Devan berbalik mendekati meja Naila, berdiri di depan meja itu.”Nai,” panggilnya dengan suara pelan.”Hmm?” Naila mendongak, “Bapak butuh sesuatu?””Butuh di-kiss, Nai,” jawab Edo.”Lo gue tabok ya, Mas. Lama-lama nyebelin banget lo! Jangan bikin gue pengin bunuh lo dan biarin Miana jadi janda—“”Ebuseeet, jangan, woi. Anak gue belum setahun, baru juga sembilan bulan.””Makanya nggak usah banyak bacot!””Ampun, Nyai,” ujar Edo dengan nada yang meledek.”Jangan kebanyakan marah-marah pagi-pagi,” Devan mengusap kepala Naila dengan lembut, “nanti makan siang bareng, ya.””Pak, tolong lah, biarkan Naila makan sama kami, Bapak deh ikut makan di kantin, monopoli Naila mulu, jadi kehilangan temen nih saya gara-gara Bapak,” keluh Gabriel dengan nada merajuk.Devan menoleh, “tanya Naila, kalau mau makan di kantin, saya ikut makan di sana.””Nai, tuh pacar lo nanya,” ucap Gabriel cepat.Seketika Naila melotot karena sebutan barusan, tapi tidak membantah dan mengangguk pelan, “iya, makan di kan
Read more