Alya terdiam dengan gigi bergemertak. Ia membatin geram, sepertinya karena terlalu dimanja oleh Zayn, babu ini jadi semakin tidak tahu diri! Karena Azalea sudah secara terang-terangan menantangnya untuk berperang, Alya merasa tidak perlu segan-segan lagi. "Lea, kamu sungguh sangat berani! Apa kamu sepercaya diri itu karena yakin Zayn akan selalu mendukungmu?" Alya kembali memprovokasi. Ucapannya selalu pedas, diiringi dengan lirikan sinis yang tajam."Kalau iya, memangnya kenapa? Zayn memang sangat bermurah hati padaku—"Refleks, Alya tertawa lepas mendengar jawaban itu. "Lea, ternyata kamu sepolos itu, ya? Sekalipun Zayn membelamu, jika dibandingkan dengan keluarganya sendiri, kamu itu tidak ada artinya! Zayn tetaplah Zayn!"Kening Azalea berkerut dalam. Ia kurang paham dengan arah pembicaraan Alya."Asal kamu tahu, Lea—" Alya melangkah semakin dekat lalu berbisik tepat di telinga Azalea. "Zayn itu selalu berpikir realistis. Ia hanya akan mendukung orang yang bisa memberinya
続きを読む