FAZER LOGIN“Ayok ke gudang, cari giok yang pantes buat tanda jadi!” kata Choa Hok.Ki Lan mengerjap. “Giok, Ah Cek?”“Buat lamaran. Lu kan mau lamar Kim Lan. Gak mungkin cuma modal senyum.”Ki Lan tersenyum. Lalu mengeluarkan kantong kain dari saku bajunya.Bukan kantong sembarangan. Kain sutra, warna merah tua, diikat pita kecil. Choa Hok menerima. Membuka. Matanya membelalak.Giok. Bentuk lingkaran warna hijau kebiruan, permukaan mengkilap dengan ukiran anggrek—tanda kualitas bagus, agak mahal. Pinggiran emasnya bersih.Choa Hok bersiul kecil. “Pesanan khusus?”“Iya, Ah Cek,” jawab Ki Lan, agak malu. “Gue sengaja bikin sebulan lalu. Karena gue udah niat. Kayak niat Ah Cek dulu gak main-main sama Ah Cim. Niat.”Choa Hok diam. Lalu mengangguk. Bangga. Tanpa banyak kata.Eng Hwa yang dari tadi menganalisis wajah Kim Lan, mendekat. Matanya menyipit.“Eh, boleh tau tanggal lahir kalian?”Ki Lan dan Kim Lan kompak memberikan tanggal. Eng Hwa mengeluarkan kertas kecil dari balik lengan bajunya—primbo
Prajurit Hok berdiri di tempat rahasia di depot Bak Mie Long. Belakang wisma. Bau dupa masih tercium samar dari balik dinding bambu. Di depannya, Pangeran Ong Kiat Seng—pakaian hitam, topeng setengah muka, lencana disembunyikan. Mata pangeran tajam. Rahangnya merapat.“Laporan lu lengkap! Ciamik memang anak buah Choa Hok.” suara pangeran datar, tapi ada getar di ujung.Prajurit Hok mengangguk. Cuma bisa diem. Matanya keriyep-keriyep gara-gara semaleman di wisma akibat gagal tobat.Pangeran menghela napas. Hidungnya mengkerut. Lalu mengendus.Matanya membelalak.“Lu bau parfum wanita.”Prajurit Hok diam. Mulutnya terkunci.“Sebelum laporan, lu ke wisma dulu?”Prajurit Hok mengangguk. Takut. Malu. Tapi jujur.“Kaga tahan, Yang Mulia,” bisiknya. “Pulang perang... maunya tobat... tapi...”Pangeran menghela napas. Pusing. Tidak mau lanjut. Urusan moral prajurit bukan domainnya.“Udah. Laporan.”Prajurit Hok menarik napas. Mengeluarkan catatan dari saku bajunya.“Choa Hok tidak berkhianat
Hari kedelapan setelah pernikahan. Choa Hok sudah boleh bekerja di luar. Secara adat, pengantin baru memang dilarang keluar rumah selama seminggu penuh. Tapi hari ini—hari kedelapan—bebas. Pintu rumah tidak lagi terkunci simbolis. Tamu tidak lagi datang bergelombang. Rumah kembali sepi. Normal.Tapi Choa Hok gak mood duduk di teras, makan kacang rebus. Dia menulis sesuatu. Lembar demi lembar. Menggambar lembar demi lembar. Buku tentang teknik-teknik intelijen. Hobi sampingan.Dia duduk di kursi bambu, di teras rumah warisan Tan yang sudah ia perlebar itu. Secangkir teh jahe di sampingnya. Dingin. Gak disentuh. Matanya kosong menatap halaman belakang—yang dulu lapangan latihan panah, sekarang sudah berubah. Pohon jeruk. Pohon plum. Pohon mangga. Dan yang paling banyak: bunga Krisan. Bibit-bibit kecil yang dia tanam beberapa minggu lalu, sekarang sudah mulai tumbuh. Daun-daun kecil berwarna hijau segar menjulur dari tanah, seolah-olah mengabarkan bahwa mereka akan mekar.“Tuan,” kata pe
Malam itu, Eng Hwa dibawa ke rumah orang tuanya. Bukan karena dia diusir. Bukan karena ada konflik. Tapi karena adat. Rumah Kwee akan menjadi tempat Sampai—tiga sembah kepada langit, leluhur, dan saling menghormati. Esok pagi, prosesi akan dimulai. Dan Eng Hwa harus berangkat dari rumah orang tuanya, bukan dari rumah mertua.Ah Pa Kwee duduk di ruang tamu, pakoa di tangan, alis berkerut. Di depannya, kertas merah berisi tanggal lahir Choa Hok dan Eng Hwa. Jari-jarinya bergerak menghitung wuku, pasaran, dan perputaran bintang.Mata Ah Pa Kwee membelalak."Cocok," bisiknya. "Cocok banget."Ah Me Kwee yang sedang merapikan seserahan mendekat. "Cocok, Pa?""Cocok. Tanggal yang ditulis Choa Hok—yang katanya asal-asalan, strategi pragmatis, pokoknya cepet—itu sama persis kayak tanggal paling bagus tahun ini yang gua dapet dengan hasil hitungan Hong Chui." Ah Pa Kwee menghela napas. "Dulu, waktu Eng Hwa nikah sama Liem Chay, Choa Hok nginep di sini. Dia ngorok. Gak sengaja netralin energi ne
Eng Hwa duduk di teras rumah orang tuanya. Sepiring pia babi di sampingnya—kue kering isi daging babi cincang, wangi, gurih, masih hangat karena baru saja dipanggang. Tapi dia tidak makan. Matanya kosong menatap halaman depan yang sunyi. Pohon mangga yang dulu sering dipanjat Liem Chay masih berdiri di sudut. Daunnya mulai menguning—musim berganti, tapi rasanya waktu berhenti di hari kematian suaminya.Pia babi itu akhirnya dia ambil. Gigit. Kecil. Tidak nafsu. Tapi dia makan karena harus. Karena tubuhnya butuh. Karena dia tidak bisa mati hanya karena patah hati. Liem Chay sudah menasehati agar dia hidup sehat. Tidak putus asa. Dia sudah berjuang agar istri dapat pesangon sejak muda.Belakangan ini, sejak Choa Hok menginap di rumah orang tuanya—dia selalu mimpi.Mimpi yang sama. Taman. Pohon Liong Liu besar. Bangku kayu di bawahnya. Dan Liem Chay—duduk di sampingnya, tersenyum, tangannya memegang daun hijau segar.“Kalo lu gua titipin ke Choa Hok, apa mau?”Eng Hwa menolak. Awalnya. H
Beberapa minggu kemudian, situasi di Vazal Tenggara mulai stabil.Raja Vazal yang berkhianat sudah dieksekusi. Kepalanya dipajang di alun-alun—tontonan buat rakyat yang selama ini tertindas. Penggantinya? Bukan orang asing. Bukan bangsawan dari ibu kota. Tapi kakak pertama Choa Hok—Tan Kwee Tio.Kaisar memilihnya karena: satu, dia kompeten (lulusan akademi militer, berpengalaman di medan perang). Dua, dia saudara Choa Hok—dan Kaisar percaya keluarga Tan punya kesetiaan yang sudah terbukti.Tan Kwee Tio harus berangkat ke Vazal Tenggara. Tapi sesuai adat, dia harus tinggal bersama semua adiknya di altar leluhur utama di Rumah Choa Hok sebulan dulu. Pamit ke leluhur. Meninggalkan rumah, meninggalkan adik-adiknya, meninggalkan Altar leluhur utama. Choa Hok dapat dispensasi karena kondisi rentan secara psikis dan fisik. Jadi Tan Kwee Tio, Tan Kwee Beng, dan Tan Kwee Kiong menginap di rumah Choa Hok bersama anak dan istri mereka.---Choa Hok sendiri masih terbaring di Rumah Sakit Istana.
Kepala Choa Hok terasa seperti dihantam palu godam. Bukan palu biasa. Palu yang panas. Palu yang berdentum-dentum di pelipis kiri, merambat ke kanan, lalu berhenti di belakang mata. Nyeri.Dia buka mata. Samar.Langit-langit kayu. Bukan langit-langit baraknya. Langit-langit ini lebih rendah, lebih
Malam itu, bulan bersinar terang. Terlalu terang buat suasana hati yang kacau.Choa Hok berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya ke arah selatan, ke pasar malam yang biasanya ramai. Tapi malam ini dia gak berhenti di pasar. Dia lewati toko jimat. Lewati kedai mie yang masih buka. Lewati jembatan b
Jendela itu terbuka pelan. Tanpa suara. Kayak hantu. Tapi Choa Hok udah tahu siapa di baliknya sebelum siluet pria berkerudung itu muncul.Pria itu melangkah masuk. Membuka kerudungnya dengan gaya sok keren. Protokol: Kaisar dan Pangeran harus tampak gagah di depan Kepala Intelijen. Choa Hok berwaj
Choa Hok membuka pesan itu. Kertasnya masih hangat—entah kena sinar matahari atau kena panasnya panah yang nembak ke papan.Kadang dia merasa kesal. Bukan sama isi pesannya. Tapi sama kebiasaan tentara kampung ini. Kenapa pesan mesti ditembak pake panah ke papan ga jelas di tiap ruangan? Sombong am







