Sementara itu, Ivy hanya bisa terdiam menatap lekat wanita di hadapannya. Lilia yang ada di depannya sekarang benar-benar seperti orang yang berbeda jauh dengan Lilia di dalam memorinya. Dahulu, ibunya itu dipenuhi rasa putus asa, frustrasi, dan selalu menatapnya dengan pandangan kosong yang menyakitkan."Ivy, kamu kenapa, Nak? Ada yang sakit?" tanya Lilia lagi, membuyarkan lamunan Ivy."Mommy..." lirih Ivy, suaranya terdengar bergetar menahan gejolak rindu sekaligus perih. Tanpa aba-aba, Ivy langsung memeluk erat tubuh Lilia.Wanita paruh baya itu sempat tersentak terkejut mendapatkan pelukan mendadak dari sang anak. Namun perlahan, senyum tulus terbit di bibirnya."Iya, kenapa sayang? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Lilia lembut, mengusap-usap punggung Ivy dengan penuh kasih sayang.Tepat saat itu, sesosok gadis muda melangkah keluar dari arah dapur seraya membawakan dua cangkir teh hangat. Gadis itu adalah Kinanti. Begitu melihat Ivy, sepasang netra Kinanti berbinar. Di kehidupan
Read more