Agus tertawa kecil, kali ini dengan nada yang terdengar lebih tulus. “Ya udah, Nai. Kalau emang lo nggak mau sama gue, nggak apa-apa. Gue sih juga mikir, lo lebih cocok sama Pak Devan, kok.”“Agus!” Naila berseru dengan nada hampir putus asa, membuat teman-temannya tertawa lebih keras.Edo menimpali sambil menyikut Agus. “Eh, bener juga, Gus. Kalau dibandingin lo, Pak Devan itu udah kayak paket lengkap. Cakep, tajir, bos lagi.”Gabriel mengangguk setuju sambil berseru, “Setuju banget! Dan kelihatan banget, kan, gimana Pak Dev itu selalu perhatian sama Naila. Kao lo berani deketin Naila, siap-siap aja dipecat.”Tere yang melihat wajah Naila memerah karena malu langsung tertawa pelan. “Udah, Nai. Ngaku aja, deh. Nggak usah malu-malu segala, kita-kita nggak ada yang bakal usik kalo lo emang jadi pacarnya Pak De.”“Terserah kalian mau ngomong apa,” kata Naila akhirnya, menyerah dengan semua ledekan. Ia menutup wajahnya dengan tangan, merasa semua mata di meja itu terlalu tajam menatapnya.
最後更新 : 2026-05-27 閱讀更多