LOGIN“Kenapa harus aku yang diperiksa, Papa?” tanyaku langsung dengan dahi berkerut dalam.
Aku merasa heran sekaligus bingung dengan instruksi Papa Arturo. Mengingat kondisiku saat ini yang segar bugar dan tidak merasakan keluhan apapun, mengapa justru aku yang harus berurusan dengan peralatan medis? Jelas-jelas yang sejak pagi muntah-muntah, pusing, hingga merengek meminta es krim adalah Samuel. Bukan aku!“Karena kamu memang butuh diperiksa, Emelia,” jelas Papa Arturo terama“Katanya mobilmu sempat diadang orang kemarin, Samuel?” tanya Papa Lucas bertubi-tubi. Beliau sengaja langsung datang ke mansion begitu mendengar kabar angin yang berembus di lingkungan keamanan.Aku mengangguk pelan dengan ekspresi sewajar mungkin, tidak ingin memicu kepanikan berlebih. “Mereka hanya orang sipil biasa yang kebetulan mabuk berat sejak semalam, Papa. Tapi aku tidak percaya begitu saja pada laporan awal,” jawabku tenang namun tegas.Papa Lucas mengangguk-angguk paham, guratan kecemasan tercetak jelas di keningnya. “Benar, jangan pernah percaya begitu saja. Kita harus ekstra waspada sekarang. Kalau bisa, untuk sementara waktu Emelia jangan diizinkan keluar rumah dulu. Papa hanya takut ada musuh lama yang mengendus kabar kehamilannya. Mereka pasti akan menggunakan segala cara agar kita kehilangan generasi penerus.”“Iya, Papa. Aku akan memastikan Emelia selalu berada dalam jangkauan pengamanan ketat.”
Aku menatap datar para anak buahku. Rasanya sulit dipercaya saat mereka melaporkan bahwa insiden tadi murni kelakuan dua orang pemabuk yang mengendarai mobil dalam kecepatan ugal-ugalan.Sialan, mereka hampir saja membuat istriku celaka karena mengemudi ugal-ugalan di bawah pengaruh alkohol—atau mungkin bahkan obat-obatan terlarang.“Jangan lepaskan mereka begitu saja. Aku merasa bajingan-bajingan itu hanya digunakan sebagai umpan,” ujarku dingin, karena merasa terlalu kebetulan saja. Lagian, orang gila mana yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk?“Baik, Tuan. Akan kami laksanakan,” jawab anak buahku di seberang sana sebelum memutuskan sambungan.Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan sisa ketegangan. Tadi, aku memang sempat keluar sebentar setelah anak buahku mengetuk pintu kaca untuk memberikan laporan awal. Aku sengaja meninggalkan Emelia sendirian di dalam mobil yang terkunci rapat, aku sama sekali
Kelopak mataku perlahan terbuka saat sebersit aromaterapi yang menenangkan menusuk indra penciumanku. Hal pertama yang tertangkap oleh penglihatanku saat kesadaranku pulih adalah wajah cantik Emelia yang tengah menatapku dengan binar cemas. Tanpa membuang waktu, aku seketika bangkit dari posisi berbaringku dan langsung merengkuh erat tubuh ringkihnya. Aku menenggelamkan wajahku dalam-dalam di ceruk leher istriku, menghirup aroma tubuh alami miliknya yang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafku.Sebab aku tahu, tidak ada obat medis di dunia ini yang bisa menyembuhkanku dari siksaan kehamilan simpatik ini. Hanya Emelia. Hanya aroma tubuhnya yang begitu candu yang mampu menjadi penawar rasa mualku dalam sekejap.Aku semakin menenggelamkan wajahku di sana, menikmati rasa nyaman yang kian lengkap saat merasakan elusan lembut dan konstan di punggungku.“Kita pulang saja ya, Sayang?” bisik Emelia lembut di dekat telingaku.Aku perlaha
Dengan tubuh yang terasa jauh lebih sehat dan bugar, aku menuntun Emelia keluar dari kamar. Istri kecilku itu juga terlihat sangat segar, rona bahagia terpancar jelas dari wajah cantiknya saat kami berjalan beriringan menuju ruang makan keluarga.Di sana, para orang tua rupanya sudah duduk berkumpul menunggu kehadiran kami. Aku bisa melihat gurat kebanggaan yang teramat jelas terukir di wajah mereka. Namun, atensiku mendadak teralih sepenuhnya pada beberapa hidangan yang tersaji di atas meja makan panjang tersebut.Semua jenis makanan sehat pencegah morning sickness sudah tertata dengan sempurna, mulai dari potongan buah-buahan segar, susu hangat khusus ibu hamil, roti gandum, hingga daging panggang rendah lemak yang menggugah selera.“Ini Papa yang menyiapkan semuanya,” ujar Papa Lucas tiba-tiba, menepuk dadanya sendiri dengan lagak super bangga.“Enak saja! Aku juga ikut menyiapkannya kalau kamu mendadak lupa, Lucas,&rdqu
POV SamuelAku sempat mematung selama beberapa detik, mencoba mencerna permintaan Emelia yang teramat tidak biasa ini. Bagaimana bisa di pagi ini, dengan wajah polosnya, dia merengek ingin memperlakukan kejantananku seolah itu adalah es krim?Awalnya keraguan hebat sempat melintas di benakku karena mengkhawatirkan kondisinya yang tengah hamil muda. Namun, begitu mengingat bahwa ini adalah bawaan dari hormon calon anakku, aku akhirnya mengalah. Aku mengendurkan cekatan tanganku dan membiarkan istri kecilku itu mulai meloloskan benda berharga milikku dari balik kungkungan kain celana.Awalnya hanya berupa sentuhan jari yang teramat pelan dan ragu. Namun secara perlahan, Emelia mulai menggenggamnya dengan mantap. Tentu saja, hantaman rangsangan yang begitu mendadak itu membuat milikku langsung menegang sempurna dan berdiri dengan gagah dalam hitungan detik.Aku refleks memejamkan mata erat-erat, meremasi sprei di bawah tubuhku demi menaha
“Emelia ... kamu tidak sedang mengigau, kan?” tanya Samuel memastikan. Sepasang netra elangnya menatapku lekat dengan binar antara kaget dan penasaran yang campur aduk.Tanpa ragu sedikit pun, aku menganggukkan kepalaku tegas. Aku membalas tatapan matanya dengan binar memohon yang teramat dalam, sementara telapak tanganku perlahan bergerak turun, mengelus dada bidangnya dengan gerakan memutar yang provokatif.“Hmm... aku juga tidak tahu kenapa, Samuel. Tapi malam ini aku benar-benar menginginkanmu. Aku... aku ingin kita melakukannya,” jawabku jujur, menanggalkan seluruh urat maluku demi menuntaskan desakan aneh yang menyiksa tubuhku.“Tapi kamu sedang hamil muda, Sayang. Apa secara medis kita boleh melakukannya sekarang?” tanya Samuel lagi. Nada suaranya terdengar sangat ragu, ada binar protektif di matanya yang menahan diri demi keselamatan janin di rahimku.Aku terdiam sejenak, menggigit bibir bawahku pelan. Aku tahu
Pov samuelAku tentu tidak tinggal diam begitu saja. Sebagai seorang suami, aku mengerahkan seluruh kaki tangan dan informan terbaik yang kupunya untuk melacak keberadaan wanita bernama Melissa dari masa puluhan tahun silam.Meskipun misi ini terdengar mustahil menging
Kamar utama kami yang kedap suara mendadak terasa begitu sunyi, hanya menyisakan deru napas kami yang saling bersahutan kian memburu. Samuel mengungkung tubuhku di bawah kuasa tubuh kekarnya, namun ia menumpu bobot badannya sendiri dengan kedua siku di sisi kepalaku. Ia sama sekali tidak membiark
Aku benar-benar sudah merindukan rumah ini—tempat ternyaman yang selalu kurindukan. Satu bulan penuh aku koma, lalu ditambah satu minggu berada di rumah sakit untuk pemulihan membuatku sangat bosan dengan bau obat-obatan yang menyengat, yang lama-kelamaan selalu sukses membuat perutku mual.
Karena aku tertidur selama satu bulan penuh, otot-otot di kedua kakiku belum mampu untuk menopang beban tubuhku dengan tegak. Jangankan berjalan sendiri, melangkah ke kamar mandi saja aku masih harus dibantu sepenuhnya oleh Samuel.Lihatlah, suamiku itu dengan sangat cekatan langsung menga







