Tanpa menanggapi ucapan Alea, Salsa memilih keluar dari ruangan itu. Setelah melepas pakaian steril yang tadi ia pakai, Salsa langsung menemui sang ayah. Semua orang menatapnya jijik. Tapi Salsa tak peduli itu. Dia bahkan tak berpamitan pada siapa pun ketika melangkah menjauhi ruang ICU bersama sang Ayah. Salsa tak menoleh lagi ke belakang, tapi dia mendoakan yang terbaik untuk Nathan. “Biar Ayah yang bawain tasnya, Nak,” ucap sang Ayah memberi tawaran. Salsa menggeleng dan memilih terus berjalan sambil menggandeng tangan sang ayah agar tubuhnya tidak oleng. Kakinya lemas seperti tak bertulang, bahkan seluruh tubuhnya terasa sangat dingin. Belum lagi kram di perutnya masih terasa jelas seolah sedang ada yang menggigit perutnya hingga sakit. Sesekali dia meringis menahan sakit yang menyerangnya. Saat akan belok di ujung lorong, suara Alea menghentikan langkahnya. “Tunggu,” ucap Alea. Salsa berhenti dan membalikkan badan guna bisa menatap Alea. Siapa sangka Alea malah berlari ke ar
Read more