"Ti--tidak, Zayn!" Azalea meringis salah tingkah, merasa bodoh karena terlalu kepo. Ia kembali membenarkan posisi duduknya dan menoleh keluar jendela. Di samping Zayn, Naura tersenyum percaya diri. Zayn baru saja menyebut mereka sepasang kekasih? Naura masih tidak menyangka, biasanya Zayn cuek pada wanita bahkan dirinya. Jemari Azalea terus bergerak meremas ujung rok, ia merasa tangannya dingin. Berharap cepat segera sampai karena ia tidak nyaman dengan suasana di sana. Zayn mengantar Naura lebih dulu ke rumahnya, lalu menyuruh supir menuju sebuah kafe elit. "Zayn, aku harus ikut masuk?" Azalea ragu, ia tidak pernah pergi ke tempat tongkrongan orang kaya, jadi canggung dan tidak percaya diri. "Kamu babuku, Lea, bukan supir. Tugasmu mengikutiku, bukan menunggu di mobil." Zayn berjalan lebih dulu dengan langkah yang santai dan tenang. Mengekor di belakang, Azalea mengedarkan pandangan, takjub sekaligus terintimidasi oleh kemewahan kafe bergaya industrial moder
Read more