/ Zaman Kuno / Tiongkun Tan Choa Hok / JANJI DI BALIK LENCANA EMAS

공유

JANJI DI BALIK LENCANA EMAS

작가: The Bwee Lan
last update 게시일: 2026-05-16 11:30:48

Saat asyik bersembunyi di balik semak bunga botan (peony), Choa Hok melihat sesuatu.

Bayangan. Bukan satu. Banyak. Geraknya pelan, hati-hati, terlalu teratur buat sekadar pelayan yang lewat. Dari balik dedaunan, dia lihat kilatan pisau pendek di tangan mereka.

Mata Choa Hok menyipit. Perutnya berkerut.

Refleks dari latihan silat pagi bersama ayahnya langsung aktif. "Kalo lu liat bayangan gerak di tempat yang gak seharusnya, lu diem. Jangan teriak. Jangan lari. Cari akal."

"Pangeran! Sini cepat!" bisik Choa Hok sambil menarik tangan Kiat Seng masuk ke dalam paviliun kosong di ujung taman. Mukanya serius.

"Ada apa, Hok?" Kiat Seng bingung. Mata pangeran melotot. Wajahnya yang mulus mulai pucat.

"Ada orang jahat mau culik kau. Gue liat bawa pisau."

Kiat Seng membeku. "C—culik?"

"Cepet. Tukar baju. Sekarang." Choa Hok sudah mulai membuka kancing bajunya. "Kau pake baju gue. Gue pake baju kau."

"Tapi..."

"Gak ada tapi! Cepet!"

Kiat Seng masih ragu. Tangannya gemetar. Tapi ketika Choa Hok menatap matanya—tatapan seorang anak kecil yang tiba-tiba terlihat tua—Kiat Seng menurut.

Baju berganti dalam semenit. Tapi ketika Kiat Seng mau melepas semua lencana emas dan giok di lehernya, Choa Hok menggeleng cepat.

"Jangan lepas itu."

"Tapi gue kan lagi nyamar—"

"Kata Lau Pe (papa) gue: lencana harus dipegang sama pemilik asli walau lagi nyamar. Itu nyawa kau. Jangan sampai hilang. Kau simpan di balik baju."

Kiat Seng manggut. Diam-diam, dia kagum. Anak perwira ini berpikir lebih jernih daripada pangeran sekalipun.

"Cepet lari ke dalem," bisik Choa Hok. "Cari penjaga. Bilang ada yang janggal. Jangan ngomong soal gue."

"Tapi Li (kamu)?"

"Gak usah mikirin gue. Cepet!"

Kiat Seng lari. Choa Hok duduk di bawah pohon beringin, pura-pura main kerikil. Dia memandangi baju kuning emas yang sekarang melekat di tubuhnya. Berat. Panas. Tapi dia tidak bisa melepasnya lagi.

Bayangan-bayangan di balik semak mulai mendekat.

---

Malam itu, Choa Hok belajar bahwa ular berbisa hanya bisa melukai kalau kau takut.

Dia diculik, diseret ke luar kota, dan dilempar ke dalam lubang gelap di pinggiran hutan. Para penculik—yang ternyata sisa-sisa keluarga kerajaan Barat yang lolos eksekusi—merayakan keberhasilan mereka. Mereka mengira malam ini mereka telah menangkap pangeran.

"Anak raja yang lemah," cibir salah seorang, sambil mengeluarkan karung besar. "Kasih dia pelajaran."

Karung itu dibuka. Ular-ular kecil dengan kepala segitiga melompat keluar. Matanya merah menyala di kegelapan. Mereka melata ke arah Choa Hok, mendesis, siap mematuk.

Choa Hok ingin teriak. Tapi dia ingat kata ayahnya. Diem. Jangan lari. Cari akal.

Akalnya macet. Yang ada cuma rasa takut yang berubah menjadi emosi.

Ular pertama mematuk betis kirinya. Panas. Tapi tidak sakit.

Ular kedua di tangan kanan. Lagi-lagi cuma panas.

Ular ketiga—keempat—kelima—semuanya menggigit. Tapi Choa Hok tidak mati. Badannya justru terasa aneh. Segar. Kayak abis minum jamu pahit yang bikin tenaga mendadak penuh.

"Sial," bisiknya pelan. Dan tiba-tiba, rasa takutnya lenyap.

Dengan refleks yang dia sendiri tidak tahu darimana asalnya, tangan Choa Hok menyambar kepala ular yang ada di pundaknya. Dia pegang erat. Ular itu menggeliat, membuka rahang, tapi tidak bisa gigit—karena kepalanya sudah terkunci.

"Bapak-bapak," kata Choa Hok, suaranya tenang—terlalu tenang untuk anak seusianya. "Ini ular bapak punya?"

Para penculik di atas lubang melongo.

"Ni—" Choa Hok melempar ular itu ke arah penculik paling depan. "—balikin."

Lemparannya tidak terlalu keras. Tapi tepat sasaran. Ular itu mendarat di leher penculik, langsung mematuk urat nadinya. Penculik itu menjerit, jatuh tersungkur.

"Eh? Apa ini?!"

Ular-ular lain di dalam lubang, seolah mendengar panggilan, merayap keluar mengikuti lemparan Choa Hok—menuju ke arah para penculik yang mulai panik. Dalam hitungan menit, suasana berbalik. Jeritan para penculik bergema di seluruh hutan.

Choa Hok cuma duduk di lubang, menyilangkan tangan, dan berbisik pada diri sendiri, "Ah Meh pasti marah kalo tahu baju bagus ini robek."

---

Di tempat lain, Pangeran kecil menangis... 

Karena mengenali itu baju anak Perwira Tan, teman-teman dan Komandan Perwira Tan memanggil Ah Pa Tan dan Koko Kwee Tio. Gak ada yang tau kalo di balik baju itu adalah pangeran.

Perwira miskin itu melotot, mulutnya membuka tapi cepat - cepat mengecek anaknya. Kakak pertama Choa Hok yang sekarang jadi murid akademi militer dan diundang juga  menatap ayahnya. Ia melihat Ah Pa nya dari atas sampe bawah. Pemuda itu cui cui (mengira) bahwa Ah Pa dia habis mukulin atau ancam adiknya. Perwira Tan melongo. "Haiyaaa... Anak gue si Ah Hok kok biasa bandel malah nangis? Gak bener!"

Pangeran dihibur Perwira Tan dan anak pertamanya dengan mainan kayu. Mereka saling memandang lalu menatap  anak ini dengan curiga... Setelah bisa bicara ... 

"Pangeran diculik!"kata para pengawal. "Tidak, Yang Mulia, hamba di sini!",  Kata pangeran kecil sambil melambaikan plakatnya. Kontan Perwira Tan dan Anaknya lemes sebadan. Mereka mau pingsan , keringat mengucur deras tapi walaupun gemetar , mereka tetap berdiri. Pangeran lecet, putus garis. 'Siapapun yang menyebabkan luka pada darah naga (Keturunan Kaisar) harus dibasmi beserta keluarganya' ... Itulah kutipan kitab hukum yang mereka selalu ingat di kepala, simpelnya pangeran lecet maka putuslah garis keturunan Tan cabang Ah Pa Tan.

Kaisar menanyai beberapa pertanyaan rahasia ke ‘anak perwira’ ini. Kaisar memejamkan mata, ia membuka mata lagi dan melihat anak itu teliti, lantas mengelus-elus janggutnya. Kaisar lega melihat anaknya selamat. Meskipun berbaju lusuh. 

Pangeran kecil ini cerita ke ayahnya tentang tragedi, tentang penculikanya yang berakhir salah culik. Mata Kaisar melebar, alisnya naik. Walaupun Pangeran kecil menangis deras, Kaisar mendengar kisah itu sambil mengepalkan tangannya sampai buku jarinya putih. Kaisar memejamkan matanya dan pipinya menggembung dan mengempis beberapa kali.

Permaisuri merapatkan bibir karena sudah tidak tahan tertawa. Tangannya gemetar, lututnya mulai bergetar juga. Ia menguatkan diri supaya pangeran jangan sakit hati. Apalagi ada laporan bahwa beberapa orang penculik tewas terjepit di pagar karena berusaha menculik anak perwira rendahan yang menyamar jadi pangeran.

Pangeran lapor dengan wajah polos dan mata sayu dan berair karena cerita nya yang lucu itu ternyata adalah kesedihan mendalam baginya. "Yang Mulia, hamba minta selamatkan Choa Hok", Katanya sambil berlutut.  

Tidak berapa lama Kaisar memanggil Perwira  Tan dan putra sulungnya serta pasukan khusus untuk mengejar penculik Choa Hok.

Pasukan kerajaan menemukan Choa Hok keesokan paginya. Dia masih duduk di lubang, tenang, meskipun baju kuning emasnya sudah penuh darah—bukan darahnya.

"Pangeran!" teriak kakak pertama Choa Hok.

"Bukan. Gue cuma anak perwira," kata Choa Hok. "Nurut aja Lu, ini strategi", buru-buru Koko pertama menimpali sambil berbisik.

Setelah penyelamatan, komandan pasukan melongo. Melihat  Perwira Tan dan Choa Hok. "Kok mirip?", bisik komandan. Ah Pa Tan dan Koko Kwee Tio menggeleng. Mereka saling memandang dan melihat anak kecil bandel berbaju pangeran itu dan saling menatap lagi dan menggaruk kepala sendiri-sendiri. 

Di istana, dari jauh Pangeran Kiat Seng datang berlari, menerobos barisan prajurit, langsung memeluk Choa Hok erat-erat. Istana geger. Permaisuri ikutan memeluk anak itu. Seperti mendapat anak laki-laki baru.

"LU HIDUP!" tangis Kiat Seng, isak tangisnya memecah suasana pagi yang sunyi.

"Ya iyalah. Gue kan udah bilang. Percaya sama gue." Choa Hok membalas pelukan itu, meskipun dia sendiri masih gemetar. "Koko, mau permen!" , kata Choa Hok sambil menatap kakaknya yang berdiri di belakang pangeran.  Koko yang dimaksud menyodorkan permen setelah adiknya dan pangeran tidak berpelukan lagi.

Di belakang mereka, Kaisar Ong Ling Swi berdiri dengan tangan di pinggang. Beliau melihat Choa Hok, melihat pangeran yang masih menangis, melihat para penculik yang bergelimpangan—beberapa sudah tidak bergerak. Ditangkap ke hadapannya 

"Anak siapa ini?" tanya Kaisar, suaranya berat. Kaisar lupa karena terlalu tegang. Walaupun dia sendiri yang diberi tahu pangeran berkali-kali  tapi omongan itu mental semua. Ia hanya peduli keselamatan anaknya sampai gak ingat apapun.

"Tan Choa Hok, Baginda," jawab ajudan. "Anak Perwira Tan Siauw Kiat."

Kaisar terdiam. Lalu—beliau tertawa. Tertawa keras sampai bergema di seluruh bukit.

"Anak kecil yang baru umur enam tahun, pake baju putra mahkota, sendirian ngadepin dua belas penculik bersenjata! Dia gak lari! Gak nangis! Malah balikin ular mereka!"

Kaisar pingin balas budi tapi malam itu bikin dia syok. Jadinya dia gak memutuskan apapun. Cuma kasi plakat Kong Teik (pahala). Dan Choa Hok diizinkan tinggal di istana sementara sama Koko Pertama dia, Koko Kwee Tio. Ah Pa Tan dikirim perang saudara.

Sebulan setelah itu, Permaisuri jengkel. Kaisar tidak kunjung kasi hadiah. Permaisuri  ngerasa phaiseh (ga sopan). Suaminya kagak mikirin Choa Hok walaupun tiap malam bersyukur sama Thien karena Choa Hok dan beliin Choa Hok kacang rebus tiap hari. “Iya sih, Choa Hok suka kacang rebus, tapi jasa Segede itu dibayar kacang rebus segerobak 100 tahun juga ga pentes!”, seru permaisuri sambil nulis Deket angkat anak Choa Hok ditemani Kasim Liem yang matanya banyak kantong mata karena sebulan ini diomeli Permaisuri gara-gara Kaisar ga tegas perkara Choa Hok.

Tau Permaisuri keluarin Dekret, Kaisar nyalin salinan Dekrit Permaisuri, edit dikit. Dia langsung angkat anak Choa Hok dan jadiin dia Pangeran Luar, jadi tinggal di keluarga dia tapi siang main di Istana, sekolah di Istana. Baru tuh, Otak Kaisar Ong Ling Swi kreatif. Bikin  dekret lain, dia panggil Ah Pa Tan lalu naikin pangkat jadi Komandan Batalyon pasukan pengaman Keputran. Naikin jabatannya lalu Kwee Tio dikasih pangkat strategis, Koko kedua dan ketiga Choa Hok dapat beasiswa akademi militer disetarakan dengan Putra Bangsawan Tinggi. 

Terus Ah Pa Choa Hok sekeluarga dipanggil ke Istana padahal Ah Pa Choa Hok lagi perang langsung dipanggil. Sejak hari itu, nasib keluarga Tan berubah. Tan Siauw Kiat ditempatkan di barisan pasukan pelindung utama Pangeran. Dan Choa Hok—Choa Hok diminta untuk sering-sering main dengan Pangeran Kiat Seng.

"Anak lo ini berani, cerdik, dan setia," kata Kaisar kepada Tan Siauw Kiat. "Itu yang gue butuh buat anak gue."

Permaisuri pun senang. Sejak punya Choa Hok, Pangeran kecil jadi lebih kompetitif. Dulu dia malas belajar pedang, sekarang dia ingin mengalahkan Choa Hok. Dulu dia tidak peduli taktik perang, sekarang dia membaca buku sampai tengah malam.

"Anak gue sekarang punya saingan," kata Permaisuri sambil tersenyum miring dengan mata menyipit. "Dan saingan itu juga sahabat. Langka. Selain itu karena Pangeran Luar, dia gak bisa macem-macem akibat banyak utang budi"

---

Suara air dari pancuran bambu mulai melemah. Persediaan di gentong atas hampir habis.

Choa Hok membuka mata.

Dia masih berdiri di kamar mandi. Masih basah. Masih kedinginan. Tapi air matanya sudah berhenti. Mungkin tercampur habis dengan air pancuran, mungkin juga habis karena ingatan masa kecilnya yang hangat itu sedikit menghangatkan dadanya.

Dia menyeka wajah dengan handuk kasar, lalu memandangi bayangannya sendiri di air yang tergenang di lantai batu.

"Pangeran Kiat Seng..." gumamnya pelan. "Dulu kau yang nangis di pundak gue. Sekarang giliran gue yang mau nangis. Tapi gue gak bisa. Soalnya... gue Jendral sekarang."

Dia tertawa kecil. Pahit.

Di ruang tengah rumah dinasnya, panah kecil dengan pesan mendadak menancap di papan kayu di samping pintu. Ajudannya pasti yang kirim. Atau mata-mata. Atau mungkin pangeran sendiri.

Choa Hok menghela napas. Dia merapikan pakaiannya, memastikan matanya yang sedikit bengkak tidak terlalu kentara, lalu melangkah keluar.

"Ganggu orang mandi aja, tugas amsyong (sialan)," omelnya dalam hati sambil membuka pesan.

Bersambung 

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Tiongkun Tan Choa Hok    PANGERAN LUAR YANG KEWALAHAN

    Setahun sudah. Libur Choa Hok habis. Tapi kekacauan yang dia ciptakan—tanpa sengaja—masih terus berlanjut. Choa Hok melihat kalender dan ogah ke istana.Di Istana Yo Lan menggendong anaknya sambil menatap tembok rahasia. Diberi garis-garis. Dia akan bisa menemui Choa Hok lagi. Seperti biasa, alasan nanya gerakan Selir dan Mentri di bagian Intelijen. Hatinya cinta pada Choa Hok. Sakit. Tapi ada lega karena Choa Hok bisa punya anak. Walaupun tetap nyeri nyut-nyutan karena bukan dia yang melahirkan bayi itu, tapi Eng Hwa, sepupunya yang paling dia sayang.Undang-undang perkawinan janda akhirnya disahkan. Sidang Mentri Cia Agung, setelah debat panas selama berminggu-minggu, menyetujui rancangan Permaisuri. Isinya: hukuman berat bagi siapa pun yang menyebarkan gosip atau menentang perkawinan janda dengan pria yang legitim. Masyarakat tidak bisa semena-mena lagi. Gosip masih jalan di belakang, tapi secara hukum, kalo ketahuan, berat.Choa Hok membaca berita itu dari koran istana. Tersenyum.

  • Tiongkun Tan Choa Hok    STIGMA YANG MULAI RETAK

    Di ruang tamu rumah warisan Tan, suasana hangat tapi tegang. Bukan tegang karena marah. Tapi tegang karena harapan dan ketakutan bercampur menjadi satu.Choa Hok duduk di kursi ruang tamu. Di depannya, Choa Liem—adik sepupu, tabib muda lulusan akademi militer, spesialis meridian anak. Tangannya meraba pergelangan tangan bayi mungil yang digendong Eng Hwa. Bayi itu—Bun Kiat, ide gabungan dari Choa Hok dan Eng Hwa masih merengek habis jatuh. Bayi itu seolah-olah mengadu manja pada dunia. Mata besar menatap langit-langit. Kadang tersenyum sendiri. Kadang kecup jari-jari kecilnya.Choa Liem memejamkan mata. Jari-jarinya bergerak pelan. Meraba aliran chi—atau bekas aliran chi—di dalam tubuh mungil itu.Lama.Lalu dia membuka mata. Wajahnya sepet. Cuma bisa merem, melek—kayak orang yang gak percaya dengan temuan sendiri.“Ga bisa, Ko!” suaranya pelan, tapi tegas. “Meridian gini belajar pake senjata aja tin thang (berat). Apa lagi pake chi."Choa Hok terdiam. Kepalanya nunduk. Pelipisnya ber

  • Tiongkun Tan Choa Hok    Jatuh Lagi, Berdiri Lagi

    Tan Kwee Beng menggebrak meja.Meja kayu jati di ruang tamu rumah warisan Tan itu bergetar. Gelas-gelas teh meloncat, hampir tumpah. Beberapa pembantu yang sedang bersih-bersih di pojokan kaget, langsung mundur.“Gila lu, Hok!” teriak Kwee Beng. “Ponakan lu mau kawin sama janda lagi? Satu kali lu kawin sama janda, gua diem. Dua kali ponakan gua kawin sama janda, gua masih bisa tahan. Tiga kali— ”“Belum tiga kali, ” potong Choa Hok. Sambil mengupas kacang rebus.Kwee Beng terdiam. Wajahnya merah. Dadanya naik turun.Gwee Hoe—istri Kwee Beng, ipar Choa Hok—maju. Tangannya di pinggang. Matanya melotot.“Choa Hok, lu jangan belagu! ” katanya. “Ini urusan anak gua. Ki Lan anak gua. Masa gua ga punya suara? ”Choa Hok tidak menjawab. Dia memasukkan kacang rebus ke mulut. Mengunyah. Kriuk. Kriuk.Gwee Hoe ngamuk. Bicara terus. Tentang aib. Tentang malu. Tentang apa kata orang.Kwee Beng ikut ngamuk. Nambahin omelan istrinya.Choa Hok duduk santai. Matanya menatap mereka berdua. Seperti meno

  • Tiongkun Tan Choa Hok    GIOK, TEH, DAN STIGMA YANG LUMER

    “Ayok ke gudang, cari giok yang pantes buat tanda jadi!” kata Choa Hok.Ki Lan mengerjap. “Giok, Ah Cek?”“Buat lamaran. Lu kan mau lamar Kim Lan. Gak mungkin cuma modal senyum.”Ki Lan tersenyum. Lalu mengeluarkan kantong kain dari saku bajunya.Bukan kantong sembarangan. Kain sutra, warna merah tua, diikat pita kecil. Choa Hok menerima. Membuka. Matanya membelalak.Giok. Bentuk lingkaran warna hijau kebiruan, permukaan mengkilap dengan ukiran anggrek—tanda kualitas bagus, agak mahal. Pinggiran emasnya bersih.Choa Hok bersiul kecil. “Pesanan khusus?”“Iya, Ah Cek,” jawab Ki Lan, agak malu. “Gue sengaja bikin sebulan lalu. Karena gue udah niat. Kayak niat Ah Cek dulu gak main-main sama Ah Cim. Niat.”Choa Hok diam. Lalu mengangguk. Bangga. Tanpa banyak kata.Eng Hwa yang dari tadi menganalisis wajah Kim Lan, mendekat. Matanya menyipit.“Eh, boleh tau tanggal lahir kalian?”Ki Lan dan Kim Lan kompak memberikan tanggal. Eng Hwa mengeluarkan kertas kecil dari balik lengan bajunya—primbo

  • Tiongkun Tan Choa Hok    LAPORAN DARI BAYANGAN

    Prajurit Hok berdiri di tempat rahasia di depot Bak Mie Long. Belakang wisma. Bau dupa masih tercium samar dari balik dinding bambu. Di depannya, Pangeran Ong Kiat Seng—pakaian hitam, topeng setengah muka, lencana disembunyikan. Mata pangeran tajam. Rahangnya merapat.“Laporan lu lengkap! Ciamik memang anak buah Choa Hok.” suara pangeran datar, tapi ada getar di ujung.Prajurit Hok mengangguk. Cuma bisa diem. Matanya keriyep-keriyep gara-gara semaleman di wisma akibat gagal tobat.Pangeran menghela napas. Hidungnya mengkerut. Lalu mengendus.Matanya membelalak.“Lu bau parfum wanita.”Prajurit Hok diam. Mulutnya terkunci.“Sebelum laporan, lu ke wisma dulu?”Prajurit Hok mengangguk. Takut. Malu. Tapi jujur.“Kaga tahan, Yang Mulia,” bisiknya. “Pulang perang... maunya tobat... tapi...”Pangeran menghela napas. Pusing. Tidak mau lanjut. Urusan moral prajurit bukan domainnya.“Udah. Laporan.”Prajurit Hok menarik napas. Mengeluarkan catatan dari saku bajunya.“Choa Hok tidak berkhianat

  • Tiongkun Tan Choa Hok    KEHIDUPAN YANG TUMBUH

    Hari kedelapan setelah pernikahan. Choa Hok sudah boleh bekerja di luar. Secara adat, pengantin baru memang dilarang keluar rumah selama seminggu penuh. Tapi hari ini—hari kedelapan—bebas. Pintu rumah tidak lagi terkunci simbolis. Tamu tidak lagi datang bergelombang. Rumah kembali sepi. Normal.Tapi Choa Hok gak mood duduk di teras, makan kacang rebus. Dia menulis sesuatu. Lembar demi lembar. Menggambar lembar demi lembar. Buku tentang teknik-teknik intelijen. Hobi sampingan.Dia duduk di kursi bambu, di teras rumah warisan Tan yang sudah ia perlebar itu. Secangkir teh jahe di sampingnya. Dingin. Gak disentuh. Matanya kosong menatap halaman belakang—yang dulu lapangan latihan panah, sekarang sudah berubah. Pohon jeruk. Pohon plum. Pohon mangga. Dan yang paling banyak: bunga Krisan. Bibit-bibit kecil yang dia tanam beberapa minggu lalu, sekarang sudah mulai tumbuh. Daun-daun kecil berwarna hijau segar menjulur dari tanah, seolah-olah mengabarkan bahwa mereka akan mekar.“Tuan,” kata pe

  • Tiongkun Tan Choa Hok    PAGI YANG MENEGANGKAN

    Kepala Choa Hok terasa seperti dihantam palu godam. Bukan palu biasa. Palu yang panas. Palu yang berdentum-dentum di pelipis kiri, merambat ke kanan, lalu berhenti di belakang mata. Nyeri.Dia buka mata. Samar.Langit-langit kayu. Bukan langit-langit baraknya. Langit-langit ini lebih rendah, lebih

  • Tiongkun Tan Choa Hok    CHHIU HOE LAU

    Malam itu, bulan bersinar terang. Terlalu terang buat suasana hati yang kacau.Choa Hok berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya ke arah selatan, ke pasar malam yang biasanya ramai. Tapi malam ini dia gak berhenti di pasar. Dia lewati toko jimat. Lewati kedai mie yang masih buka. Lewati jembatan b

  • Tiongkun Tan Choa Hok    TITIK NADIR

    Jendela itu terbuka pelan. Tanpa suara. Kayak hantu. Tapi Choa Hok udah tahu siapa di baliknya sebelum siluet pria berkerudung itu muncul.Pria itu melangkah masuk. Membuka kerudungnya dengan gaya sok keren. Protokol: Kaisar dan Pangeran harus tampak gagah di depan Kepala Intelijen. Choa Hok berwaj

  • Tiongkun Tan Choa Hok    INVESTIGASI CALON WANITA PANGERAN 

    Choa Hok membuka pesan itu. Kertasnya masih hangat—entah kena sinar matahari atau kena panasnya panah yang nembak ke papan.Kadang dia merasa kesal. Bukan sama isi pesannya. Tapi sama kebiasaan tentara kampung ini. Kenapa pesan mesti ditembak pake panah ke papan ga jelas di tiap ruangan? Sombong am

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status