Dokter Celine tersenyum menatap Ivy yang terdiam. Ia, meletakkan pulpennya, lalu menyodorkan cangkir teh herbal yang mulai hangat ke dekat tangan Ivy."Diminum dulu tehnya, Ivy. Biar kamu lebih rileks," ujar dr. Celine lembut.Ivy menurut. Ia menyesap teh itu sedikit, merasakan kehangatan menjalar di tenggorokannya, meski rasa penasaran di dadanya masih bergemuruh hebat. "Dokter... tidak berpikir kalau aku gila, kan?""Tentu tidak," dr. Celine tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja. "Dalam dunia kedokteran jiwa, fenomena yang kamu alami ini disebut dengan Recurring Dream—mimpi yang berulang. Biasanya, mimpi seperti ini bukan sekadar bunga tidur biasa, melainkan cara otak kita untuk menyampaikan sesuatu.""Menyampaikan sesuatu? Maksudnya bagaimana, Dok?" tanya Ivy cemas."Ada dua kemungkinan secara medis," dr. Celine menjelaskan dengan nada tenang yang profesional. "Pertama, mimpi itu adalah bentuk repressed memory—memori masa kecil yang sangat traumatis, y
Read more