Share

TITIK NADIR

Author: The Bwee Lan
last update publish date: 2026-05-16 11:33:47

Jendela itu terbuka pelan. Tanpa suara. Kayak hantu. Tapi Choa Hok udah tahu siapa di baliknya sebelum siluet pria berkerudung itu muncul.

Pria itu melangkah masuk. Membuka kerudungnya dengan gaya sok keren. Protokol: Kaisar dan Pangeran harus tampak gagah di depan Kepala Intelijen. Choa Hok berwajah datar, dengkulnya bergetar hebat. Liem Chay menahan panas di dadanya dan lututnya mulai bergoyang-goyang pelan.

Pangeran masih pake pakaian pengawal—baju gelap, kerah tertutup, lencana disembunyiin. Tapi Choa Hok kenal langkahnya. Kenal cara dia berdiri. Kenal bau minyak rambutnya yang mahal—campuran melati dan cendana, yang gak mungkin dibeli oleh pengawal biasa. Apalagi gincunya, itu gincu yang Choa Hok ramu sendiri buat Pangeran. Gincu merah keramik yang dipuji Kaisar Negara Bintang dan jadi trend gincu pria favorit tahun ini di Cia Agung dan Negara Bintang. Uang lumayan. Tapi sekarang, uang itu sudah tidak lagi berguna. Karena uang tidak bisa membeli cinta.

“Jendral Choa Hok,” sapa pangeran. Suaranya pelan. Ramah. Kayak orang yang gak punya beban apa-apa.

Choa Hok menyerahkan laporan itu. Kertas tebal. Dijilid rapi. Ada cap dinas di sampulnya. “Data Kwee Yo Lan, Yang Mulia. Lengkap.”

Pangeran menerima. Dibuka. Dibaca. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Alisnya naik turun. Sekali. Dua kali.

Lalu dia tersenyum.

Bukan senyum puas. Bukan senyum menang. Tapi senyum lega. Senyum orang yang nemu apa yang dia cari.

“Bagus,” kata pangeran. “Bagus sekali.”

Choa Hok gak ngejawab. Tangannya di samping tubuh. Dilipat. Kaku. Kuku jempol kirinya udah mulai ngelupas—bekas nahan kepalan tadi.

Di belakang Choa Hok, di samping pintu, Ajudan Liem Chay berdiri. Badannya tegang. Matanya gak berkedip. Wajahnya pucat kayak kertas yang udah dijemur seminggu. Kakinya makin parah bergetarnya.

Liem Chay tahu isi laporan itu. Bukan cuma karena dia ikut nulis. Tapi karena dia berdua Choa Hok yang ngumpulin data dari lapangan. Dia yang berdua Choa Hok jalan kaki ke pasar, ke rumah tetangga, ke kantor pajak, toko bedak, sampai nyamar jadi perempuan untuk kerja di toko sulam dan benang. Demi apa? Demi informasi tentang Kwee Yo Lan. Dia yang berdua Choa Hok ngedenger gosip dari mulut ke mulut, lalu nulis rapi biar Choa Hok tinggal copas ke laporan resmi.

Dia juga tahu berapa utang keluarga Kwee. Tiga ratus dua puluh tael. Setengahnya udah lunas berkat meledaknya gincu yang diformulasikan Choa Hok. Seratus enam puluh tael tersisa.

Seratus enam puluh tael.

Choa Hok dan Liem Chay udah ngitung. Gaji mereka. Tabungan. Usaha lain: jualan jimat, investasi warung babi bakar, investasi toko kosmetik di pasar malam. Semuanya. Hasilnya: kurang lima puluh tael. Cuma lima puluh tael perak. Kalo lima puluh tael emas, pasti dada Liem Chay tidak sesakit ini.

Lima puluh tael perak yang gak bisa mereka kumpulin karena waktunya udah habis. Keluarga Kwee gak bisa nunggu. Tauke rentenir—si botak bermulut busuk yang biasa mangkal di dekat pelabuhan—gak mau nunggu. Setiap hari dia dateng, duduk di teras rumah Yo Lan, nyungsep-nyungsep, nagih. Akhirnya begitu Pangeran datang dengan kotak uang, jasa Choa Hok jadi dilupakan. Bahkan Ayah Yo Lan mengembalikan uang yang sempat dikasih Choa Hok dan Liem Chay.

“Biar lu gak ada budi sama anak gue,” kata Ayah Yo Lan senja itu. “Anak gue habis ini jadi Wanita Kerajaan. Gue gak mau uang segini jadi alasan lu berdua neken anak gue.”

Dan sekarang, undangan Sangjit dari pihak pangeran untuk Kwee Yo Lan sudah diproses.

Liem Chay ngerasa dadanya kayak dihimpit batu. Pemandangannya gelap. Suara pangeran yang lagi puji laporan kedengeran sayup-sayup, kayak dari ujung sumur.

“...lengkap banget, Choa Hok. Sampai nomor sepatu kesayangannya pun ada. Ini bukan laporan. Ini kitab.”

Pangeran tertawa kecil.

Liem Chay mencoba menarik napas. Gak bisa. Udara seakan ogah masuk ke hidungnya. Dadanya sesak. Kayak ada yang duduk di atasnya. Tangan gemetar. Keringat dingin mulai numplek di kening.

“Liem Chay,” kata pangeran. “Kau baik-baik saja?”

Liem Chay buka mulut. Suara gak keluar.

Dia liat Choa Hok. Jendral yang tegap itu diem aja. Wajahnya datar. Gak ada ekspresi. Tapi tangan kirinya—yang disilang di dada—tangannya gemetar. Kakinya juga gemetar hebat sampai meja bergetar sedikit.

Liem Chay buka mulut lagi.

Masih gak ada suara.

Pandangannya sudah kayak lukisan yang kehujanan—semuanya meleleh, warna-warna campur aduk, gak jelas mana yang nyata mana yang gak.

Lalu gelap.

---

“Orang-orang! Datang ni lo! Pingsan ni si Liem Chay!”

Suara pangeran nyaring. Panik. Choa Hok baru bergerak. Dia membopong Liem Chay—badan kurus yang dingin dan lemas kayak kain—lalu melangkah cepat ke pintu.

“Prajurit! Panggil sinseh!” teriaknya ke lorong.

Sepanjang jalan ke klinik militer, Liem Chay gak sadar. Tapi Choa Hok ngerasain sesuatu. Dadanya naik turun. Nafasnya sesak. Bukan karena beban. Tapi karena dia tahu kenapa Liem Chay pingsan.

Bukan karena gosip. Bukan karena cinta ke Yo Lan.

Tapi karena Liem Chay tahu. Dia tahu Choa Hok udah berusaha. Dia tahu mereka udah ngumpulin uang. Dia tahu mereka tinggal kurang lima puluh tael. Lima puluh tael yang gak sempet mereka dapetin karena waktu berkhianat.

Liem Chay pingsan karena dia gak tega.

---

Klinik militer. Bau obat. Bau alkohol. Bau luka lama yang gak pernah ilang.

Sinseh Ong Bun Hian—tabib tua dengan kumis tipis dan mata sipit yang udah melihat ribuan pasien—memeriksa Liem Chay dengan gerakan lambat tapi pasti. Jari-jarinya yang keriput meraba nadi di pergelangan tangan. Dadanya. Lehernya.

“Ini kecapekan,” gumam Sinseh Ong. “Sama tekanan batin. Kerja terlalu keras. Bikin gincu, ngecek pembukuan beberapa toko, belum kerja militer… haiyaaah!”

Choa Hok di sampingnya. Diem.

Sinseh Ong menghela napas. “Dengar-dengar... dia naksir Kwee Yo Lan, ya? Yang sekarang dilamar pangeran? Kalian berdua kerja usaha sana sini biar si Liem Chay jadi sama Yo Lan, kan.”

Choa Hok masih diem. Dia mengangguk. Pokoknya diiyain walaupun dia yang nyimpen perasaan. Bukan Liem Chay. Liem Chay sudah punya gebetan lain.

“Haiyaaah... kasiannya.” Sinseh Ong menggeleng pelan, lalu berdiri, berjalan ke lemari obat di pojok. Botol-botol kecil berjejer rapi. Dia mengambil satu. Lalu satu lagi. “Orang jatuh cinta emang paling rentan. Gampang pingsan, gampang sakit. Apalagi kalah sama pangeran. Siapa yang gak mental?”

Dia mencampur beberapa tetes cairan ke dalam mangkuk. Bau pahit langsung nyebar.

Choa Hok gak ngejawab. Dia liat Liem Chay yang masih pucat, bibir kering, napas pelan. Di pelipis kiri, bekas luka kecil—sisa perang dua tahun lalu. Waktu itu Liem Chay nahan tebasan pedang yang ditujukan ke Choa Hok.

Dia ingat Panglima Negara Utara menyerang dengan jurus Beruang Emasnya ke arah Tombak Darah Ular miliknya. Dia melawan. Tapi serangan itu tipuan. Wakilnya membawa Pedang Hantu untuk menusuk Choa Hok dari belakang. Liem Chay menggunakan jurus Plum Emas melawan Harimau—menahan jurus pedang itu dan membuat Wakil Panglima Negara Utara terpental, menjadi korban panah Crossbow. Walaupun sudah separah itu, Liem Chay tidak pingsan. Padahal chi miliknya tinggal lima persen.

Ironisnya, ajudan sakti itu sekarang pingsan karena mental. Bukan karena jurus musuh. Bukan karena kehabisan chi. Ironis.

Sinseh Ong menyuapi air Liem Chay. Pelan. Bibir ajudan itu bergerak refleks. Setelah beberapa teguk, Sinseh Ong mengganti dengan tonik pahit tadi.

“Minum, Nak. Ini biar tensimu naik. Jangan sampe pingsan lagi,” kata Sinseh tua itu seolah-olah menyuapi cucu kecilnya.

Beberapa menit kemudian, mata Liem Chay bergerak di balik kelopak. Jari-jarinya mulai gerak pelan. Lalu matanya terbuka. Samar. Kosong.

Choa Hok masih berdiri di samping dipan. Badannya kaku. Kayak patung.

Liem Chay nengok. Liat atasannya. Liat Sinseh Ong yang lagi bersihin peralatan. Liat dinding putih klinik. Liat langit-langit kayu yang retak di ujung.

Ingatan mulai balik. Sedikit demi sedikit.

Laporan. Pangeran. Undangan Sangjit. Lima puluh tael.

Liem Chay duduk pelan. Tangannya gemetar. Lalu—tanpa aba-aba—dia memeluk Choa Hok.

Bukan pelukan biasa. Pelukan ini kayak orang yang lagi tenggelam, meraih apa pun yang bisa dia gapai. Kepalanya nyangkut di dada Choa Hok. Tangannya mencengkeram punggung seragam jenderal itu.

Choa Hok awalnya beku. Tangannya di samping tubuh. Gak gerak. Tapi kemudian—perlahan—tangannya naik. Balas memeluk.

Mereka diem.

Gak ada tangis. Air mata mereka udah kering—habis terbuang di pancuran bambu pagi tadi, habis terhisap oleh bantal di malam-malam sebelumnya, habis menguap karena gak ada lagi yang bisa keluar.

Tapi dada mereka—dada mereka kembang kempis. Nafas mereka sesekali ngawur, putus di tengah, kayak orang yang gak bisa nahan sesuatu.

Sinseh Ong berhenti bersihin peralatan. Dia liat mereka. Liat dua pria yang saling memeluk tanpa suara. Lalu dia menghela napas, mengambil handuk kecil, dan meninggalkan ruangan.

Ada yang gak beres di sini, pikir Sinseh Ong. Tapi gak urusan gue.

---

Satu jam kemudian.

Liem Chay udah duduk di kamarnya. Badan masih lemas. Tapi matanya udah mulai fokus.

“Jendral,” bisiknya.

“Istirahat,” kata Choa Hok. “Besok lu pulang seminggu. Libur lu maju.”

“Tapi—”

“Istirahat. Itu perintah.”, katanya sambil melempar surat keputusan libur pasukan ke muka Liem Chay. Liem Chay tahu, Choa Hok tidak pernah melempar surat. Ia tau pasti Tiongkun dia emosi, dan yang bisa dia lakukan hanya nurut dan pasrah.

Liem Chay menyesal karena terlalu berargumen sampai sempat menolak surat. Padahal Sinseh sudah memberikan surat keterangan istirahat juga karena resikonya besar.

Liem Chay diem. Lalu dia manggut dan memungut surat itu. Ia tidak berani membantah. Choa Hok keluar. Pintu ditutup pelan.

Di lorong, Choa Hok berdiri sebentar. Matanya kosong ke dinding seberang. Lampu minyak di sampingnya berkedip-kedip, hampir mati.

Dia berjalan ke luar barak mencari sesuatu kesenangan. Choa Hok keluar menatap langit tanpa bintang. “Gua mesti cari kesenangan, walaupun itu sesat!”, bisiknya.

---

BERSAMBUNG

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiongkun Tan Choa Hok    ULAR YANG MENANTI PHOENIX

    Choa Hok berteriak. Minta dibebaskan. Suaranya menggema di dalam tombak. Tapi tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang bisa membebaskan dirinya.Dia sudah tidak punya tubuh. Sudah dikremasi. Abu-nya ditaruh di kelenteng keluarga Tan. Sekarang dia hanya arwah yang tidak bisa apa-apa. Dari mata tombak ular dia berteriak.Sehari setelah tombaknya hilang, Yo Lan datang di malam hari.Malam itu, Choa Hok sedang duduk di pondokan. Menatap bulan. Kacang rebus di tangan. Teh jahe di sampingnya. Sudah dingin. Dia belum sempat minum.Pintu pagar berderit. Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Tapi pintu itu terbuka sendiri. Yo Lan berdiri di ambang. Cadar masih menutupi wajahnya. Tapi malam ini, matanya—matanya menyala. Hijau. Bukan merah. Bukan hitam. Hijau giok."Yo Lan," kata Choa Hok, tanpa menoleh. "Masih belum puas?"Yo Lan melangkah masuk. Tidak bicara. Tangannya memegang sesuatu. Tombak. Tombak Darah Ular.Choa Hok menoleh. Matanya menyipit. Tidak kaget. Dia sudah tahu tombaknya hilang pagi

  • Tiongkun Tan Choa Hok    KERINDUAN YANG TELAH HABIS

    Musim berganti. Tahun bertukar. Daun-daun berguguran di musim gugur, lalu tumbuh lagi di musim semi. Begitu seterusnya. Seperti siklus kehidupan yang tak pernah berhenti.Anak-anak Choa Hok telah dewasa. Bun Kiat—putra sulungnya—kini menjadi pejabat administrasi seperti ayahnya. Bun Kian—yang dulu kawin dengan Teratai Bintang—kini mengelola bisnis kosmetik keluarga. Bun Kiong—yang dulu bikin Choa Hok pingsan delapan hari—kini menjadi saudagar rempah yang disegani. Mereka semua sudah menikah. Mereka semua sudah punya anak.Choa Hok sudah menjadi kakek tua rasa om-om. Rambutnya putih di pelipis. Wajahnya berkerut. Tapi matanya—matanya masih tajam. Masih waspada. Tidak semua yang tua itu lemah. Bahkan Pejabat Kelurahan yang baru selalu terpeleset memperkenalkan dia sebagai Ah Cek Choa Hok walaupun Ah Pa si pejabat dia tersinggung karena usia Choa Hok jauh di atasnya… harusnya yang pantas adalah panggilan Ah Pek.Demikian juga anak-anak Yo Lan. Tiga pangeran yang ambisius. Yang satu akhi

  • Tiongkun Tan Choa Hok    BIBIR HIJAU DAN MIMPI YANG MENGIKAT

    Choa Hok akhirnya bisa menikmati hidup. Bukan hidup mewah. Bukan hidup bergelimang harta. Tapi hidup normal. Hidup yang tidak perlu terus-menerus waspada, tidak perlu terus-menerus berpura-pura.Sebagai Diplomat yang mengutamakan kedamaian, ternyata lebih cuan dan untung. Bukan karena dia korup. Tapi karena diplomasi yang baik membuka peluang bisnis yang lebih luas. Hubungan dengan kerajaan tetangga yang baik membuat perdagangan lancar. Perdagangan yang lancar membuat pajak naik. Pajak yang naik membuat kesejahteraan rakyat meningkat.Dan Choa Hok tetap menekankan agar spionase tidak kendor. Dia tahu bahwa kedamaian bukan berarti tidak ada musuh. Kedamaian hanya berarti musuh sedang menunggu.Tapi kali ini, dia tidak lagi yang bertugas menjaga. Dia cukup memberi arahan. Cukup mengawasi dari jauh. Cukup menikmati hasil kerja timnya.Hari itu sore. Matahari mulai condong ke barat. Angin sore membawa bau tanah basah dari kebun belakang.Eng Hwa pulang dari istana. Biasa. Anter teh ke Per

  • Tiongkun Tan Choa Hok    JENDRAL YANG JADI PEJABAT ADMINISTRASI

    Dari pagi subuh, istana ricuh. Para Kasim dan Mentri rebutan. Suara mereka bergema di lorong-lorong istana, mengganggu burung pipit yang sedang sarapan di pohon beringin.“Gak bisa, gua tua… yang muda bantu yang tua. Choa Hok ikut gua! ” kata Mentri Administrasi. Tangannya gemetar—bukan karena tua, tapi karena semangat.“Bunga Anggrek melayang di Padang rumput, pokoknya ikut gua! ” balas Kasim Tio gak mau kalah walaupun pantunnya ga nyambung.Choa Hok duduk di kursi kayu di pojok ruangan. Minum teh jahe. Makan kacang rebus. Tersenyum kecil.Ya, dia mengundurkan diri jadi Tiongkun. Resmi.Kaisar sudah ga ada. Kaisar baru—Ong Kiat Seng—lemah di bidang tata negara. Dia tahu itu. Dia membutuhkan Choa Hok. Tapi dia juga takut Choa Hok terlalu dekat dengan Yo Lan.Maka perjanjian itu dibuat.Choa Hok mengangguk ketika Kiat Seng menyodorkan surat perjanjian. Dibaca. Diteliti. Tidak ada yang janggal.“Ho, Lah! ” kata Choa Hok. “Syaratnya: gua ga mau ketemu Permaisuri kecuali Permaisuri berdua

  • Tiongkun Tan Choa Hok    LIMA TAHUN

    Lima tahun berlalu. Choa Hok dan timnya kesal. Bukan kesal biasa. Kesal kronis. Kesal yang mengendap di tulang, di otak, di setiap rapat evaluasi kasus yang tidak pernah menghasilkan apa-apa.Tiongkun Hok—dulu Prajurit Hok, teman ke wismanya, sekarang kepala intelijen markas cabang—menatap tumpukan kertas di depannya. Laporan. Catatan. Kesaksian. Semua tidak jelas.“Lima tahun begini! ” bisiknya. Suaranya pelan, tapi penuh kekesalan. “Lima tahun ngumpulin bukti, nggak ada hasilnya. Lima tahun ngawasi Yo Lan, nggak pernah ketahuan. Lima tahun hidup dalam ketidakpastian. Ah Pa Kaisar harus ditutup kasusnya. ”, kata Choa Hok.Matanya sayu. Stempel itu terasa berat. Setiap langkah ke lemari “kasus tak terpecahkan” terasa seperti 10 ribu Li.Di lemari ruangan itu dia ingat surat “menjilat ludah sendiri” yang dia kirim ke Kiat Seng. Dia terpaksa mau kerja di Intelijen lagi. Lima tahun. Khusus kasus Kaisar. Kiat Seng yang oportunis pun bikin perjanjian: “Choa Hok dilarang menginvestigasi ka

  • Tiongkun Tan Choa Hok    INVESTIGASI MENTOK

    Ritual hari keenam mau dimulai. Matahari setinggi tombak. Sinar putih terang menembus jendela kamar tamu istana, jatuh tepat di atas wajah Choa Hok yang masih terbaring. Dia tidak bangun.Eng Hwa teriak-teriak. Bukan teriak panik. Tapi teriak kencang, khas perempuan yang sudah terbiasa mengatur puluhan karyawati di depot teh.“Hok! Hok! Bangun! ”Choa Hok tidak bergerak.Eng Hwa meraba keningnya. Dingin. Bukan demam. Bukan keringat. Dingin kayak orang yang kehabisan energi.Dia memanggil prajurit. “Tolong! Bawa suami gue ke klinik! ”Dua prajurit mengangkat Choa Hok dengan tandu darurat. Eng Hwa mengikuti di belakang. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Tangannya gemetar—bukan takut, tapi marah.Marah karena tidak tahu harus marah kepada siapa. Tapi mata Eng Hwa selalu ngeliat Yo Lan. Seolah-olah hatinya tau sesuatu hal yang otaknya ga paham.---Di klinik istana, Sinseh Ong memeriksa Choa Hok. Nadi. Mata. Lidah. Kening. Lama.“Ini kelelahan, ” katanya pelan. “Bukan kelelahan fisik. Tapi

  • Tiongkun Tan Choa Hok    PAGI YANG MENEGANGKAN

    Kepala Choa Hok terasa seperti dihantam palu godam. Bukan palu biasa. Palu yang panas. Palu yang berdentum-dentum di pelipis kiri, merambat ke kanan, lalu berhenti di belakang mata. Nyeri.Dia buka mata. Samar.Langit-langit kayu. Bukan langit-langit baraknya. Langit-langit ini lebih rendah, lebih

  • Tiongkun Tan Choa Hok    CHHIU HOE LAU

    Malam itu, bulan bersinar terang. Terlalu terang buat suasana hati yang kacau.Choa Hok berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya ke arah selatan, ke pasar malam yang biasanya ramai. Tapi malam ini dia gak berhenti di pasar. Dia lewati toko jimat. Lewati kedai mie yang masih buka. Lewati jembatan b

  • Tiongkun Tan Choa Hok    INVESTIGASI CALON WANITA PANGERAN 

    Choa Hok membuka pesan itu. Kertasnya masih hangat—entah kena sinar matahari atau kena panasnya panah yang nembak ke papan.Kadang dia merasa kesal. Bukan sama isi pesannya. Tapi sama kebiasaan tentara kampung ini. Kenapa pesan mesti ditembak pake panah ke papan ga jelas di tiap ruangan? Sombong am

  • Tiongkun Tan Choa Hok    JANJI DI BALIK LENCANA EMAS

    Saat asyik bersembunyi di balik semak bunga botan (peony), Choa Hok melihat sesuatu.Bayangan. Bukan satu. Banyak. Geraknya pelan, hati-hati, terlalu teratur buat sekadar pelayan yang lewat. Dari balik dedaunan, dia lihat kilatan pisau pendek di tangan mereka.Mata Choa Hok menyipit. Perutnya berke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status