Beranda / Zaman Kuno / Tiongkun Tan Choa Hok / KABAR DARI ISTANA DAN DURI DI HATI

Share

Tiongkun Tan Choa Hok
Tiongkun Tan Choa Hok
Penulis: The Bwee Lan

KABAR DARI ISTANA DAN DURI DI HATI

Penulis: The Bwee Lan
last update Tanggal publikasi: 2026-05-16 11:27:54

Langit Kerajaan Cia Agung lagi kacau balau. Perang saudara di mana-mana. Kabar dari utara bilang pasukan pemberontak udah rebut dua kota. Dari timur, stok beras mulai menipis. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ada kabar paling absurd yang bikin para perwira di garnisun timur geleng-geleng kepala.

Tan Siauw Kiat, perwira rendahan dengan seragam paling lusuh se-garnisun, dipanggil menghadap Kaisar. Sendirian.

Dia baru aja nyopot sepatu yang masih belepotan lumpur sawah. Perjalanan dari pos perbatasan ke ibu kota makan waktu tiga hari tanpa henti. Jenggotnya udah kayak sarang burung. Matanya merah kurang tidur. Dan sekarang, dengan badan masih bau keringat medan perang, dia harus berdiri di depan pintu istana yang tingginya lima kali lipat rumahnya.

Para Jendral yang lewat ngeliatin dia kayak ngeliatin kucing basah masuk kandang singa.

“Tan Siauw Kiat?” bisik salah satu Jendral dengan kumis tebal, suaranya gak usah dibisikin juga kedengeran. “Itu mah yang lima tahun gak naik pangkat gara-gara gak punya koneksi?”

“Koneksi? Dia punya apa? Utang kali.”

Tawa mereka berderai pelan. Seorang prajurit lewat, nunduk, gak berani angkat muka. Tan Siauw Kiat gak denger. Paling juga udah biasa.

Lima tahun. Dia udah lima tahun gak naik pangkat. Bukan karena gak becus. Bukan karena kurang sakti. Tapi karena di Cia Agung, urusan naik pangkat itu bukan soal seberapa banyak darah yang lo tumpahin buat negara. Tapi soal lo kenal siapa. Dan Tan Siauw Kiat? Keluarganya cuma punya sawah sepetak di pinggir hutan.

Dia masuk ke ruang singgasana dengan langkah gontai. Lututnya nyaris nyeret. Kapalan di telapak tangan kiri masih perih—bekas pegang tombak dua hari nonstop. Di singgasana, Kaisar Ong Ling Swi lagi duduk dengan raut muka yang susah dibaca. Bukan marah. Bukan senang. Kayak orang yang baru nemuin teka-teki dan belum bisa mecahin.

Di samping singgasana, ada kursi kecil. Di kursi itu, Pangeran Kecil—putra mahkota umur tujuh tahun—duduk meringkuk. Matanya sembab. Hidungnya merah. Udah dua hari sejak insiden penculikan, dan anak itu masih sesenggukan kalo gak ada yang ngeliat.

Tan Siauw Kiat berlutut. Dahi nyaris nyentuh lantai marmer. Bau keringat dan tanah dari seragamnya mulai nyebar pelan ke ruangan yang biasanya wangi cendana. Beberapa menteri di samping kiri nahan napas.

“Ampun Tuanku...” suaranya serak, pita suaranya masih kering karena tiga hari cuma makan kerupuk dan air sungai. “Hamba gak ngerti kenapa dipanggil...”

Kaisar gak jawab. Dia malah nengok ke putranya. Gerakannya pelan, sabar, beda banget sama suaranya yang biasa menggelegar di lapangan perang.

“Nak,” katanya, “ini bapaknya anak yang nyelamatin lu?”

Pangeran kecil angkat muka. Matanya yang sembab itu nyipit. Dia liat Tan Siauw Kiat dari ujung rambut yang acak-acakan sampe ujung sepatu yang belepotan. Lalu dia geleng pelan.

“Bukan, Yang Mulia.” Suara anak kecil itu masih sisa tangisan. “Yang nyelamatin putra adalah anaknya. Namanya... Tan Choa Hok. Geraknya cepet banget kayak ular!”

Tan Siauw Kiat ngedenger nama anak bungsunya disebut di ruangan sebesar ini. Jantungnya berdegup. Tangan kirinya, yang biasa megang tombak, mulai gemetar.

Kaisar nyengir. “Ular, ya?”

Dia bangkit dari singgasana. Langkah kakinya berat, tapi gak terburu-buru. Di setiap langkah, bayangan tubuhnya yang kekar nutupin cahaya matahari dari jendela samping. Satu per satu, menteri-menteri mundur pelan. Bukan karena takut. Tapi karena mereka tau: Kaisar lagi mau bicara serius.

“Perwira Tan,” suara Kaisar gak keras, tapi bergema di ruangan yang sunyi mendadak. “Anak lu yang baru umur sepuluh tahun, pake baju putra mahkota, sendirian ngadepin dua belas penculik bersenjata lengkap.”

Kaisar berhenti tepat di depan Tan Siauw Kiat. Jaraknya cuma tiga langkah.

“Dia gak lari.” Kaisar angkat satu jari. “Dia gak nangis.” Jari kedua. “Dia malah balikin ular berbisa mereka. Sampe para penculik itu pada mati sendiri.” Jari ketiga.

Dia nunduk. Menatap Tan Siauw Kiat yang masih berlutut, dahi nyaris nyentuh lantai.

“Gue investigasi sendiri kejadian ini,” Kaisar lanjut. “Anak lu berhasil bikin kewalahan dua belas orang dewasa. Pake akal. Pake nyali. Dia korbankan diri demi putra mahkota.”

Kaisar nyengir. Tapi senyum itu gak sampe ke mata.

“Lu? Bapaknya... cuma panik anter istri ke bidan.”

Sunyi.

Tan Siauw Kiat gak bisa angkat muka. Bukan karena malu. Tapi karena dari sudut mata, dia liat para Jendral yang tadi ketawa sekarang pada diem. Diem kayak orang yang baru sadar mereka udah salah baca situasi.

“Mulai hari ini,” Kaisar angkat suara, “Perwira Tan Siauw Kiat gue naikin pangkat jadi Komandan Batalyon.”

Suasana berubah. Para Jendral yang tadi diem mulai gelisah. Komandan Batalyon? Itu lompatan tiga tingkat. Orang butuh sepuluh tahun buat sampe situ.

“Keluarganya gue kasih rumah di ibu kota.” Kaisar balik ke singgasana, duduk lagi. “Dan anaknya... anaknya akan gue sekolahin di akademi militer kerajaan. Bareng putra mahkota.”

Gak ada yang protes. Gak ada yang brani. Cuma suara napas para menteri yang mulai berat.

Tan Siauw Kiat masih berlutut. Dahi masih nyaris nyentuh lantai. Tapi sekarang, di sela-sela jari tangannya yang gemetar, ada sesuatu yang basah.

---

Malam itu, Tan Siauw Kiat pulang. Langkahnya berat. Sepatu yang tadi pagi masih belepotan lumpur sekarang udah dibersihin sama pelayan istana. Seragamnya juga diganti. Tapi badan dia masih bau medan perang. Bau itu gak ilang cuma karena ganti baju.

Istrinya, Lim Kim Hwa, nyambut di depan pintu. Wajahnya cemas. Tangannya masih basah—baru aja cuci piring. Rumah bambu mereka kecil. Gak muat banyak orang. Tapi cukup buat lima orang duduk santai kalo gak ada yang bawa kabar aneh.

“Kenapa, Koh?” tanya Kim Hwa, matanya nyipit. “Kusut amat mukamu.”

Tan Siauw Kiat duduk di kursi bambu. Kursi itu udah berumur. Setiap digerakin bunyi kreek-kreek. Di halaman belakang, anak bungsunya—Tan Choa Hok—lagi jongkok. Di depannya, seekor ular sawah melingkar. Anak kecil itu gak takut. Dia malah nyengir, ngeliatin ular itu merayap perlahan di antara jari-jari kakinya.

Tan Siauw Kiat tatap tangan sendiri. Kasar. Kapalan di telapak kiri masih perih. Di telapak kanan, ada bekas luka sayatan yang udah sembuh tapi gak pernah ilang. Lima tahun. Lima tahun dia nahan tombak di medan perang. Nahan hujan. Nahan panas. Nahan lapar.

“Na... naik pangkat gue,” katanya lirih. Suaranya kayak orang lagi cerita mimpi, bukan kenyataan.

“Kok bisa?” Kim Hwa duduk di sampingnya. Wajahnya masih cemas.

Diam.

Angin malam masuk lewat celah dinding bambu. Bawa bau tanah basah dari kebun belakang. Di kejauhan, ada suara jangkrik yang mulai ribut.

“Gara-gara Choa Hok.”

Kim Hwa gak nanya lebih lanjut. Mungkin dia udah bisa nebak. Mungkin juga dia gak mau denger jawabannya. Dia cuma liat suaminya yang selama lima tahun gak pernah nangis, sekarang matanya merah kayak orang habis kena asap.

Air mata lelaki itu jatuh. Pertama kali dalam sepuluh tahun.

Bukan karena bahagia.

Tapi karena dia sadar: seumur hidup berdarah-darah di medan perang gak pernah dihargai. Tapi anak kecil yang cuma pura-pura jadi pangeran selama tiga jam, berhasil melakukan apa yang gak pernah bisa dia capai.

“Haiyaah...” dia geleng-geleng, ngelus kepala Choa Hok yang dari tadi udah berdiri di sampingnya tanpa suara. “Nasib lebih penting dari jasa. Gitu rupanya.”

Anak kecil itu gak ngerti. Dia cuma ngerasa aneh: kok Papa pegang kepalanya lama banget? Tapi dia diem aja. Tangannya yang tadi megang ular, sekarang megang lutut Papa yang kapalannya keras kayak batu.

---

Dua puluh lima tahun kemudian, di sebuah kantor di kompleks militer ibu kota, suara kresek memecah sunyi.

Letnan Kolonel Tan Choa Hok—anak kecil yang dulu main sama ular sawah—meremukkan gelas keramik di tangannya. Gak sengaja. Tapi juga gak sepenuhnya sengaja.

Darah netes di sela jari. Ngenes ke meja kayu jati, ngenyangin tumpukan laporan yang udah berdebu. Tapi dia gak ngerasain sakit. Bukan karena kebal. Tapi karena matanya lagi nempel di satu lembar gambar yang baru aja dikasih jaringan intelijen bawah tanah.

Gambar seorang cikia.

Dia lagi duduk di taman istana. Sore. Cahaya matahari setengah lima nyisa di ujung rambutnya yang disanggul sederhana. Tangannya lagi petik daun melati. Sederhana. Gak lebay. Mukanya bukan tipe cantik yang bikin orang nengok dua kali. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang teduh, kayak air kolam di tengah hutan. Air yang keliatan tenang dari atas, tapi gak ada yang tau dalemnya berapa depa.

Kwee Yo Lan.

Putri bangsawan rendah yang keluarganya hampir bangkrut. Statusnya terlalu rendah buat dianggep keluarga kerajaan. Tapi terlalu tinggi buat lelaki biasa kayak dirinya.

Choa Hok hela napas. Dadanya naik turun. Tangannya yang berdarah itu ditaruh di pangkuan, gak dibersihin.

Dia udah suka sama cikia ini sejak setahun lalu. Pertama ketemu di akademi militer—waktu Yo Lan jadi tamu undangan bapaknya yang pensiunan perwira. Waktu itu, di tengah keramaian acara pisah sambut, Yo Lan duduk di pojok. Sendirian. Bukan karena gak ada yang ngajak ngobrol. Tapi karena dia milih di pojok, baca buku soal taktik pertahanan kota.

Buku yang bahkan banyak perwira males bacanya. Buku yang sampulnya udah lusuh, pinggirannya penyok, kayak udah dibaca berkali-kali. Yo Lan bacanya sambil senyum kecil, kayak orang yang nemu teman lama di tempat sepi.

Saat itu Choa Hok jatuh hati. Bukan kepincut kayak remaja gatel. Tapi jatuh. Jatuh kayak orang yang baru sadar: selama ini dia ngukur segala sesuatu pake logika dan strategi. Ternyata ada satu hal yang gak bisa diukur.

Dia yang sejak umur sepuluh tahun dilatih baca musuh, baca niat, baca kebohongan—eh, malah gak bisa baca hatinya sendiri.

Gambar kedua jatuh di atas meja. Jatuhnya pelan, kayak daun kering. Tapi efeknya kayak palu godam.

Choa Hok langsung kaku.

Gambar yang sama. Cikia yang sama. Taman yang sama. Sore yang sama.

Tapi di sampingnya sekarang duduk sesosok pria jangkung. Pakaian emas, bordiran naga, rambut disanggul rapi. Tangannya nyodorin setangkai bunga anggrek langka—jenis yang cuma tumbuh di lereng gunung utara dan cuma mekar setahun sekali. Senyumnya Choa Hok kenal betul. Dia udah kenal senyum itu sejak dua puluh lima tahun lalu.

Pangeran Ong Kiat Seng.

Putra mahkota.

Kawan masa kecilnya.

Saudara yang dulu dia selamatin pake nyawanya sendiri.

Laporan intelijen yang nyertain gambar itu cuma satu kalimat. Tulisannya kecil, pinggirannya rapi, kayak orang yang nulis sambil gak enak hati.

“Yang Mulia Putra Mahkota mulai tunjukin ketertarikan pada Kwee Yo Lan. Frekuensi ketemu: tiga kali dalam dua minggu.”

Choa Hok pejam mata.

Di balik kelopak matanya, ada memori dua puluh lima tahun lalu. Waktu pertama kali dia sama pangeran kecil tukar baju. Waktu dia lepas semua giok dan tanda kerajaan yang dikasih pangeran, lalu pake sendiri. Baju itu kebesaran buat badannya yang kurus. Giok itu berat di leher yang masih kecil. Tapi dia pake. Karena kalo gak, yang nangis bukan cuma satu pangeran.

“Lu... takut?” tanya pangeran kecil waktu itu. Suaranya masih sisa tangis, mata masih belekan.

“Takut,” jawab Choa Hok jujur. Udara di leher dingin. Tangan dia gemetar. Tapi matanya udah mulai biasa liat gelap.

“Terus kok lu mau?”

Anak kecil yang kelak jadi Jendral Ular itu nyengir. Giginya masih tanggal satu. “Soalnya lu lebih keder dari gue.”

Kini, dua puluh lima tahun kemudian, senyum itu ilang.

Choa Hok buka mata. Dia tatap laporan itu sekali lagi. Lalu dengan gerakan pelan—sengaja pelan, kayak orang yang lagi motong tali yang udah diiket lama—dia robek jadi dua.

Suara kertas robek di ruangan sunyi. Keras. Jelas.

Bukan karena marah sama pangeran. Marah itu masih gampang. Marah bisa dibawa ke medan perang, bisa disalurin ke musuh, bisa dipake buat bakar semangat.

Tapi ini bukan marah.

Ini sakit. Sakit yang gak bisa ditombakin. Gak bisa dipotong pake pedang. Gak bisa dimatiin dengan strategi.

Dia tau: dalam politik kerajaan, suka sama cikia yang dilirik putra mahkota itu namanya bunuh diri. Dan dia yang pernah selamat dari dua belas penculik, ribuan karung racun, dan tiga kali perang saudara—gak pernah takut mati.

Tapi dia takut nyakitin orang yang dulu dia selamatin.

“Komandan...”

Suara ajudan dari luar pintu. Cuma satu ketukan. Pelan. Kayak orang yang udah nunggu lama tapi gak berani buru-buru.

Choa Hok buka mata. Kertas robek itu masih di tangan. Darah dari tadi masih netes pelan. Meja kayu jati udah punya noda merah baru.

“Apa?”

“Utusan dari Istana datang, Komandan.” Suara ajudan masih pelan. “Yang Mulia Putra Mahkota ngundang Komandan buat makan malam pribadi besok. Katanya... mau diskusi sesuatu.”

Choa Hok diem.

Di luar, matahari mulai condong ke barat. Bayangan jendela mulai memanjang di lantai. Di kejauhan, ada suara prajurit latihan. Teriakan komando. Dentuman kaki. Semua suara yang familiar. Yang udah dia denger setiap hari selama dua puluh tahun terakhir.

Dia tatap potongan-potongan gambar di tangannya. Wajah Yo Lan di satu sisi. Wajah pangeran di sisi lain. Dua lembar yang dulu satu, sekarang terpisah.

“Bilang,” suaranya datar, “gue dateng.”

Setelah langkah ajudan menjauh, Choa Hok jalan ke jendela.

Dari kantornya yang di kompleks militer, dia bisa liat puncak istana di kejauhan. Dulu, waktu dia masih kecil, puncak itu keliatan tinggi banget. Kayak tempat dewa-dewa. Sekarang dia tau: di sana cuma ada orang. Orang yang dulu dia selamatin. Orang yang sekarang lagi duduk di samping cikia yang dia suka.

Tangan kirinya berdenyut. Bukan denyut biasa. Denyut itu udah dia kenal sejak lahir—tangan yang nyimpen bisa ular, warisan dari gigitan malam kelahirannya. Biasanya tangan itu diem. Tapi kadang, di saat-saat tertentu, dia berdenyut. Kayak kasih peringatan.

“Dulu gue tulung lu, Pangeran...” bisiknya pelan. Cuma angin di luar jendela yang denger. “...Tapi sekarang lu jadi saingan gue.”

Dia tarik napas. Buang pelan.

“Haiyaah... pusing gue.”

Dia kepal tangan. Darah dari gelas pecah tadi masih basah di jari-jari. Darah itu hangat. Ngenes di sela-sela. Tapi dia gak bersihin.

Soalnya itu pengingat.

Dalam urusan cinta sama tahta, yang gak berdarah biasanya kalah sebelum bertarung. Dan Tan Choa Hok—anak ular, Jendral investigasi termuda di Cia Agung, satu-satunya lulusan akademi militer yang naik pangkat dua kali karena strategi, bukan koneksi—gak pernah terbiasa kalah.

Tapi kali ini, lawannya bukan musuh di medan perang.

Lawannya adalah saudara yang nyawanya pernah dia selamatkan.

Dan itu yang bikin tangan kirinya berdenyut lebih keras dari biasanya.

---

[BERSAMBUNG.]

"Cikia" Panggilan untuk nona/nona muda (Hokkien: 小姐 sió-chiá)

"Haiyaah" Ekspresi khas frustrasi/kesal

"Koh" Panggilan suami (kakak) dari istri

"Kepincut" Jatuh hati

"Keder" Grogi/gugup/gak berdaya

"Sembah" Hormat ala Tionghoa

—

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tiongkun Tan Choa Hok    ULAR YANG MENANTI PHOENIX

    Choa Hok berteriak. Minta dibebaskan. Suaranya menggema di dalam tombak. Tapi tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang bisa membebaskan dirinya.Dia sudah tidak punya tubuh. Sudah dikremasi. Abu-nya ditaruh di kelenteng keluarga Tan. Sekarang dia hanya arwah yang tidak bisa apa-apa. Dari mata tombak ular dia berteriak.Sehari setelah tombaknya hilang, Yo Lan datang di malam hari.Malam itu, Choa Hok sedang duduk di pondokan. Menatap bulan. Kacang rebus di tangan. Teh jahe di sampingnya. Sudah dingin. Dia belum sempat minum.Pintu pagar berderit. Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Tapi pintu itu terbuka sendiri. Yo Lan berdiri di ambang. Cadar masih menutupi wajahnya. Tapi malam ini, matanya—matanya menyala. Hijau. Bukan merah. Bukan hitam. Hijau giok."Yo Lan," kata Choa Hok, tanpa menoleh. "Masih belum puas?"Yo Lan melangkah masuk. Tidak bicara. Tangannya memegang sesuatu. Tombak. Tombak Darah Ular.Choa Hok menoleh. Matanya menyipit. Tidak kaget. Dia sudah tahu tombaknya hilang pagi

  • Tiongkun Tan Choa Hok    KERINDUAN YANG TELAH HABIS

    Musim berganti. Tahun bertukar. Daun-daun berguguran di musim gugur, lalu tumbuh lagi di musim semi. Begitu seterusnya. Seperti siklus kehidupan yang tak pernah berhenti.Anak-anak Choa Hok telah dewasa. Bun Kiat—putra sulungnya—kini menjadi pejabat administrasi seperti ayahnya. Bun Kian—yang dulu kawin dengan Teratai Bintang—kini mengelola bisnis kosmetik keluarga. Bun Kiong—yang dulu bikin Choa Hok pingsan delapan hari—kini menjadi saudagar rempah yang disegani. Mereka semua sudah menikah. Mereka semua sudah punya anak.Choa Hok sudah menjadi kakek tua rasa om-om. Rambutnya putih di pelipis. Wajahnya berkerut. Tapi matanya—matanya masih tajam. Masih waspada. Tidak semua yang tua itu lemah. Bahkan Pejabat Kelurahan yang baru selalu terpeleset memperkenalkan dia sebagai Ah Cek Choa Hok walaupun Ah Pa si pejabat dia tersinggung karena usia Choa Hok jauh di atasnya… harusnya yang pantas adalah panggilan Ah Pek.Demikian juga anak-anak Yo Lan. Tiga pangeran yang ambisius. Yang satu akhi

  • Tiongkun Tan Choa Hok    BIBIR HIJAU DAN MIMPI YANG MENGIKAT

    Choa Hok akhirnya bisa menikmati hidup. Bukan hidup mewah. Bukan hidup bergelimang harta. Tapi hidup normal. Hidup yang tidak perlu terus-menerus waspada, tidak perlu terus-menerus berpura-pura.Sebagai Diplomat yang mengutamakan kedamaian, ternyata lebih cuan dan untung. Bukan karena dia korup. Tapi karena diplomasi yang baik membuka peluang bisnis yang lebih luas. Hubungan dengan kerajaan tetangga yang baik membuat perdagangan lancar. Perdagangan yang lancar membuat pajak naik. Pajak yang naik membuat kesejahteraan rakyat meningkat.Dan Choa Hok tetap menekankan agar spionase tidak kendor. Dia tahu bahwa kedamaian bukan berarti tidak ada musuh. Kedamaian hanya berarti musuh sedang menunggu.Tapi kali ini, dia tidak lagi yang bertugas menjaga. Dia cukup memberi arahan. Cukup mengawasi dari jauh. Cukup menikmati hasil kerja timnya.Hari itu sore. Matahari mulai condong ke barat. Angin sore membawa bau tanah basah dari kebun belakang.Eng Hwa pulang dari istana. Biasa. Anter teh ke Per

  • Tiongkun Tan Choa Hok    JENDRAL YANG JADI PEJABAT ADMINISTRASI

    Dari pagi subuh, istana ricuh. Para Kasim dan Mentri rebutan. Suara mereka bergema di lorong-lorong istana, mengganggu burung pipit yang sedang sarapan di pohon beringin.“Gak bisa, gua tua… yang muda bantu yang tua. Choa Hok ikut gua! ” kata Mentri Administrasi. Tangannya gemetar—bukan karena tua, tapi karena semangat.“Bunga Anggrek melayang di Padang rumput, pokoknya ikut gua! ” balas Kasim Tio gak mau kalah walaupun pantunnya ga nyambung.Choa Hok duduk di kursi kayu di pojok ruangan. Minum teh jahe. Makan kacang rebus. Tersenyum kecil.Ya, dia mengundurkan diri jadi Tiongkun. Resmi.Kaisar sudah ga ada. Kaisar baru—Ong Kiat Seng—lemah di bidang tata negara. Dia tahu itu. Dia membutuhkan Choa Hok. Tapi dia juga takut Choa Hok terlalu dekat dengan Yo Lan.Maka perjanjian itu dibuat.Choa Hok mengangguk ketika Kiat Seng menyodorkan surat perjanjian. Dibaca. Diteliti. Tidak ada yang janggal.“Ho, Lah! ” kata Choa Hok. “Syaratnya: gua ga mau ketemu Permaisuri kecuali Permaisuri berdua

  • Tiongkun Tan Choa Hok    LIMA TAHUN

    Lima tahun berlalu. Choa Hok dan timnya kesal. Bukan kesal biasa. Kesal kronis. Kesal yang mengendap di tulang, di otak, di setiap rapat evaluasi kasus yang tidak pernah menghasilkan apa-apa.Tiongkun Hok—dulu Prajurit Hok, teman ke wismanya, sekarang kepala intelijen markas cabang—menatap tumpukan kertas di depannya. Laporan. Catatan. Kesaksian. Semua tidak jelas.“Lima tahun begini! ” bisiknya. Suaranya pelan, tapi penuh kekesalan. “Lima tahun ngumpulin bukti, nggak ada hasilnya. Lima tahun ngawasi Yo Lan, nggak pernah ketahuan. Lima tahun hidup dalam ketidakpastian. Ah Pa Kaisar harus ditutup kasusnya. ”, kata Choa Hok.Matanya sayu. Stempel itu terasa berat. Setiap langkah ke lemari “kasus tak terpecahkan” terasa seperti 10 ribu Li.Di lemari ruangan itu dia ingat surat “menjilat ludah sendiri” yang dia kirim ke Kiat Seng. Dia terpaksa mau kerja di Intelijen lagi. Lima tahun. Khusus kasus Kaisar. Kiat Seng yang oportunis pun bikin perjanjian: “Choa Hok dilarang menginvestigasi ka

  • Tiongkun Tan Choa Hok    INVESTIGASI MENTOK

    Ritual hari keenam mau dimulai. Matahari setinggi tombak. Sinar putih terang menembus jendela kamar tamu istana, jatuh tepat di atas wajah Choa Hok yang masih terbaring. Dia tidak bangun.Eng Hwa teriak-teriak. Bukan teriak panik. Tapi teriak kencang, khas perempuan yang sudah terbiasa mengatur puluhan karyawati di depot teh.“Hok! Hok! Bangun! ”Choa Hok tidak bergerak.Eng Hwa meraba keningnya. Dingin. Bukan demam. Bukan keringat. Dingin kayak orang yang kehabisan energi.Dia memanggil prajurit. “Tolong! Bawa suami gue ke klinik! ”Dua prajurit mengangkat Choa Hok dengan tandu darurat. Eng Hwa mengikuti di belakang. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Tangannya gemetar—bukan takut, tapi marah.Marah karena tidak tahu harus marah kepada siapa. Tapi mata Eng Hwa selalu ngeliat Yo Lan. Seolah-olah hatinya tau sesuatu hal yang otaknya ga paham.---Di klinik istana, Sinseh Ong memeriksa Choa Hok. Nadi. Mata. Lidah. Kening. Lama.“Ini kelelahan, ” katanya pelan. “Bukan kelelahan fisik. Tapi

  • Tiongkun Tan Choa Hok    TITIK NADIR

    Jendela itu terbuka pelan. Tanpa suara. Kayak hantu. Tapi Choa Hok udah tahu siapa di baliknya sebelum siluet pria berkerudung itu muncul.Pria itu melangkah masuk. Membuka kerudungnya dengan gaya sok keren. Protokol: Kaisar dan Pangeran harus tampak gagah di depan Kepala Intelijen. Choa Hok berwaj

  • Tiongkun Tan Choa Hok    INVESTIGASI CALON WANITA PANGERAN 

    Choa Hok membuka pesan itu. Kertasnya masih hangat—entah kena sinar matahari atau kena panasnya panah yang nembak ke papan.Kadang dia merasa kesal. Bukan sama isi pesannya. Tapi sama kebiasaan tentara kampung ini. Kenapa pesan mesti ditembak pake panah ke papan ga jelas di tiap ruangan? Sombong am

  • Tiongkun Tan Choa Hok    SAHABAT YANG TAK SENGAJA JADI SAUDARA

    Suara gemericik air dari pancuran bambu di sudut kediaman barak terdengar monoton. Tan Choa Hok berdiri mematung di bawah kucuran air dingin yang menusuk tulang. Musim gugur di Cia Agung memang gak kenal ampun—air bisa bikin kulit serasa disayat sembilu.Tapi Choa Hok tidak peduli.Dia membiarkan a

  • Tiongkun Tan Choa Hok    JANJI DI BALIK LENCANA EMAS

    Saat asyik bersembunyi di balik semak bunga botan (peony), Choa Hok melihat sesuatu.Bayangan. Bukan satu. Banyak. Geraknya pelan, hati-hati, terlalu teratur buat sekadar pelayan yang lewat. Dari balik dedaunan, dia lihat kilatan pisau pendek di tangan mereka.Mata Choa Hok menyipit. Perutnya berke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status