تسجيل الدخولSayangnya, Zayn tidak mau mendengar penjelasan apa pun lagi atau berhasil ditahan. Pemuda itu tetap mengayunkan langkahnya yang tegas, membelah kerumunan."Ayah—" Azalea berusaha tetap memasang raut tenang dan hangat sembari berdiri anggun di dekat Marvel yang masih mematung di tempatnya."Om Marvel, kenapa Anda terlihat sangat terkejut?" Haikal tersenyum tipis. "Apa tidak menyangka aku akan datang bersama putri baru Om ini? Bagaimanapun juga aku dan Lea sudah berdamai, dan kami memutuskan untuk tidak lagi ribut di kemudian hari.""Ah?" Marvel tersentak merespons. Ia lalu memaksakan ukiran senyum di bibirnya. "I-itu keputusan yang dewasa dan sangat baik. Om merasa ikut lega—"Marvel terpaksa menahan pemikiran rumitnya untuk sementara waktu, sembari mengalihkan pandangannya pada Ardi yang saat ini melangkah mendatangi mereka dengan raut tegang."Haikal, kenapa kamu malah datang bersamanya?""Pak Ardi," potong Marvel cepat sebelum situasi memburuk. Melihat raut wajah Ardi yang ka
Azalea melangkah makin percaya diri, menikmati dengan puas setiap detik dari ekspresi Alya yang seketika memucat dan membeku di tempat. Bukan hanya Alya, beberapa yang lainnya pun tak kalah syok. Kasak-kusuk kekagetan langsung menjalar cepat di seluruh penjuru ballroom."Haikal...?" bisik Naura dengan mata membelalak tak percaya."Bagaimana bisa Azalea datang bersama Haikal?!" celetuk lainnya yang ikut menahan napas. Bagaimana pun mereka tahu Azalea yang memiliki konflik dengan Haikal. Apa Azalea sudah gila datang dengan musuhnya? Pemuda yang sudah pernah menyusahkannya? Azalea menyunggingkan senyum miring. Ia merasa telah memenangkan ronde pertama dalam pertunjukan malam ini. Dengan dagu terangkat anggun, ia terus berjalan berdampingan bersama Haikal menuju panggung utama, menghampiri Marvel dan Marta yang turut memasang raut wajah tegang. Haikal malam itu tampil benar-benar berbeda. Postur tubuhnya kini jauh lebih tegap, berisi, dan berotot. Kulitnya menggelap matang, memanca
"Bu—bukan. Ti-tidak, kamu ini sebenarnya siapa?" Azalea menggelengkan kepalanya. Ia sempat mengira matanya sedang bermasalah hingga refleks mengucek kedua matanya. Namun, saat kembali melihat sosok di hadapannya, ia makin yakin bahwa ia tidak sedang salah lihat. "Kenapa mukamu bisa sama persis dengan teman Zayn yang di dalam tadi?""Aku?" Varan menunjuk dirinya sendiri, lalu menyunggingkan senyuman lembut. "Aku memang temannya Zayn, kok. Tapi kenapa kamu kelihatan sekaget itu melihatku?""I-itu karena...""Varan, cepatlah sedikit! Zayn sudah menunggumu dari tadi!" Ezra tiba-tiba menyusul keluar dan langsung menarik lengan pemuda itu. Melihat Azalea yang masih berdiri mematung di tempatnya, Ezra pun sempat melempar penjelasan singkat. "Jangan bingung begitu, Lea. Mereka berdua itu anak kembar. Yang kamu tarik-tarik tadi namanya Varel, nah yang ini Varan!" ujar Ezra seraya berlalu pergi."Oh..." Azalea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham, lalu melanjutkan langkah kakinya
Zayn mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras tajam—terlihat jelas bahwa ia dikuasai oleh emosi setelah mendengarnya. "Zayn." Naura masih berdiri setia di sisi pemuda itu. "Mengenai hal itu, aku memang belum tahu secara detailnya. Namun, ada kemungkinan besar jika mereka melakukan tindakan medis—""Aku bisa menanyakan hal itu sendiri pada Om Marvel," potong Zayn dingin, sama sekali tidak ingin lagi mendengarkan tebakan atau spekulasi Naura. Tanpa menanti respons, ia kembali melanjutkan langkah yang sempat tertahan."Zayn! Aku belum menyampaikan apa permintaanku! Kamu sudah berjanji akan mengabulkannya, kan?!" panggil Naura dari belakang."Tenang saja. Aku tidak akan pernah ingkar," sahut Zayn meyakinkan tanpa menoleh.Naura bergegas menyusul langkah pemuda itu dengan senyuman semringah yang merekah. "Kalau begitu, dengarkan baik-baik apa yang aku inginkan—!"Dari kejauhan, Azalea yang menyaksikan interaksi mereka berdua hanya bisa mem
"Jadi, maksudmu ingin menggelar pesta besar untuk Lea? Kamu ingin semua orang tahu bahwa dia adalah putri kandungmu?! Lalu dengan cara apa kamu akan mengenalkannya di depan relasi kita?!"Suara Marta melengking keras, menyuarakan rasa protes dan ketidaksetujuan saat suaminya mengutarakan niat untuk mengadakan pesta penyambutan."Ingat, Marvel! Kalau kamu sampai mengenalkan Lea sebagai putri kandungmu di hadapan publik... itu sama saja kamu mengorbankan namaku! Semua orang akan tahu bahwa dulu kamu memiliki wanita selain aku! Kamu sendiri pun pasti akan menanggung konsekuensinya! Orang-orang akan mencap dirimu sebagai pria brengsek!"Dada Marta kembang-kempis, napasnya memburu menahan amarah yang meledak-ledak. Bagaimanapun juga, keinginan impulsif suaminya itu mengandung risiko yang besar bagi reputasi mereka.Marvel yang tadinya duduk kini mengepalkan tangan, mendengarkan cecaran istrinya yang membuat kepalanya mendadak pening. Namun, di dalam hati kecilnya, ia harus mengakui b
Zayn melepas gandengan tangannya, melangkah lebih dulu lalu duduk. Sementara itu, Azalea tidak bisa mengalihkan tatapannya dari pemandangan di luar gedung.Ternyata, suasana kota di malam hari terasa begitu indah jika dilihat dari tempatnya berdiri saat ini."Wah, Zayn, indah banget," gumamnya dengan mata berbinar-binar.Tingkahnya tak sekadar kagum—mungkin terkesan sedikit udik dan norak. Namun, Zayn tidak melarangnya untuk berhenti. Pemuda itu justru tersenyum, meski ada selipan cibiran dan rasa geli di balik senyumannya."Lea, masih banyak yang harus kamu coba. Bagaimana dengan menu di restoran ini, tidak ingin mencobanya?"Azalea menoleh. Ia melihat seorang pelayan datang membawa pesanan Zayn dan menatanya rapi di atas meja. Bukan hanya menunya yang tampak menggugah selera, tetapi suasana yang tercipta di sana pun terasa begitu romantis dan hangat.Gadis itu berdeham. Senyumnya tak luntur sejak tadi, seolah pengalaman pertama ini sangat menyenangkan—meski dinner romantis in
"Kontrak kerja?" Kening Zayn berkerut. Azalea meringis malu-malu. "Hanya perjanjian secara tertulis agar kita sama-sama tidak rugi. Nanti kamu jelaskan detail bayarannya, dan aku juga jelaskan detail pekerjaan yang akan aku garap." Gadis itu sudah berubah lebih cerewet dan pintar bernegosiasi. K
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
Ezra langsung bicara blak-blakan."A—pa? Aku trending?" Azalea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo.Ezra menghentak napasnya kasar, lalu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layarnya tepat di depan hidung Azalea."Hah, beli kuota internet saja pasti kamu tidak mampu, kan? Makanya kudet
"Lea, aku minta maaf! Lea, aku minta maaf!"Enam anak perempuan itu berlari di tengah halaman sembari berteriak meminta maaf. Tidak ada perlawanan apa pun, bahkan ratu sekolah harus menerima hukuman ini. Sementara Zayn memperhatikan mereka dari jauh, dari ruang eksklusif di lantai tujuh. "Zayn, a







