LOGINHari kedelapan setelah pernikahan. Choa Hok sudah boleh bekerja di luar. Secara adat, pengantin baru memang dilarang keluar rumah selama seminggu penuh. Tapi hari ini—hari kedelapan—bebas. Pintu rumah tidak lagi terkunci simbolis. Tamu tidak lagi datang bergelombang. Rumah kembali sepi. Normal.Tapi Choa Hok gak mood duduk di teras, makan kacang rebus. Dia menulis sesuatu. Lembar demi lembar. Menggambar lembar demi lembar. Buku tentang teknik-teknik intelijen. Hobi sampingan.Dia duduk di kursi bambu, di teras rumah warisan Tan yang sudah ia perlebar itu. Secangkir teh jahe di sampingnya. Dingin. Gak disentuh. Matanya kosong menatap halaman belakang—yang dulu lapangan latihan panah, sekarang sudah berubah. Pohon jeruk. Pohon plum. Pohon mangga. Dan yang paling banyak: bunga Krisan. Bibit-bibit kecil yang dia tanam beberapa minggu lalu, sekarang sudah mulai tumbuh. Daun-daun kecil berwarna hijau segar menjulur dari tanah, seolah-olah mengabarkan bahwa mereka akan mekar.“Tuan,” kata pe
Malam itu, Eng Hwa dibawa ke rumah orang tuanya. Bukan karena dia diusir. Bukan karena ada konflik. Tapi karena adat. Rumah Kwee akan menjadi tempat Sampai—tiga sembah kepada langit, leluhur, dan saling menghormati. Esok pagi, prosesi akan dimulai. Dan Eng Hwa harus berangkat dari rumah orang tuanya, bukan dari rumah mertua.Ah Pa Kwee duduk di ruang tamu, pakoa di tangan, alis berkerut. Di depannya, kertas merah berisi tanggal lahir Choa Hok dan Eng Hwa. Jari-jarinya bergerak menghitung wuku, pasaran, dan perputaran bintang.Mata Ah Pa Kwee membelalak."Cocok," bisiknya. "Cocok banget."Ah Me Kwee yang sedang merapikan seserahan mendekat. "Cocok, Pa?""Cocok. Tanggal yang ditulis Choa Hok—yang katanya asal-asalan, strategi pragmatis, pokoknya cepet—itu sama persis kayak tanggal paling bagus tahun ini yang gua dapet dengan hasil hitungan Hong Chui." Ah Pa Kwee menghela napas. "Dulu, waktu Eng Hwa nikah sama Liem Chay, Choa Hok nginep di sini. Dia ngorok. Gak sengaja netralin energi ne
Eng Hwa duduk di teras rumah orang tuanya. Sepiring pia babi di sampingnya—kue kering isi daging babi cincang, wangi, gurih, masih hangat karena baru saja dipanggang. Tapi dia tidak makan. Matanya kosong menatap halaman depan yang sunyi. Pohon mangga yang dulu sering dipanjat Liem Chay masih berdiri di sudut. Daunnya mulai menguning—musim berganti, tapi rasanya waktu berhenti di hari kematian suaminya.Pia babi itu akhirnya dia ambil. Gigit. Kecil. Tidak nafsu. Tapi dia makan karena harus. Karena tubuhnya butuh. Karena dia tidak bisa mati hanya karena patah hati. Liem Chay sudah menasehati agar dia hidup sehat. Tidak putus asa. Dia sudah berjuang agar istri dapat pesangon sejak muda.Belakangan ini, sejak Choa Hok menginap di rumah orang tuanya—dia selalu mimpi.Mimpi yang sama. Taman. Pohon Liong Liu besar. Bangku kayu di bawahnya. Dan Liem Chay—duduk di sampingnya, tersenyum, tangannya memegang daun hijau segar.“Kalo lu gua titipin ke Choa Hok, apa mau?”Eng Hwa menolak. Awalnya. H
Beberapa minggu kemudian, situasi di Vazal Tenggara mulai stabil.Raja Vazal yang berkhianat sudah dieksekusi. Kepalanya dipajang di alun-alun—tontonan buat rakyat yang selama ini tertindas. Penggantinya? Bukan orang asing. Bukan bangsawan dari ibu kota. Tapi kakak pertama Choa Hok—Tan Kwee Tio.Kaisar memilihnya karena: satu, dia kompeten (lulusan akademi militer, berpengalaman di medan perang). Dua, dia saudara Choa Hok—dan Kaisar percaya keluarga Tan punya kesetiaan yang sudah terbukti.Tan Kwee Tio harus berangkat ke Vazal Tenggara. Tapi sesuai adat, dia harus tinggal bersama semua adiknya di altar leluhur utama di Rumah Choa Hok sebulan dulu. Pamit ke leluhur. Meninggalkan rumah, meninggalkan adik-adiknya, meninggalkan Altar leluhur utama. Choa Hok dapat dispensasi karena kondisi rentan secara psikis dan fisik. Jadi Tan Kwee Tio, Tan Kwee Beng, dan Tan Kwee Kiong menginap di rumah Choa Hok bersama anak dan istri mereka.---Choa Hok sendiri masih terbaring di Rumah Sakit Istana.
Tiga hari setelah diagnosis Sinseh Yap Ciang, halaman belakang rumah Choa Hok berubah.Pembantu-pembantunya—dua pria setengah baya yang setia meski gaji kecil—berdiri di teras, melongo. Mata mereka mengikuti setiap gerakan Choa Hok yang sedang jongkok di tanah, tangan berlumpur, mencangkul pelan.Bukan latihan perang. Bukan panahan. Bukan berkuda.Menanam.Bunga Krisan. Bibit-bibit kecil berjejer rapi di tanah gembur. Di sampingnya, ada pohon jeruk, pohon plum, pohon kacang hijau—semua ditanam di halaman belakang yang biasanya kosong, rata, dipake buat latihan panah atau berkuda.“Tuan...” bisik pembantu tertua, “Tuan mau... pensiun?”Choa Hok gak ngejawab. Tangannya masih sibuk merapikan tanah di sekitar bibit.“Tuan, ini kan biasanya lapangan latihan. Kalo ditanami...”“Ya latihan di alun-alun. Kan udah ada tempat khusus. Di rumah mah santai,” potong Choa Hok datar. Tangannya lembut memperlakukan tanaman-tanaman mungil itu. Tetangga curi-curi lihat dari luar. Mereka mengakui kalo ha
Hari Pernikahan Pangeran dengan Yo Lan. Choa Hok sebenarnya ogah datang karena dua alasan: patah hati dan feeling. Laporan Markas seminggu ini nyampe. Dia bagian intelijen jadi setiap hari berita urgent pasti ada. Dikirim merpati atau lewat pelayan. Berita beberapa hari ini ada gerakan di Vazal tenggara. Mencurigakan. Bau-baunya berontak pas pesta istana. Pesta istana terdekat? Ya kawinan sahabat dia, Pangeran.Dia masih kerja bungkus hantaran Tiongkun Seng. Sampai selesai.Tapi undangan dari istana tetap mengintip dari atas meja. Kertas tebal. Cap naga. Tulisan bagus. “Duh, ogah dateng… libur”, omelnya pada undangan di meja. Ah Peng, ajudan butuh duit yang ikut kerja karena liburnya barengan dan ditawarin cuma bisa geleng liat Tiongkun dia. Di Markas, si Tiongkun itu pasti mode ‘siap, laksanakan’.Lah di sini? Mode manja-manja ogah tapi butuh, persis seniman. Ah Peng sampai curiga, jangan-jangan Tiongkun punya dua arwah kayak cerita mistis yang bukunya lagi booming itu.Hari itu, dia
Kepala Choa Hok terasa seperti dihantam palu godam. Bukan palu biasa. Palu yang panas. Palu yang berdentum-dentum di pelipis kiri, merambat ke kanan, lalu berhenti di belakang mata. Nyeri.Dia buka mata. Samar.Langit-langit kayu. Bukan langit-langit baraknya. Langit-langit ini lebih rendah, lebih
Malam itu, bulan bersinar terang. Terlalu terang buat suasana hati yang kacau.Choa Hok berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya ke arah selatan, ke pasar malam yang biasanya ramai. Tapi malam ini dia gak berhenti di pasar. Dia lewati toko jimat. Lewati kedai mie yang masih buka. Lewati jembatan b
Jendela itu terbuka pelan. Tanpa suara. Kayak hantu. Tapi Choa Hok udah tahu siapa di baliknya sebelum siluet pria berkerudung itu muncul.Pria itu melangkah masuk. Membuka kerudungnya dengan gaya sok keren. Protokol: Kaisar dan Pangeran harus tampak gagah di depan Kepala Intelijen. Choa Hok berwaj
Choa Hok membuka pesan itu. Kertasnya masih hangat—entah kena sinar matahari atau kena panasnya panah yang nembak ke papan.Kadang dia merasa kesal. Bukan sama isi pesannya. Tapi sama kebiasaan tentara kampung ini. Kenapa pesan mesti ditembak pake panah ke papan ga jelas di tiap ruangan? Sombong am







