"Nyai Anom." Adi lebih dulu menyapa, tapi lelaki itu tidak beranjak dari duduknya, hanya mengangguk.Puspa juga hanya mengangguk sebelum kemudian bertanya, "Bagaimana enam setel perhiasan yang kuminta? Aku akan mengambil semuanya hari ini."Adi berdeham. "Di sini," katanya sambil berbalik, meraih enam kotak kayu kecil yang telah disusun dengan rapi. "Sudah saya pisahkan."Puspa menatap dengan teliti. Perlahan sudut bibirnya terangkat kecil. "Bagus." Ia berjongkok perlahan, hingga membuat Asri di belakangnya tersentak—tapi tidak bisa berbuat apa pun. Puspa tidak sadar akan hal itu, ia justru bertanya, "Perhiasan apa yang kau buat?""Anda bisa melihatnya sendiri, Nyai Anom." Adi mengulukan tangannya, membuka enam kotak kayu sederhana itu.Kali ini Puspa yang berdeham. "Tusuk Rambut, Gelang, dan Cincin." Puspa diam sejenak, ia kembali fokus memperhatikan detail dan kembali tersenyum kecil. "Ukirannya tidak seragam. Tusuk rambut yang paling indah.""OHHHHH!"Puspa tersentak dengan suara i
Read more