Dana lelah. Helaan napasnya terdengar pelan. "Adi, rendam kepalamu dalam bakul es dulu agar kau bisa fokus." "Aku fokus," jawab Adi, setelah tadi menjatuhkan palu dan menyenggol batu yang akan ia poles. Sudah jelas, Dana mendengkus, tapi tak acuhkan sajalah, api di hadapannya lebih penting daripada apa yang sedang berkecamuk di kepala rekan bekerjanya itu. Asal pesanan dan permintaan yang masuk selesai dengan baik, semuanya pun baik-baik saja, bukan? Tak berapa lama, Adi berganti kegiatan, ia mulai menghaluskan tepian sebuah cincin, dan detik itu juga aroma sedap malam menyentuh indra penciumannya. Tangannya berhenti. Aroma itu begitu dikenalnya. Bukan karena sering tercium di tokonya, melainkan karena pemiliknya pernah berdiri di hadapannya, memilih perhiasan dengan ketelitian yang tidak biasa. Adi mengangkat wajah. Ia melihat langsung jika Puspa sudah berada di ambang pintu, ditemani Tilar dan Asri. Entah mengapa, dadanya terasa lebih lapang ... lega. Perasaan itu datang beg
Read more