ログインAzalea masih mematung di teras rumah. Matanya menangkap gelagat aneh dan mencurigakan dari gesture sang ayah serta Alya. Ia terus menatap ke arah mobil Zayn sampai kendaraan mewah itu melaju dan lenyap dari pandangan. Ada rasa berat yang perlahan mengganjal di dadanya."Apa ada acara khusus di rumah Zayn, Ayah?" tanya Azalea begitu Marvel melangkah kembali mendekatinya."Tidak ada acara apa-apa. Hanya saja Kakek Adinata ingin bertemu dengan Alya, mereka memang biasa mengobrol santai," jawab Marvel tenang tanpa curiga."Oh... Jadi Zayn tinggal bersama kakeknya juga? Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya?"Marvel mengangkat sebelah alisnya, agak terkejut dengan pertanyaan mendadak itu. "Orang tua? Zayn itu sudah yatim piatu. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal."Langkah kaki Azalea melambat. Penjelasan singkat dari sang ayah membuat benaknya terus berputar mencoba mencerna. Zayn... tidak punya orang tua?Kabar tersebut membuat Azalea tertegun. Selama ini, ia kira Zayn mem
"Zayn," Azalea dengan cepat menarik lengan Zayn, berusaha menghentikan ketegangan di hadapan Haikal. "Lebih baik kita pulang sekarang." Gadis itu benar-benar menggeret Zayn pergi menjauh, memutus jarak sebelum keributan fisik pecah di koridor. "Lihat, kan? Meski statusnya hanya seorang babu, Zayn tetap mengklaim Lea sebagai miliknya. Jadi lebih baik kamu mulai menjaga jarak darinya. Tidak perlu sok dekat jika memang tidak ada hal penting!" kata Naura dengan senyuman mencibir, berusaha memprovokasi. Haikal tidak terpengaruh sedikit pun oleh kalimat itu. Seharusnya, orang yang paling terpukul dan kecewa di sini adalah Naura sendiri, sebab sejak awal kedatangannya, Zayn bahkan tidak melirik atau memandangnya sekilas pun! "Hm, aku mengerti," sahut Haikal dingin. Kali ini ia mengukir senyum miring dengan tatapan mata yang sulit diartikan. "Aku pulang dulu." "Tunggu, Haikal! Kamu tidak berniat mengantarku pulang?!" Naura bergegas menyusul langkah Haikal dan menyambar lengannya.
"Kerja bagus," bisik Zayn rendah saat tongkat sepenuhnya berpindah ke tangannya. Tanpa membuang waktu seakan baru saja diisi energi penuh, Zayn melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya. Langkah kakinya yang panjang dan penuh daya dengan cepat melewati pelari terakhir tim lawan, mendominasi lintasan lurus hingga akhirnya memotong pita finish. Meski hanya sebatas simulasi, euforia kemenangan tetap terpancar begitu kuat di antara mereka. Anggota tim Zayn yang lain berbondong-bondong mendekati pemuda itu, berjingkrak riang dan bersorak merayakan hasil akhir. Azalea yang berdiri persis di samping Zayn pun ikut larut dalam kegembiraan, ia menggegam lengan Zayn dengan tawa lepas. "Kamu terlihat sangat senang, hm? Ini baru latihan, kemenanganmu yang sebenarnya harus kamu raih besok," bisik Zayn rendah. Tanpa diduga, tangannya melingkar santai di pinggang Azalea, menarik lembut tubuh gadis itu hingga makin merapat ke sisinya. Siswa yang lain tidak menyadari gerakan sa
"Terserah saja kalau menurutmu begitu," jawab Zayn santai, tanpa beban.Bersamaan dengan itu, Haikal tiba dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan eksklusif. Varan dan Varel bergegas mendekat untuk menyambut kedatangannya."Hei, Bro!" Varan langsung melemparkan salam persahabatan berupa pukulan pelan di pundak pemuda itu."Selamat datang kembali!" sapa Ezra yang ikut mendekat, lalu merangkul akrab bahu Haikal. "Aku berharap kesalahpahaman yang berlalu sudah cukup jadi pelajaran untuk kita."Haikal menyunggingkan senyum miring, membalas dengan ekspresi wajar dan datar."Sejak awal kita memang tidak pernah bermasalah," ujarnya tenang, enggan menciptakan kekakuan di antara mereka.Bagaimanapun juga, Haikal sadar bahwa ia memang pernah berbuat salah. Hanya saja, ia merasa kesalahan yang dilakukannya waktu itu bukan semata-mata ditujukan pada Ezra ataupun Zayn, melainkan pada Azalea yang notabene bukan anggota resmi ruang eksklusif, walapun Zayn selalu pasang badan membela gadis itu
Azalea tampak terkejut. Ia bahkan refleks memalingkan wajah dan menatap Zayn lekat-lekat, berusaha mencari kepastian apakah pemuda itu sekadar bercanda atau tidak. Namun, raut wajah Zayn di sampingnya tetap tenang dan santai. "Lea, apa kamu masih ingat detail perjanjian kontrak kita? Setiap hal yang kamu lakukan harus berada atas izin dariku."Azalea mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tidak menyahut. Ia mengingat poin itu dengan sangat jelas."Lalu, kenapa belakangan ini kamu justru bertindak sesuka hati? Apa ponselmu sudah tidak berfungsi lagi? Sampai tidak bisa memberi kabar sama sekali?""Tapi Zayn, soal itu... aku hanya tidak ingin mengganggumu. Karena kamu tidak pernah memintaku datang dan tidak pernah menghubungi lebih dulu, jadi aku pikir—"Azalea sejujurnya mengira Zayn memang sedang tidak membutuhkan keberadaan babunya lagi. Perlu diingat, belakangan ini di sekolah Zayn terbilang sangat jarang memanggil atau menyuruh Azalea mendekat."Oh, jadi kamu sudah kehilangan inis
"Haikal direbut Lea, dan kamu masih bisa diam saja?" Naura mendekati Alya yang sejak tadi tampak berwajah muram. Amarah gadis itu kian menumpuk, ditambah ayahnya sengaja mengenalkannya pada beberapa anak kolega bisnis yang sama sekali tidak menarik baginya."Kamu pikir aku bisa apa?!" jawab Alya setengah membentak karena merasa tertekan dan kesal setengah mati.Di sampingnya, raut wajah Naura tak kalah buruk. "Tentu saja kamu harus membalasnya! Jika tidak bisa membalasnya sekarang, kamu bisa melancarkan pembalasan itu secara perlahan-lahan!""Caranya?" Alya mencoba menahan emosi dan mulai mendengarkan apa yang hendak disampaikan Naura. Keduanya lantas tenggelam dalam perbincangan berbisik yang cukup lama.Hingga pesta berakhir, sosok Zayn memang tidak terlalu banyak terlihat di ballroom. Selain menemani Naura untuk beberapa saat di awal acara, ia lebih memilih untuk menyendiri dan menunggu hingga pesta megah itu usai.Di area parkir basemen yang temaram, pandangan Zayn menangka
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus
"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?" Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berd







