ANMELDENJendela itu terbuka pelan. Tanpa suara. Kayak hantu. Tapi Choa Hok udah tahu siapa di baliknya sebelum siluet pria berkerudung itu muncul.
Pria itu melangkah masuk. Membuka kerudungnya dengan gaya sok keren. Protokol: Kaisar dan Pangeran harus tampak gagah di depan Kepala Intelijen. Choa Hok berwajah datar, dengkulnya bergetar hebat. Liem Chay menahan panas di dadanya dan lututnya mulai bergoyang-goyang pelan. Pangeran masih pake pakaian pengawal—baju gelap, kerah tertutup, lencana disembunyiin. Tapi Choa Hok kenal langkahnya. Kenal cara dia berdiri. Kenal bau minyak rambutnya yang mahal—campuran melati dan cendana, yang gak mungkin dibeli oleh pengawal biasa. Apalagi gincunya, itu gincu yang Choa Hok ramu sendiri buat Pangeran. Gincu merah keramik yang dipuji Kaisar Negara Bintang dan jadi trend gincu pria favorit tahun ini di Cia Agung dan Negara Bintang. Uang lumayan. Tapi sekarang, uang itu sudah tidak lagi berguna. Karena uang tidak bisa membeli cinta. “Jendral Choa Hok,” sapa pangeran. Suaranya pelan. Ramah. Kayak orang yang gak punya beban apa-apa. Choa Hok menyerahkan laporan itu. Kertas tebal. Dijilid rapi. Ada cap dinas di sampulnya. “Data Kwee Yo Lan, Yang Mulia. Lengkap.” Pangeran menerima. Dibuka. Dibaca. Matanya bergerak cepat dari baris ke baris. Alisnya naik turun. Sekali. Dua kali. Lalu dia tersenyum. Bukan senyum puas. Bukan senyum menang. Tapi senyum lega. Senyum orang yang nemu apa yang dia cari. “Bagus,” kata pangeran. “Bagus sekali.” Choa Hok gak ngejawab. Tangannya di samping tubuh. Dilipat. Kaku. Kuku jempol kirinya udah mulai ngelupas—bekas nahan kepalan tadi. Di belakang Choa Hok, di samping pintu, Ajudan Liem Chay berdiri. Badannya tegang. Matanya gak berkedip. Wajahnya pucat kayak kertas yang udah dijemur seminggu. Kakinya makin parah bergetarnya. Liem Chay tahu isi laporan itu. Bukan cuma karena dia ikut nulis. Tapi karena dia berdua Choa Hok yang ngumpulin data dari lapangan. Dia yang berdua Choa Hok jalan kaki ke pasar, ke rumah tetangga, ke kantor pajak, toko bedak, sampai nyamar jadi perempuan untuk kerja di toko sulam dan benang. Demi apa? Demi informasi tentang Kwee Yo Lan. Dia yang berdua Choa Hok ngedenger gosip dari mulut ke mulut, lalu nulis rapi biar Choa Hok tinggal copas ke laporan resmi. Dia juga tahu berapa utang keluarga Kwee. Tiga ratus dua puluh tael. Setengahnya udah lunas berkat meledaknya gincu yang diformulasikan Choa Hok. Seratus enam puluh tael tersisa. Seratus enam puluh tael. Choa Hok dan Liem Chay udah ngitung. Gaji mereka. Tabungan. Usaha lain: jualan jimat, investasi warung babi bakar, investasi toko kosmetik di pasar malam. Semuanya. Hasilnya: kurang lima puluh tael. Cuma lima puluh tael perak. Kalo lima puluh tael emas, pasti dada Liem Chay tidak sesakit ini. Lima puluh tael perak yang gak bisa mereka kumpulin karena waktunya udah habis. Keluarga Kwee gak bisa nunggu. Tauke rentenir—si botak bermulut busuk yang biasa mangkal di dekat pelabuhan—gak mau nunggu. Setiap hari dia dateng, duduk di teras rumah Yo Lan, nyungsep-nyungsep, nagih. Akhirnya begitu Pangeran datang dengan kotak uang, jasa Choa Hok jadi dilupakan. Bahkan Ayah Yo Lan mengembalikan uang yang sempat dikasih Choa Hok dan Liem Chay. “Biar lu gak ada budi sama anak gue,” kata Ayah Yo Lan senja itu. “Anak gue habis ini jadi Wanita Kerajaan. Gue gak mau uang segini jadi alasan lu berdua neken anak gue.” Dan sekarang, undangan Sangjit dari pihak pangeran untuk Kwee Yo Lan sudah diproses. Liem Chay ngerasa dadanya kayak dihimpit batu. Pemandangannya gelap. Suara pangeran yang lagi puji laporan kedengeran sayup-sayup, kayak dari ujung sumur. “...lengkap banget, Choa Hok. Sampai nomor sepatu kesayangannya pun ada. Ini bukan laporan. Ini kitab.” Pangeran tertawa kecil. Liem Chay mencoba menarik napas. Gak bisa. Udara seakan ogah masuk ke hidungnya. Dadanya sesak. Kayak ada yang duduk di atasnya. Tangan gemetar. Keringat dingin mulai numplek di kening. “Liem Chay,” kata pangeran. “Kau baik-baik saja?” Liem Chay buka mulut. Suara gak keluar. Dia liat Choa Hok. Jendral yang tegap itu diem aja. Wajahnya datar. Gak ada ekspresi. Tapi tangan kirinya—yang disilang di dada—tangannya gemetar. Kakinya juga gemetar hebat sampai meja bergetar sedikit. Liem Chay buka mulut lagi. Masih gak ada suara. Pandangannya sudah kayak lukisan yang kehujanan—semuanya meleleh, warna-warna campur aduk, gak jelas mana yang nyata mana yang gak. Lalu gelap. --- “Orang-orang! Datang ni lo! Pingsan ni si Liem Chay!” Suara pangeran nyaring. Panik. Choa Hok baru bergerak. Dia membopong Liem Chay—badan kurus yang dingin dan lemas kayak kain—lalu melangkah cepat ke pintu. “Prajurit! Panggil sinseh!” teriaknya ke lorong. Sepanjang jalan ke klinik militer, Liem Chay gak sadar. Tapi Choa Hok ngerasain sesuatu. Dadanya naik turun. Nafasnya sesak. Bukan karena beban. Tapi karena dia tahu kenapa Liem Chay pingsan. Bukan karena gosip. Bukan karena cinta ke Yo Lan. Tapi karena Liem Chay tahu. Dia tahu Choa Hok udah berusaha. Dia tahu mereka udah ngumpulin uang. Dia tahu mereka tinggal kurang lima puluh tael. Lima puluh tael yang gak sempet mereka dapetin karena waktu berkhianat. Liem Chay pingsan karena dia gak tega. --- Klinik militer. Bau obat. Bau alkohol. Bau luka lama yang gak pernah ilang. Sinseh Ong Bun Hian—tabib tua dengan kumis tipis dan mata sipit yang udah melihat ribuan pasien—memeriksa Liem Chay dengan gerakan lambat tapi pasti. Jari-jarinya yang keriput meraba nadi di pergelangan tangan. Dadanya. Lehernya. “Ini kecapekan,” gumam Sinseh Ong. “Sama tekanan batin. Kerja terlalu keras. Bikin gincu, ngecek pembukuan beberapa toko, belum kerja militer… haiyaaah!” Choa Hok di sampingnya. Diem. Sinseh Ong menghela napas. “Dengar-dengar... dia naksir Kwee Yo Lan, ya? Yang sekarang dilamar pangeran? Kalian berdua kerja usaha sana sini biar si Liem Chay jadi sama Yo Lan, kan.” Choa Hok masih diem. Dia mengangguk. Pokoknya diiyain walaupun dia yang nyimpen perasaan. Bukan Liem Chay. Liem Chay sudah punya gebetan lain. “Haiyaaah... kasiannya.” Sinseh Ong menggeleng pelan, lalu berdiri, berjalan ke lemari obat di pojok. Botol-botol kecil berjejer rapi. Dia mengambil satu. Lalu satu lagi. “Orang jatuh cinta emang paling rentan. Gampang pingsan, gampang sakit. Apalagi kalah sama pangeran. Siapa yang gak mental?” Dia mencampur beberapa tetes cairan ke dalam mangkuk. Bau pahit langsung nyebar. Choa Hok gak ngejawab. Dia liat Liem Chay yang masih pucat, bibir kering, napas pelan. Di pelipis kiri, bekas luka kecil—sisa perang dua tahun lalu. Waktu itu Liem Chay nahan tebasan pedang yang ditujukan ke Choa Hok. Dia ingat Panglima Negara Utara menyerang dengan jurus Beruang Emasnya ke arah Tombak Darah Ular miliknya. Dia melawan. Tapi serangan itu tipuan. Wakilnya membawa Pedang Hantu untuk menusuk Choa Hok dari belakang. Liem Chay menggunakan jurus Plum Emas melawan Harimau—menahan jurus pedang itu dan membuat Wakil Panglima Negara Utara terpental, menjadi korban panah Crossbow. Walaupun sudah separah itu, Liem Chay tidak pingsan. Padahal chi miliknya tinggal lima persen. Ironisnya, ajudan sakti itu sekarang pingsan karena mental. Bukan karena jurus musuh. Bukan karena kehabisan chi. Ironis. Sinseh Ong menyuapi air Liem Chay. Pelan. Bibir ajudan itu bergerak refleks. Setelah beberapa teguk, Sinseh Ong mengganti dengan tonik pahit tadi. “Minum, Nak. Ini biar tensimu naik. Jangan sampe pingsan lagi,” kata Sinseh tua itu seolah-olah menyuapi cucu kecilnya. Beberapa menit kemudian, mata Liem Chay bergerak di balik kelopak. Jari-jarinya mulai gerak pelan. Lalu matanya terbuka. Samar. Kosong. Choa Hok masih berdiri di samping dipan. Badannya kaku. Kayak patung. Liem Chay nengok. Liat atasannya. Liat Sinseh Ong yang lagi bersihin peralatan. Liat dinding putih klinik. Liat langit-langit kayu yang retak di ujung. Ingatan mulai balik. Sedikit demi sedikit. Laporan. Pangeran. Undangan Sangjit. Lima puluh tael. Liem Chay duduk pelan. Tangannya gemetar. Lalu—tanpa aba-aba—dia memeluk Choa Hok. Bukan pelukan biasa. Pelukan ini kayak orang yang lagi tenggelam, meraih apa pun yang bisa dia gapai. Kepalanya nyangkut di dada Choa Hok. Tangannya mencengkeram punggung seragam jenderal itu. Choa Hok awalnya beku. Tangannya di samping tubuh. Gak gerak. Tapi kemudian—perlahan—tangannya naik. Balas memeluk. Mereka diem. Gak ada tangis. Air mata mereka udah kering—habis terbuang di pancuran bambu pagi tadi, habis terhisap oleh bantal di malam-malam sebelumnya, habis menguap karena gak ada lagi yang bisa keluar. Tapi dada mereka—dada mereka kembang kempis. Nafas mereka sesekali ngawur, putus di tengah, kayak orang yang gak bisa nahan sesuatu. Sinseh Ong berhenti bersihin peralatan. Dia liat mereka. Liat dua pria yang saling memeluk tanpa suara. Lalu dia menghela napas, mengambil handuk kecil, dan meninggalkan ruangan. Ada yang gak beres di sini, pikir Sinseh Ong. Tapi gak urusan gue. --- Satu jam kemudian. Liem Chay udah duduk di kamarnya. Badan masih lemas. Tapi matanya udah mulai fokus. “Jendral,” bisiknya. “Istirahat,” kata Choa Hok. “Besok lu pulang seminggu. Libur lu maju.” “Tapi—” “Istirahat. Itu perintah.”, katanya sambil melempar surat keputusan libur pasukan ke muka Liem Chay. Liem Chay tahu, Choa Hok tidak pernah melempar surat. Ia tau pasti Tiongkun dia emosi, dan yang bisa dia lakukan hanya nurut dan pasrah. Liem Chay menyesal karena terlalu berargumen sampai sempat menolak surat. Padahal Sinseh sudah memberikan surat keterangan istirahat juga karena resikonya besar. Liem Chay diem. Lalu dia manggut dan memungut surat itu. Ia tidak berani membantah. Choa Hok keluar. Pintu ditutup pelan. Di lorong, Choa Hok berdiri sebentar. Matanya kosong ke dinding seberang. Lampu minyak di sampingnya berkedip-kedip, hampir mati. Dia berjalan ke luar barak mencari sesuatu kesenangan. Choa Hok keluar menatap langit tanpa bintang. “Gua mesti cari kesenangan, walaupun itu sesat!”, bisiknya. --- BERSAMBUNGMalam itu, bulan bersinar terang. Kakinya keluar dari rumah prajurit Liem. Rasanya bulan dan bintang tersenyum bersamanya melihat Liem Chay mau Sangjit besok dan lusanya menikah. Tapi malam ini berbeda. Choa Hok tidak berjalan ke arah selatan—ke arah wisma dengan lampu merah temaram dan dupa yang menghangatkan dada.Dia berjalan ke timur, mengikuti Ah Pa Kwee dengan pakoa (papan tao) kecil yang selalu ditenteng di tangan kirinya.Ke arah rumah keluarga Kwee bersama rombongan mereka yang sibuk ngeliatin kotak make up, berbisik, kadang melihatnya sambil malu-malu.Bukan Kwee Yo Lan. Bukan keluarga penghianat yang hampir bangkrut itu. Yang rumahnya sederhana dengan teras bambu dan kursi kayu lapuk. Tapi Kwee yang lain. Kwee Eng Hwa. Cabang kaya. Cabang yang bergelimang emas perak dari usaha Hong Chui (Bahasa Mandarin bakunya Fengsui)—ilmu tata letak rumah, toko, dan makam yang konon bisa mengubah nasib.Pagar rumah ini dari besi tempa. Tinggi. Di atasnya ada ukiran naga dan phoenix—buka
Choa Hok terbangun.Matahari pas di atas kepala. Sinar putih terang menusuk celah-celah jendela, jatuh tepat di atas matanya. Dia mengerjap. Kerjap. Kerjap lagi. Perutnya keroncongan. Bukan keroncongan biasa. Keroncongan orang yang semalem cuma minum arak dan makan camilan asin seadanya.Dia mencoba bangun. Badan masih pegal. Kepala masih agak berat—bekas dupa dan arak semalam belum hilang seratus persen. Tapi perut protes terlalu keras. “Kruoooook”. “Haiyyyah! Ai ciak bue (minta makan nasi) nah!”, keluh Choa Hok. Makan. Harus makan.Choa Hok duduk di tepi dipan. Diam sebentar. Kumpulin tenaga. Lalu dia berdiri, jalan ke lemari, ambil baju bersih. Tng Sa baru. Wangi. Tidak kusut. Tidak belepotan kuah atau bau dupa.Dia panggil pelayan. Bukan pelayan barak. Pelayan rumah warisan keluarganya—pria tua yang setia meski gaji kecil, yang selalu ada meski cuma berdua dengan Choa Hok di rumah besar itu.“Tolong rapiin rambut,” kata Choa Hok.Pelayan itu mengangguk. Tangannya yang keriput tapi
Pagi datang lagi. Sama seperti kemarin. Tapi berbeda.Choa Hok pulang. Kalo kemarin dia buru-buru, takut telat apel, takut ketahuan, takut gosip menyebar. Hari ini? Santai. Jalan sempoyongan. Mata merah. Pakaian masih sama seperti semalam—Tng Sa (Hanfu) abu-abu lecek di siku dan lengan. Ikatannya pun longgar. Bau dupa untuk keperluan senang-senang dewasa masih nempel di kerah. Bau arak campur parfum wanita. Ditambah bonus bau keringatnya sendiri yang sudah mengering dan jadi bau asam pagi-pagi.Choa Hok gak mandi. Bodo amat. Libur seminggu. Gak ada apel pagi. Gak ada yang harus dia laporkan. Gak ada yang berani nanya.Libur.Dia berjalan menuju pintu rumahnya. Di depan pintu, sesosok bayangan berdiri. Bukan bayangan. Manusia. Pria. Bertumpu pada satu kaki, tangan disilang di dada. Wajahnya datar. Matanya tajam. Jakunnya naik turun—bukan karena takut, tapi karena nahan sesuatu.Liem Chay.Choa Hok berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mulai mengucur di kening, di belak
Choa Hok masih duduk di kursinya ketika siang mulai berubah menjadi sore. Lampu minyak di sudut ruangan akhirnya dinyalakan oleh ajudan yang lewat—bukan Liem Chay, tapi prajurit lain yang tugas sore itu. Itu artinya dia pulang, dan Tiongkun Ham akan segera duduk di sini.Dia menatap sayu ke arah pintu, lalu berdiri dan berjalan keluar pintu. Tiongkun Ham melihat sejawatnya dengan heran sampai melotot, seperti melihat orang lain. Tiongkun Choa akhirnya berjalan tanpa tujuan jelas, kakinya membawanya keluar barak, menyusuri jalan setapak yang familiar, menuju sebuah rumah di pinggiran kompleks militer.Rumah Liem Chay.Dia tetap mengetuk. Walaupun pintu setengah terbuka. Suara tawa dan percakapan terdengar dari dalam. “Eh, Tiongkun, masuk ayo”, ajak seorang ibu tua. Ibu Liem Chay yang sudah seperti ibunya sendiri. Choa Hok melangkah masuk.“Mau teh jahe atau teh kayu manis?”, tanya Ibu Liem Chay. “Teh Jahe, Ah Cim”, jawab Choa Hok sambil tersenyum hangat. Wanita tua itu menyajikan teh j
Kepala Choa Hok terasa seperti dihantam palu godam. Bukan palu biasa. Palu yang panas. Palu yang berdentum-dentum di pelipis kiri, merambat ke kanan, lalu berhenti di belakang mata. Nyeri.Dia buka mata. Samar.Langit-langit kayu. Bukan langit-langit baraknya. Langit-langit ini lebih rendah, lebih gelap, dengan ukiran bunga sederhana yang bikin kerasan meski tak mahal. Dan ada bau kemenyan yang masih tersisa di udara. Bau itu familiar—bau semalam. Bau wisma.Choa Hok duduk. Selimut tipis bergeser dari dadanya. Udara pagi menusuk kulit—dinginnya khas musim gugur, dingin yang bikin bulu kuduk berdiri. Di sampingnya, Liem Hoon masih berbaring, matanya pelan-pelan membuka.“Tuan…”, godanya manja sambil menyentuh dagu Choa Hok.Lelaki itu memejamkan mata. Napasnya berat. Coba mengingat semalam. Potongan-potongan: dupa yang menghangatkan dada, pakaian yang terbuka, rambut Liem Hoon yang basah di bahunya, suaranya yang bisik-bisik di telinga. “Jendral... jangan dipikir dulu. Nanti juga ada j
Malam itu, bulan bersinar terang. Terlalu terang buat suasana hati yang kacau.Choa Hok berjalan tanpa tujuan. Kakinya membawanya ke arah selatan, ke pasar malam yang biasanya ramai. Tapi malam ini dia gak berhenti di pasar. Dia lewati toko jimat. Lewati kedai mie yang masih buka. Lewati jembatan bambu yang berderit setiap kali ada yang lewat.Sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah bangunan.Papan kayu di atas pintu bertuliskan tiga aksara:Chhiu Hoe Lau (Wisma Bunga Musim Gugur).Choa Hok udah pernah ke sini sebelumnya. Tujuannya jelas: memasarkan gincu dan kosmetik. Memasarkan barangnya, tokonya, dan usahanya. Berjuang mencari uang demi cinta. Tapi malam ini—malam ini dia butuh lupa. Cuma sebentar. Gak usah lama. Cukup buat berhenti merasakan apa pun.Dia masuk.---Di dalam, lampu merah temaram. Bau kemenyan dan minyak rambut. Suara kecoa pelan dari sudut ruangan.Seorang wanita paruh baya—pakaian sutra biru, wajah bedak tebal—langsung mendekat.“Jendral. Wah, jendral malam-m







