Share

Merasa Diawasi

Author: Risca Amelia
last update publish date: 2026-10-11 23:53:44

Sebelum Ares sempat membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Clara, suasana di atas karpet beludru mendadak riuh rendah.

Anak-anak lain yang sudah lama mengantre dan merasa bosan mulai berteriak protes. Mereka berebut ingin mendapat giliran bermain piano bersama guru baru mereka.

"Miss Clara! Giliran aku!" seru seorang anak laki-laki dari barisan depan, melompat-lompat kecil tidak sabar.

Bahkan, seorang anak perempuan berambut kepang bernama Isabelle maju tanpa ragu. Ia menarik lengan baju Ares
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Merasa Diawasi

    Sebelum Ares sempat membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Clara, suasana di atas karpet beludru mendadak riuh rendah.Anak-anak lain yang sudah lama mengantre dan merasa bosan mulai berteriak protes. Mereka berebut ingin mendapat giliran bermain piano bersama guru baru mereka."Miss Clara! Giliran aku!" seru seorang anak laki-laki dari barisan depan, melompat-lompat kecil tidak sabar.Bahkan, seorang anak perempuan berambut kepang bernama Isabelle maju tanpa ragu. Ia menarik lengan baju Ares agar mundur dari bangku piano."Ares, minggir! Giliranku sekarang! Kau sudah terlalu lama di sana!"Ares yang tidak ingin berkelahi dengan teman sekelasnya hanya mengerjap. Ia kemudian tersenyum ramah tanpa beban.“Oke, Isabelle. Aku akan turun dari kursi," kata Ares santai.Bocah lelaki itu menoleh ke arah Clara sambil melambaikan tangan kecilnya. "Miss Clara, nanti lagi kita bicara, ya. Isabelle ingin bermain piano juga."Setelah berkata demikian, Ares berbalik dan mundur dengan tertib. Ia kem

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Siasat Penuh Muslihat

    Selesai memanggil semua anak yang namanya tertera di lembar presensi, Clara berdiri di depan papan tulis putih.Sembari menatap anak-anak didiknya dengan senyuman ramah, Clara memegang sebuah spidol hitam. Tangannya menuliskan deretan notasi angka yang sederhana."Baiklah, anak-anak, perhatikan ke depan," suara Clara mengalun merdu, mengisi setiap sudut ruangan."Sebelum kita mulai bernyanyi, kita harus mengenal dasar notasi. Coba tirukan Miss Clara… Do-Re-Mi-Fa-Sol."Anak-anak berusia lima tahun itu serempak menirukan suara Clara dengan penuh antusias. Suara-suara kecil bernada tinggi bergemerincing memenuhi ruangan.Clara mengangguk-angguk puas. Ia membiarkan suasananya tampak menyenangkan di permukaan, sementara pikirannya terus berputar mencari cara untuk segera mendekati Ares.Setelah beberapa menit menjelaskan dasar-dasar teori lagu, Clara menutup buku catatannya dengan anggun."Nah, teori saja tidak cukup. Sekarang, mari kita pindah ke ruang musik. Di sana ada piano besar yang

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Guru Musik yang Mencurigakan

    Sisa malam itu seakan merangkak lambat bagi Sabiya. Di atas ranjang besar, ia berbaring dengan hati yang sangat gelisah. Sabiya bolak-balik mengubah posisi tidurnya, mencoba mencari ketenangan yang tak kunjung datang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan helikopter yang membawa Roman menembus langit malam selalu berputar di kepala.Baru menjelang pukul tiga dini hari, Sabiya terlelap dalam tidur yang gelisah. Namun, waktu istirahat yang singkat itu seolah berlalu dalam sekejap. Sinar matahari pagi hari Senin menyusup masuk melalui celah tirai, menandakan pukul enam pagi telah tiba. Sabiya langsung terbangun dari tidurnya. Meski matanya terasa berat dan kepalanya sedikit pening, ia segera bangkit untuk membersihkan diri.Langkah kakinya yang senyap membawa Sabiya ke depan pintu kamar tidur si kembar. Ketika Sabiya mendorong pintu itu perlahan, ia melihat Ares dan Altair masih meringkuk di bawah selimut tebal. Tanpa menimbulkan suara berisik, Sabiya mendekat dan duduk di tepi r

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Takdir Perpisahan

    Setelah menerima bingkai lukisan dan toples burung kertas penuh doa dari kedua putranya, Roman menyuruh Ares dan Altair mendekat. Dengan tatapan penuh kasih sayang, tangan kokoh pria itu mengelus lembut rambut tebal si kembar secara bergantian."Sekarang, kalian tidur yang nyenyak," tutur Roman.Ares dan Altair mengangguk patuh. Dengan senyuman cerah di wajah mereka, si kembar berpamitan serempak.“Selamat malam, Papa... selamat malam, Mama."Setelahnya, kedua bocah itu berlari kecil menuju kamar tidur mereka, meninggalkan keheningan yang manis di ruang tengah.Sabiya menatap kepergian anak-anaknya dengan dada yang membuncah oleh rasa haru. Kemudian, ia melangkah mendekati Roman sambil membawa nampan berisi teh lavender."Ayo, Roman... kita ke kamar," ajak Sabiya lembut.Roman mengangguk. Dengan tumpuan kruknya, pria itu mengikuti langkah Sabiya menuju kamar tidur."Letakkan dulu hadiah dari Ares dan Altair di sini, lalu minumlah tehmu selagi hangat."Sesuai perkataan Sabiya, Roman me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kejutan untuk Papa

    Di sisi lain apartemen, di dalam kamar tidur anak-anak yang tertutup, Sabiya tengah sibuk memberikan petunjuk rahasia kepada Ares dan Altair."Ingat, anak-anak, kerajinan tangan ini harus selesai," ucap Sabiya sambil membantu Ares melipat kertas origami.Altair dan Ares mengangguk antusias. Dengan berbekal gunting kertas, lem, dan bahan-bahan yang baru saja mereka beli di toko alat tulis tadi, si kembar bekerja sama dengan penuh konsentrasi.Ares asyik melipat kertas origami, sementara Altair dengan teliti memoleskan cat metalik di atas karton hitam.Sabiya tersenyum melihat keseriusan kedua putranya. Ia mendekat, lalu berbisik memberikan arahan."Ares, Altair... di bagian bawah lukisan dan burung kertas, tuliskan 'Papa' ya."Mendengar kata tersebut, tangan Ares seketika terhenti. Bocah itu mengerjap heran, menatap ibunya dengan bola mata yang membesar."Papa?" tanya Ares tak percaya. "Jadi, Paman Roman itu adalah Papa kami, Ma? Bukan Papa Jetro?"Sebelum Sabiya membuka mulut untuk me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Jaga Istri dan Anakku

    Setelah menyematkan cincin di jari manis Sabiya, Roman mengecup punggung tangan wanita itu. Kemudian, ia mengambil cincin pria dari dalam kotak beludru tersebut.Roman meletakkannya di telapak tangan Sabiya, sembari menatap ibu dari anak-anaknya itu lekat-lekat."Sekarang, giliranmu, Sayang," bisik Roman parau. "Sematkan cincin ini di jariku.”Sabiya menelan ludah, berusaha menahan rasa haru yang mendesak di tenggorokannya. Dengan jari-jarinya yang sedikit bergetar, ia mengambil cincin pria berukuran lebih besar itu.Perlahan, dengan penuh kesungguhan, Sabiya menyelipkan cincin berukir angsa tersebut ke jari manis kiri Roman. Setiap sentuhan jarinya pada kulit pria itu seolah menyalurkan seluruh doa dan harapan, agar keluarga mereka bisa utuh kembali. Di meja sebelah, Ares dan Altair menyaksikan momen pertukaran cincin itu dengan mata membulat. Ares yang bertepuk tangan lebih dulu, diikuti oleh Altair. Sebelum si kembar sempat bertanya, Roman sudah berdiri lebih dahulu. Ia melirik j

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghapus Jejakmu

    Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bantu Aku, Paman

    Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status