Sophie tampaknya tidak yakin. Dia meletakkan troli belanjanya, mendekat, dan menatap langsung ke mata Anne. "Ini bukan hanya kelelahan," katanya dengan suara rendah. "Kau terlihat kurus. Wajahmu pucat. Matamu... kosong. Sepertinya kau belum tidur selama berminggu-minggu."Anne memalingkan kepalanya, tak sanggup menatap tatapan tajam itu. Ia merasakan air mata menggenang, gumpalan emosi mencekik tenggorokannya, mengancam akan meledak. Bukan di sini. Bukan sekarang. Bukan di depan Sophie, yang menatapnya dengan kekhawatiran yang sudah lama tak ia lihat."Ini memang masa-masa sulit," katanya, sambil memaksakan senyum. "Kau tahu kan bagaimana rasanya, rutinitas sehari-hari, anak-anak, rumah...""Dan Alexander?" tanya Sophie, dan suaranya berubah—lebih keras, lebih tajam, seolah-olah dia bersiap mendengar kabar terburuk.Anne ragu-ragu. Apa yang bisa dia katakan? Kebenaran? Bahwa suaminya berselingkuh, mengabaikannya, memaksanya menelan pil yang komposisinya tidak dia ketahui? Bahwa selama
اقرأ المزيد