LOGIN“Gue nggak boleh lari sekarang,” bisik Alya.Suara Alya terdengar sangat pelan di antara isak tangisnya yang tertahan. Tangannya yang gemetar menyapu air mata dingin di pipinya secara kasar.Rasa sakit hati akibat kenyataan bahwa beasiswanya hanyalah umpan palsu sempat membuat kakinya ingin berlari menjauh dari gedung mencekam ini. Namun, Alya memaksakan dirinya untuk tetap bertahan di balik celah pintu.Ingatan Alya mendadak melayang pada pesan Revan. Revan memintanya untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa dan tetap bertahan.Alya butuh informasi. Dia harus tahu apa rencana sebenarnya dari ayah dan anak gila kuasa itu terhadap dirinya dan Revan, agar dia dan Revan bisa menyusun rencana pembalasan.Di dalam ruangan kerja yang luas itu, suara langkah kaki Iwary terdengar berjalan mendekati meja kerjanya.“Terus rencana Papa selanjutnya apa pas malam bulan purnama nanti?” tanya Vanya, menyuarakan rasa penasarannya. “Bukannya selama ini kita udah cukup dapat ekstrak darah peraknya Revan?”
“Umpan beasiswa...?” bisik Alya.Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam di balik embusan angin pendingin ruangan yang keluar dari celah pintu. Alya masih berdiri kaku di balik dinding, memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.Dunia Alya rasanya benar-benar runtuh seketika.Ingatannya melayang kembali ke hari di mana surat penerimaan Beasiswa Penuh Universitas Cakrawala tiba di Panti Asuhan Kasih Bunda.Alya ingat betul bagaimana Ibu Panti menangis terharu sambil memeluknya erat-erat hari itu. Alya ingat bagaimana adik-adik pantinya menatapnya dengan penuh rasa bangga, menganggap Alya sebagai sosok teladan yang berhasil membuktikan bahwa anak panti miskin pun bisa sukses lewat jalur prestasi.Alya telah belajar setengah mati setiap malam. Dia mengorbankan waktu tidurnya demi mempertahankan nilai akademisnya agar beasiswa itu tidak dicabut.Namun sekarang, seluruh kebanggaan dan kerja keras yang dia bangun selama ini hancur berantakan. Semua itu ternyata hanyalah skenario palsu yan
Alya menahan napasnya rapat-rapat. Dia semakin merapatkan telinganya ke celah pintu kayu yang terbuka sedikit. Suara Dekan Iwary dari dalam ruangan terdengar begitu menuntut dan tak sabar.“Apa maksudmu, Vanya? Jangan bertele-tele kalau ngomong,” ulang Dekan Iwary dengan nada suara yang semakin keras dan kesal ketika Vanya hanya menghela napas.Terdengar suara gesekan kursi kulit mahal saat Iwary menegakkan posisi duduknya di balik meja kerja raksasa.Vanya melangkah dua tindak lebih dekat ke meja ayahnya. Suara ketukan hak sepatunya terdengar melambat, dipenuhi oleh kepuasan yang luar biasa.“Alya Senandika itu seorang Penenun Realita, Pa,” desis Vanya mantap. “Dia seorang Weaver!”Keheningan mendadak menyergap ruangan kerja dekan yang luas itu.Alya yang berada di balik pintu merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Tangan kirinya mencengkeram dinding beton yang dingin untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas.“Weaver...?” cicit Dekan Iwary pelan.Suara pria tua
‘Nggak bisa. Mendingan Nggak ke sini. Gue harus pergi dari sini...’ pikir Alya.Tumit sepatu Alya sudah berputar setengah langkah di atas lantai marmer yang dingin. Ketakutan yang melumpuhkan membuatnya ingin segera memutar balik tubuhnya dan berlari kencang menuruni anak tangga lantai tiga Gedung Rektorat.Alya sekali lagi menatap papan kuningan di dinding: RUANG KERJA DEKAN - PROF. DR. IWARY.Nama itu terasa seperti nama seorang algojo di dalam kepalanya.Ingatan Alya mendadak tertuju pada tatapan mata Revan di bawah pohon beringin tadi. Pria itu menyuruhnya tetap tenang melalui tatapan mata, tapi melangkah masuk ke ruangan ini rasanya seperti berjalan secara sukarela menuju tiang gantungan.Namun, sebelum kakinya sempat melangkah lari ke arah tangga utama, sebuah suara dari balik belokan lorong mendadak menghentikan gerakannya.Tuk. Tuk. Tuk.Irama ketukan sepatu hak tinggi itu terdengar sangat familiar, melangkah mantap di atas lantai marmer. Vanya sedang berjalan menyusuri loron
‘Gue harus tahan. Gue nggak boleh kepancing,’ pikir Alya.Alya masih berdiri mematung di tengah koridor Fakultas Sastra. Bahu kanannya masih terasa ngilu dan panas akibat cengkeraman keras Vanya dan tekanan Cincin Segel wanita itu.Suara tawa angkuh Vanya dan dua pengikutnya perlahan-lahan menghilang di ujung lorong.Alya menghembuskan napas yang sedari tadi ditahannya, mengusap bekas cengkeraman Vanya di kemeja flanel kusamnya dengan tangan gemetar.Ancaman Vanya yang dibisikkan di telinganya tadi masih bergaung sangat jelas, meneror pikirannya.'Nikmatin sisa-sisa hari tenangmu di kampus ini, Alya.'Alya menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga terasa perih. Dia menundukkan kepalanya lebih dalam, memaksakan kakinya melangkah masuk ke dalam ruang kelas.Sepanjang jam perkuliahan, Alya mempertahankan aktingnya, berpura-pura menjadi mahasiswi lemah dan ketakutan di depan dosen dan teman-teman sekelasnya.Dua hari berlalu sejak ancaman Vanya di koridor itu. Dua hari pula dia tidak be
“ALYA?! YA TUHAN, ALYA?!”Jeritan histeris Rini memecah keheningan subuh di kamar asrama nomor 204. Botol minum yang sedang dipegang Rini terlepas begitu saja dari tangannya, jatuh menghantam lantai keramik dengan bunyi brak yang nyaring.Rini berlari menerobos ruangan, langsung menerjang dan mencengkeram kedua bahu Alya dengan sangat kuat. Matanya yang sembab menatap wajah Alya dengan campuran antara rasa tidak percaya, marah, dan kepanikan yang membuncah.“Lo dari mana aja selama empat hari ini, hah?!” bentak Rini. Suaranya pecah, air mata langsung meluncur deras membasahi pipinya. “Gue nyariin lo ke seluruh kampus! Gue melabrak Revan! Gue pikir lo udah mati diculik Vanya!”Rini mengguncang-guncang tubuh Alya dengan gemetar hebat, memeriksa sekujur tubuh Alya untuk memastikan sahabatnya itu tidak terluka parah.Alya menelan ludah dengan susah payah. Hatinya seperti diiris-iris melihat Rini yang menangis histeris karena mencemaskannya. Namun, mengingat instruksi Revan di loteng tadi,
"Lo kenapa lagi sih, Al? Dari balik selimut suaranya kedengaran kayak orang lagi nahan sesak gitu," suara Rini memecah keheningan kamar asrama sore itu.Alya sudah tidak ada jam kuliah sedangkan Rini bersiap-siap hendak menghadiri jam kuliah sorenya.Alya tidak menjawab. Dia semakin menenggelamkan
"Al, lo bengongin gantungan kunci itu lagi?" tegur Rini yang baru saja selesai memakai masker wajah.Alya yang sedang memerhatikan gantungan kunci yang ada di atas meja belajarnya tersentak, lalu cepat-cepat memasukkan benda itu ke dalam sakunya."Enggak, Rin. Gue cuma mikir, gimana cara ketemu Kak
“Ini lewat mana sih ya?” bisik Alya memerhatikan sekitar dengan bingung.Malam di Universitas Cakrawala ternyata jauh lebih menakutkan daripada yang Alya bayangkan. Lampu-lampu jalan di area taman belakang gedung Sastra banyak yang padam.Alya mempercepat langkahnya, sesekali melirik peta digital d
Brak! Brak! Brak!Alya melonjak kaget saat gedoran itu terdengar lagi. Jantungnya berdegup kencang. Gedoran pintu itu tidak terdengar seperti sapaan ramah dari penghuni asrama lainnya. Itu adalah gedoran penuh tuntutan."Buka pintunya! Saya tahu benda itu ada di kamu!"Suara berat yang formal itu k







