Se connecterTanganku sejak tadi tidak hentinya menggenggam erat jemari istriku. Aku menatap tajam dokter perempuan bermata biru di hadapan kami yang tengah bersiap memeriksa kondisi Emelia. Begitu tangan dokter itu bergerak hendak menyibak sedikit pakaian Emelia untuk membuka bagian perutnya, aku seketika menoleh ke belakang, menatap Papa Lucas dan Papa Arturo dengan pandangan mengintimidasi.
“Jangan lihat,” ujark
POV SamuelMeskipun aku menuruti keinginan Emelia untuk berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan mewah ini, ketahuilah bahwa aku tidak pernah benar-benar melepaskan pengawasanku. Sejak kami melangkah keluar dari gerbang mansion, aku sudah mengerahkan beberapa tim anak buah terbaikku untuk menyamar sebagai pengunjung biasa. Bahkan, Papa Lucas yang dipenuhi naluri protektif juga melakukan hal yang sama saat ini.Kami tidak akan membiarkan, ada satupun celah bahaya yang berpotensi melukai istri dan calon anakku.Itulah mengapa, saat sepasang mataku menangkap sosok Ana—ibu angkat istriku—yang melangkah mendekat dengan gelagat penuh kebencian, aku sudah berada di ambang batas kesabaran. Aku hampir saja melangkah maju untuk memotong jalurnya. Namun, langkah kakiku mendadak terhenti saat mendengar rentetan kalimat lantang yang keluar dari bibir Emelia.Aku mengulas senyum tipis yang tersembunyi di balik masker hitamku. Dadaku bergemur
POV EmeliaAku tidak bisa menyembunyikan senyuman yang terus merekah sejak melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan mewah ini. Jujur saja, sudah sejak lama aku mendambakan momen bisa berbelanja santai dengan Mama—sebuah memori masa kecil yang tidak pernah berkesempatan kukecap dulu. Aku ingin menebus semua waktu yang telah kami lewati terpisah. Membeli baju kembaran, berburu tas yang sama, dan tertawa lepas selayaknya interaksi manis antara ibu dan anak perempuan pada umumnya.Sesekali, aku terkekeh pelan melirik ke arah Samuel yang berjalan konstan beberapa meter di belakang kami. Lihatlah, suamiku itu malah kelihatan persis seperti pengawal pribadi. Dengan setelan jas hitam formal, celana bahan senada, dan wajah yang tertutup masker medis hitam, auranya tampak dingin dan waspada.Aku perlahan melepaskan rangkulan tanganku pada lengan Mama, berbalik memutar tubuh, lalu berlari kecil menghampiri Samuel yang masih setia menatap setiap pergerakanku.
“Katanya mobilmu sempat diadang orang kemarin, Samuel?” tanya Papa Lucas bertubi-tubi. Beliau sengaja langsung datang ke mansion begitu mendengar kabar angin yang berembus di lingkungan keamanan.Aku mengangguk pelan dengan ekspresi sewajar mungkin, tidak ingin memicu kepanikan berlebih. “Mereka hanya orang sipil biasa yang kebetulan mabuk berat sejak semalam, Papa. Tapi aku tidak percaya begitu saja pada laporan awal,” jawabku tenang namun tegas.Papa Lucas mengangguk-angguk paham, guratan kecemasan tercetak jelas di keningnya. “Benar, jangan pernah percaya begitu saja. Kita harus ekstra waspada sekarang. Kalau bisa, untuk sementara waktu Emelia jangan diizinkan keluar rumah dulu. Papa hanya takut ada musuh lama yang mengendus kabar kehamilannya. Mereka pasti akan menggunakan segala cara agar kita kehilangan generasi penerus.”“Iya, Papa. Aku akan memastikan Emelia selalu berada dalam jangkauan pengamanan ketat.”
Aku menatap datar para anak buahku. Rasanya sulit dipercaya saat mereka melaporkan bahwa insiden tadi murni kelakuan dua orang pemabuk yang mengendarai mobil dalam kecepatan ugal-ugalan.Sialan, mereka hampir saja membuat istriku celaka karena mengemudi ugal-ugalan di bawah pengaruh alkohol—atau mungkin bahkan obat-obatan terlarang.“Jangan lepaskan mereka begitu saja. Aku merasa bajingan-bajingan itu hanya digunakan sebagai umpan,” ujarku dingin, karena merasa terlalu kebetulan saja. Lagian, orang gila mana yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk?“Baik, Tuan. Akan kami laksanakan,” jawab anak buahku di seberang sana sebelum memutuskan sambungan.Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan sisa ketegangan. Tadi, aku memang sempat keluar sebentar setelah anak buahku mengetuk pintu kaca untuk memberikan laporan awal. Aku sengaja meninggalkan Emelia sendirian di dalam mobil yang terkunci rapat, aku sama sekali
Kelopak mataku perlahan terbuka saat sebersit aromaterapi yang menenangkan menusuk indra penciumanku. Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatanku saat kesadaranku pulih adalah wajah cantik Emelia yang tengah menatapku dengan binar cemas. Tanpa membuang waktu, aku seketika bangkit dari posisi berbaringku dan langsung merengkuh erat tubuh ringkihnya. Aku menenggelamkan wajahku dalam-dalam di ceruk leher istriku, menghirup aroma tubuh alami miliknya yang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafku.Sebab aku tahu, tidak ada obat medis di dunia ini yang bisa menyembuhkanku dari siksaan kehamilan simpatik ini. Hanya Emelia. Hanya aroma tubuhnya yang begitu candu yang mampu menjadi penawar rasa mualku dalam sekejap.Aku semakin menenggelamkan wajahku di sana, menikmati rasa nyaman yang kian lengkap saat merasakan elusan lembut dan konstan di punggungku.“Kita pulang saja ya, Sayang?” bisik Emelia lembut di dekat telingaku.Aku perlaha
Dengan tubuh yang terasa jauh lebih sehat dan bugar, aku menuntun Emelia keluar dari kamar. Istri kecilku itu juga terlihat sangat segar, rona bahagia terpancar jelas dari wajah cantiknya saat kami berjalan beriringan menuju ruang makan keluarga.Di sana, para orang tua rupanya sudah duduk berkumpul menunggu kehadiran kami. Aku bisa melihat gurat kebanggaan yang teramat jelas terukir di wajah mereka. Namun, atensiku mendadak teralih sepenuhnya pada beberapa hidangan yang tersaji di atas meja makan panjang tersebut.Semua jenis makanan sehat pencegah morning sickness sudah tertata dengan sempurna, mulai dari potongan buah-buahan segar, susu hangat khusus ibu hamil, roti gandum, hingga daging panggang rendah lemak yang menggugah selera.“Ini Papa yang menyiapkan semuanya,” ujar Papa Lucas tiba-tiba, menepuk dadanya sendiri dengan lagak super bangga.“Enak saja! Aku juga ikut menyiapkannya kalau kamu mendadak lupa, Lucas,&rdqu
Pov Emelia “Daniel, stop!!!”Aku menjerit histeris dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tenggorokanku. Air mataku luruh semakin deras, membasahi pipi yang terasa kaku karena ketakutan yang teramat masif. Menyaksikan Samuel—suamiku, pria yang selalu berdiri gagah melindungi
Pov Lucas.“Mau ke mana kamu, Lucas?”Mendengar instruksi bernada interogasi itu, aku seketika menghentikan langkah dan membalikkan tubuh. Kutatap Arturo dengan sorot mata setajam silet. Bagaimana bisa pria itu masih bertanya dengan begitu santai di saat situasi sedang kritis
“Kenapa bengong? Apa kamu begitu terkejut melihatku?”Suara parau yang sarat akan nada mengejek itu seketika menarikku paksa dari keterpakuan. Aku mengerjapkan mata, menatap sosok di hadapanku dengan kilat amarah yang berkobar hebat. Di bawah kungkungan pria itu, aku bisa melihat Emeli
Pov Samuel Begitu lampu utama aula padam secara mendadak, instingku langsung bergejolak hebat. Di tengah kegelapan pekat yang menyergap tanpa peringatan, aku seketika membalikkan tubuh dan bergerak panik, berusaha meraba-raba area sekitar demi mencari keberadaan Emelia. Seingatku,







