LOGINPov Samuel
Aku sama sekali tidak masalah jika harus menahan sisa rasa pusing yang berputar di kepalaku, mual yang sempat mengocok perut, atau bahkan kenyataan bahwa aku mendadak tidak bisa makan makanan sejak sejak tadi. Semua penderitaan fisik itu menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang kebahagiaan yang teramat masif saat telingaku mendengar kalimat dokter barusan, Emelia hamil.Kedua sudut bibirku tidak hentinya terangkat, membentuk senyuman lebar yanDengan tubuh yang terasa jauh lebih sehat dan bugar, aku menuntun Emelia keluar dari kamar. Istri kecilku itu juga terlihat sangat segar, rona bahagia terpancar jelas dari wajah cantiknya saat kami berjalan beriringan menuju ruang makan keluarga.Di sana, para orang tua rupanya sudah duduk berkumpul menunggu kehadiran kami. Aku bisa melihat gurat kebanggaan yang teramat jelas terukir di wajah mereka. Namun, atensiku mendadak teralih sepenuhnya pada beberapa hidangan yang tersaji di atas meja makan panjang tersebut.Semua jenis makanan sehat pencegah morning sickness sudah tertata dengan sempurna, mulai dari potongan buah-buahan segar, susu hangat khusus ibu hamil, roti gandum, hingga daging panggang rendah lemak yang menggugah selera.“Ini Papa yang menyiapkan semuanya,” ujar Papa Lucas tiba-tiba, menepuk dadanya sendiri dengan lagak super bangga.“Enak saja! Aku juga ikut menyiapkannya kalau kamu mendadak lupa, Lucas,&rdqu
POV SamuelAku sempat mematung selama beberapa detik, mencoba mencerna permintaan Emelia yang teramat tidak biasa ini. Bagaimana bisa di pagi ini, dengan wajah polosnya, dia merengek ingin memperlakukan kejantananku seolah itu adalah es krim?Awalnya keraguan hebat sempat melintas di benakku karena mengkhawatirkan kondisinya yang tengah hamil muda. Namun, begitu mengingat bahwa ini adalah bawaan dari hormon calon anakku, aku akhirnya mengalah. Aku mengendurkan cekatan tanganku dan membiarkan istri kecilku itu mulai meloloskan benda berharga milikku dari balik kungkungan kain celana.Awalnya hanya berupa sentuhan jari yang teramat pelan dan ragu. Namun secara perlahan, Emelia mulai menggenggamnya dengan mantap. Tentu saja, hantaman rangsangan yang begitu mendadak itu membuat milikku langsung menegang sempurna dan berdiri dengan gagah dalam hitungan detik.Aku refleks memejamkan mata erat-erat, meremasi sprei di bawah tubuhku demi menaha
“Emelia ... kamu tidak sedang mengigau, kan?” tanya Samuel memastikan. Sepasang netra elangnya menatapku lekat dengan binar antara kaget dan penasaran yang campur aduk.Tanpa ragu sedikit pun, aku menganggukkan kepalaku tegas. Aku membalas tatapan matanya dengan binar memohon yang teramat dalam, sementara telapak tanganku perlahan bergerak turun, mengelus dada bidangnya dengan gerakan memutar yang provokatif.“Hmm... aku juga tidak tahu kenapa, Samuel. Tapi malam ini aku benar-benar menginginkanmu. Aku... aku ingin kita melakukannya,” jawabku jujur, menanggalkan seluruh urat maluku demi menuntaskan desakan aneh yang menyiksa tubuhku.“Tapi kamu sedang hamil muda, Sayang. Apa secara medis kita boleh melakukannya sekarang?” tanya Samuel lagi. Nada suaranya terdengar sangat ragu, ada binar protektif di matanya yang menahan diri demi keselamatan janin di rahimku.Aku terdiam sejenak, menggigit bibir bawahku pelan. Aku tahu
POV EmeliaAku tertawa pelan memperhatikan Papa Lucas dan Papa Arturo yang mendadak super sibuk di balik konter dapur, lalu mengalihkan pandanganku pada Samuel yang sedang tersenyum simpul menatapku. Tangannya terulur lembut, mengusap helai demi helai rambutku dengan penuh kasih sayang. Sorot matanya seolah menyiratkan bahwa seluruh kegilaan malam ini sengaja ia lakukan hanya untuk menghiburku.Benar. Setelah rentetan badai mengerikan yang sempat memporak-porandakan kami, aku akhirnya bisa kembali tertawa lepas, apalagi melihat kelakuan konyol dua pria paruh baya yang biasanya ditakuti di dunia bisnis itu.“Terima kasih, ya,” ujarku lembut, menatap lurus ke dalam sepasang netra elangnya yang kini melunak.“Apa pun akan kulakukan demi kamu,” Samuel menjeda kalimatnya sejenak. Tangannya yang hangat bergerak turun, mengelus perlahan perut rataku yang masih tampak biasa saja. “Dan sekarang, juga
Tanganku sejak tadi tidak hentinya menggenggam erat jemari istriku. Aku menatap tajam dokter perempuan bermata biru di hadapan kami yang tengah bersiap memeriksa kondisi Emelia. Begitu tangan dokter itu bergerak hendak menyibak sedikit pakaian Emelia untuk membuka bagian perutnya, aku seketika menoleh ke belakang, menatap Papa Lucas dan Papa Arturo dengan pandangan mengintimidasi.“Jangan lihat,” ujarku langsung dengan nada dingin, bahkan sampai membuat dokter itu menghentikan pergerakan tangannya karena terkejut.“Lah, kenapa? Emelia ini anak Papa kalau kamu lupa, Samuel,” jawab Papa Lucas, spontan protes tidak terima.“Benar. Papa hanya mau memastikan kondisi calon cucu Papa saja, kenapa sih kamu berlebihan sekali?” timpal Papa Arturo ikut menggerutu.
Pov Samuel Aku sama sekali tidak masalah jika harus menahan sisa rasa pusing yang berputar di kepalaku, mual yang sempat mengocok perut, atau bahkan kenyataan bahwa aku mendadak tidak bisa makan makanan sejak sejak tadi. Semua penderitaan fisik itu menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang kebahagiaan yang teramat masif saat telingaku mendengar kalimat dokter barusan, Emelia hamil.Kedua sudut bibirku tidak hentinya terangkat, membentuk senyuman lebar yang rasanya mustahil bisa ku padamkan hari ini. Aku ... sebentar lagi akan resmi menjadi seorang ayah.Namun, lihatlah pemandangan konyol di depan mataku sekarang. Calon anakku bahkan baru berwujud benih kecil di dalam rahim ibunya, tetapi dua pria paruh baya di hadapanku ini sudah ribut saling klaim hak milik. Enak saja! Bayi itu jelas-jelas harus mirip denganku. Aku yang berjuang membuatnya ada di dalam perut istriku, jadi secara mutlak dia wajib mewarisi ketampanan dan kehebatanku!
Dengan mengendarai mobil hitam dan dikawal oleh beberapa kendaraan pengawal di belakangku, akhirnya aku sampai di lokasi pertemuan yang ditentukan Lucas. Aku sempat tertegun saat menyadari bahwa dia mengajakku bertemu di rumah pribadinya. Kabar yang beredar mengatakan bahwa sangat jarang ada oran
Emelia sudah tertidur dengan pulas, gurat wajahnya terlihat begitu damai di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Aku mengelus kepalanya pelan; aku memang sengaja membuatnya kelelahan. Setelah sesi panas di kolam renang tadi, aku tidak langsung berhenti begitu saja. Aku kembali membawanya ke pun
POV Samuel.Mendengar permintaan Emelia, aku sempat merasa ragu. Sejauh yang dunia bisnis tahu, Lucas tidak pernah memiliki keluarga. Ia adalah pria yang dingin dan tertutup, jadi mana mungkin dia memiliki seorang anak?Aku seketika menggelengkan kepala, mencoba
Pov EmeliaAku baru saja berniat membuat makan malam. Meskipun ada pelayan, aku ingin memasak sesuatu yang spesial untuk Samuel. Aku butuh kegiatan karena aku merasa sangat bosan jika hanya berdiam diri sejak tadi.Tiba-tiba, suara tembakan menggelegar. Jantungku







