan dengan kalimat itu, Geza melangkah maju. Dorongan tubuhnya membuat Tala mundur tertatih, kehilangan keseimbangan hingga bagian belakang lututnya membentur tepi ranjang dan di detik berikutn

  • Sebelum Tiga Tahun   52- Sengatan Halus

    “Tell me.” ucap Tala lagi, ujung telunjuknya bergerak lambat menyusuri dada Geza.Geza segera mencekal jemari itu. “Kamu mabuk, Tala.”“Nggak, aku masih cukup sadar buat bisa lawan semua fans kamu yang buas itu.” sanggah Tala.“Kenapa? Mereka ganggu kamu lagi?” tanya Geza.“Nggak secara langsung.”“Sorry Ta, ada beberapa hal yang harus saya urus di sini. Jadi sering ninggalin kamu.” sesal Geza.Tala terkekeh. “GM residential development….”“... pasti sesibuk itu sih,” lanjut Tala, nadanya mengayun ringan.Efek segelas setengah wine tadi mulai bekerja, membuat tubuhnya terasa seringan kapas, sekaligus menyulut lebih banyak keberanian. Aroma bergamot yang maskulin dan familier dari jas Geza yang tersampir di bahunya perlahan menguar, mengepung indra penciuman. Aroma itu egois, persis seperti pemiliknya, mengklaim Tala di tengah dinginnya angin malam.Di bawah lampu balkon, tatapannya yang agak sayu menyisir garis rahang kokoh Geza.“Jadi,” Tala memulai lagi, menatap Geza tanpa berkedip,

  • Sebelum Tiga Tahun   51- Pengakuan Dosa

    Suara sumbang itu sukses membuat Tala kesal."Selingkuh? Nggak mungkin ah. Pak Geza nggak kelihatan kayak cowok yang begitu. Kerjaannya aja udah segunung.”Bukan peselingkuh? Komentar itu justru sedikit menggelitik Tala, mengingat beberapa fakta masa lalu yang ia ketahui."Tapi gue tetap nggak rela aja. Yang diucapin terima kasih malah cewek lain, padahal Mbak Kinan yang nemenin semua prosesnya."Realistis. Tapi yang membuat Tala semakin kesal adalah kenyataan bahwa Geza sengaja menyeretnya ke bawah sorotan yang bukan miliknya."Iya sih, gue kalau jadi Mbak Kinan nangis parah. Eh tapi sis, kalau nggak selingkuh nggak mungkin dong tiba-tiba nikah gitu aja."Tala mengenali bahwa suara-suara ini berbeda dari para penggosip yang ia dengar kemarin sore.Astaga. Ternyata jumlah hatersnya lebih banyak dari yang ia kira. Harusnya Tala keluar saja daripada menguping omongan sampah macam itu.Harusnya.Tapi tubuhnya bicara lain. Ia malah tetap berdiri di depan wastafel, berpura-pura merapikan r

  • Sebelum Tiga Tahun   50- Pusat Perhatian

    Tala baru saja menyapukan blush on di pipi saat pesan dari Rena masuk.Pakai lipstik merah, Mbak. Pasti cantik. Tunjukin kalau Mbak nggak apple to apple sama mantan. Soalnya Mbak levelnya di atas.Tala hanya terkekeh membacanya.Dari obrolan sore tadi, Rena cuma bilang kalau Kinan pernah bekerja di Bhuwana sebelum akhirnya pindah ke luar negeri. Hanya itu. Tala juga tidak berniat mencari tahu lebih jauh. Toh itu bukan urusannya.Ini malam kedua retreat. Bhuwana menggelar dinner sekaligus malam apresiasi atas pencapaian Divisi Residential Development sepanjang tahun ini. Acara itu turut mengundang keluarga para karyawan dan jajaran manajemen, menjadikannya lebih dari sekadar makan malam biasa.Artinya Tala harus kembali tersenyum, berbasa-basi, menjadi istri Geza di depan publik dan jelas menghadapi lebih banyak tatapan penasaran serta bisik-bisik tentang dirinya dan pria itu. Malam saat welcoming BBQ kemarin tingkah Geza yang berlebihan sukses menjadi bahan bakar baru bagi para penggo

  • Sebelum Tiga Tahun   42- Pria Sebrengsek Itu

    "Ta, gimana rasanya tidur seranjang sama Geza tiap hari? Bikin naluri biologis lo bergejolak nggak?"Pertanyaan paling absurd itu sebenarnya tidak memengaruhi Tala. Hanya saja, cukup mengganggu ketika Geza duduk anteng di sebelahnya—tidak menyebalkan, tidak cari perkara seperti malam ini.Tumben se

  • Sebelum Tiga Tahun   41- Jadwal Pacaran

    Pukul sebelas lewat tiga puluh, Geza masih berada di ruang rapat lantai dua puluh Bhuwana Sedaya Tower, menghadiri pembahasan kerja sama pengembangan kawasan terpadu yang dihadiri tim proyek, konsultan, dan pihak investor.Setengah jam lagi rapat itu akan selesai. Pembahasan inti sudah tuntas, meny

  • Sebelum Tiga Tahun   39- Simulasi Jadi Orang Tua

    Jabatan baru Tala di Janitra tak lantas memberinya ruang untuk bernapas lebih lega. Meski Suwandi sangat membantu sebagai CEO, banyak keputusan penting tetap berada di tangannya sebagai wali Sansa. Mau tak mau, Tala harus mempelajari seluk-beluk manajemen Janitra sampai keponakannya itu cukup dewas

  • Sebelum Tiga Tahun   38- Temenin Saya

    Tala meletakkan sepiring lapis legit di atas meja ruang kerja Geza. Secangkir kopi hitam masih mengepulkan uap tipis di sampingnya.Sore tadi, sepulang dari Janitra, Tala berpapasan dengan Tante Desi di parkiran. Ia dititipi kue favorit Geza beserta sebungkus besar kopi giling. Semua sempat terongg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status