Di sana, ia melihat sosok Arkan yang tampak tenang, namun matanya menatapnya dengan tatapan tajam—sukar dimengerti maksudnya. Pikirannya berputar cepat, berusaha memahami makna ucapan pria itu barusan. “Apa maksud Tuan?” tanyanya pelan, benar‑benar tak paham. Arkan melangkah mendekat. Di sudut bibirnya terukir senyum dingin. “Kau pura‑pura tidak tahu, atau memang hanya pandai beralasan?” sindir Arkan. Kiana makin bingung, keningnya berkerut. “Saya… saya sungguh tidak mengerti, Tuan. Mengapa Tuan berbicara demikian?” Arkan berbalik badan, berjalan menuju meja rias di sudut kamar. Di sana, ia mengambil sebuah amplop kertas berwarna cokelat yang tebal. Kembali menghadap Kiana, ia mengayunkan tangan—amplop itu melayang, lalu jatuh berdebam tepat di depan kaki gadis itu sehingga sebagian isinya tumpah berserakan di lantai. “Lihatlah sendiri. Agar kau tahu sifat asli bibimu itu!” ucap Arkan dengan nada sinis. Kiana perlahan berjongkok, mengangkat amplop itu, lalu mengumpulk
Zuletzt aktualisiert : 2026-07-02 Mehr lesen